30
Des
09

Gus Dur: Menegaskan Pluralisme di Indonesia

Beruntungnya kita, rakyat Indonesia, pada suatu masa pernah memiliki presiden seperti Abdurrahman Wahid. Sikap tegasnya terhadap pluralisme membuat kita belajar memahami bahwa rakyat Indonesia memang pluralis dan juga belajar menghargai perbedaan.

Jasa Gus Dur yang tak terlupakan adalah keputusannya mencabut PP No 14 Tahun 1967 yang berisi larangan atau pembekuan kegiatan-kegiatan warga Tionghoa. Ketika PP tersebut masih berlaku, peribadatan umat Konghucu dan aktivitas-aktivitasnya harus dipendam. Umat harus sembunyi-sembunyi untuk berdoa di kelenteng.

Setelah lengser dari jabatan presiden, ia tetap tegas memperjuangkan prinsip-prinsip pluralitas. Saat Ahmadyah ditolak dimana-mana, Gus Dur mengatakan bahwa umat Ahmadyah harus dilindungi. “Jika Indonesia tidak lagi melindungi kebebasan beragama, maka negara kita ibarat memiliki UUD 1945 tetapi tidak mempunyai gigi dan negara kita tidak mempunyai dasar sama sekali.”

Mengapa banyak orang yang menolak pluralisme? Menurut Gus Dur, ini akibat ketidaktahuan mereka atas sejarah lahirnya bangsa Indonesia. Tradisi menghargai perbedaan sudah ada sejak jaman kerajaan-kerajaan Sriwijaya hingga ke Jawa sebelum bangsa Indonesia berdiri. Bahkan pada masa Kerajaan Majapahit, muncul semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu. Prinsip yang dipopulerkan oleh Mpu tantular ini tetap digunakan oleh bangsa Indonesia sampai sekarang.

Lalu bagaimana menghadapi masalah pluralisme ini? Gus Dur memiliki solusinya, yaitu bangsa Indonesia harus membangun batasan bersama. Batasan itu  adalah sikap menghargai pluralisme, termasuk saat membahas Undang-undang Dasar negara. Karena batasan ini tidak pernah dibicarakan maka terus muncul konflik antar kelompok, yaitu antara kelompok yang menganggap dirinya paling benar dengan kelompok yang menganggap bahwa Indonesia merupakan kesatuan dari sejumlah pandangan yang berbeda. Namun bagaimanapun sulitnya, perbedaan itu tetap harus didialogkan agar setiap orang belajar bertenggang rasa.

Terima kasih Gus atas pemikiran-pemikiran yang menyuarakan perdamaian di tengah-tengah situasi dimana perbedaan selalu dijadikan alasan perpecahan. Semoga pada suatu masa Indonesia bisa memiliki sikap menghargai perbedaan dan perbedaan tidak lagi dijadikan alat politik untuk memecah belah.

Pergilah dalam damai, Gus. Biarkan kami tetap berjuang untuk perdamaian.


Foto: caktips.wordpress.com

19
Des
09

memelihara konflik agama

Beberapa hari yang lalu, seorang teman menulis di status facebook-nya tentang kekecewaannya kenapa akhir-akhir ini banyak grup di facebook yang menyebarkan kebencian antaragama. Dan dua hari yang lalu, kita mendengar ada sekelompok massa merusak sebuah gereja yang sedang dibangun di Bekasi. Hal-hal semacam ini terus mewarnai kehidupan kita sehari-hari di negeri tercinta kita. Perbedaan agama terus-menerus menjadi alat untuk mengadu domba dan memicu kerusuhan.

Tampaknya kita perlu terus belajar dari negeri-negeri lain yang berhasil meminimalisir konflik agama. Salah satunya adalah Mesir. Di negeri Mesir, konflik agama jarang  terjadi. Para tokoh agama Islam Mesir memperbolehkan kaum Muslim menyampaikan ucapan selamat Natal dan mengikuti perayaan Natal. Mereka juga menghadiri undangan perayaan Natal  umat Kristen. Begitu pula sebaliknya. Para tokoh agama Kristen di Mesir juga mengucapkan selamat dan mengikuti perayaan hari besar keagamaan umat Muslim.

Peran para tokoh agama memang besar dalam mencegah konflik agama. Mengapa di Indonesia para tokoh agama kurang berperan? Padahal konflik agama tergolong tinggi di sini. Menurut Hasibullah Satrawi, aktivis Moderate Muslim Society, dalam tulisannya di harian Kompas, hal ini disebabkan masih banyak tokoh agama yang terlibat dalam kehidupan politik. Kalaupun tidak, sikap mereka terhadap agama lain dimanfaatkan oleh para politikus. Para tokoh agama sendiri juga tidak memberi contoh kepada umat dengan memberikan selamat atau menghadiri perayaan keagamaan umat agama lain.

Fenomena lain adalah masalah kemiskinan. Hidup didera kemiskinan terus-menerus menyebabkan banyak orang menerima tawaran untuk melakukan sesuatu dengan imbalan uang. Mereka bahkan tidak mengerti untuk apa sebenarnya mereka malakukan hal itu, kecuali demi mendapatkan sejumlah uang. Orang-orang miskin jualah yang pada akhirnya dikorbankan. Mereka lah yang ditangkap dan masuk bui. Sementara para provokator yang tak bertanggung jawab terus bergerilya memengaruhi orang miskin lainnya.

Dibutuhkan gerakan nasional untuk menyadarkan banyak orang tentang pentingnya perdamaian. Dibutuhkan persatuan tokoh agama, tidak hanya di tingkat elite namun juga di akar rumput. Dibutuhkan niat bersama untuk mewujudkannya.

Selamat Tahun Baru Hijriah untuk kaum Muslim, dan Selamat Natal untuk umat Kristiani.

19
Nov
09

gerakan perdamaian baku bae

Masyarakat Indonesia sejatinya adalah masyarakat yang menghargai orang lain dan senang hidup damai. Hal ini tampak dari respon masyarakat dalam menghadapi konflik yang terjadi di antara mereka. Nilai-nilai budaya dihidupkan dan dimaknai lagi untuk mengatasi konflik.

Baku bae adalah salah satu contoh nilai budaya yang digunakan untuk mendamaikan kelompok Islam dan Kristen dalam pertikaian di Ambon yang terjadi pada tahun 1999. Baku bae, artinya saling berbaikan, dijadikan sebuah gerakan oleh rakyat.

Gerakan ini diawali oleh beberapa aktivis LSM baik dari kalangan Islam maupun Kristen. Mereka membentuk panitia bersama untuk menyelesaikan konflik. Kegiatan pertama yang mereka lakukan adalah memfasilitasi pertemuan formal dua belas tokoh kelompok Muslim dan Kristen Maluku di Jakarta. Pertemuan ini bukan tanpa pertikaian. Tetap terjadi saling menyalahkan di antara kedua kelompok tersebut. Namun, justru karena mereka dapat mengungkapkan apa yang mereka rasakan justru pada akhirnya mereka saling memahami pendirian masing-masing kelompok, dan bahkan menghasilkan naskah yang disebut “Suara Hati Korban Kerusuhan Maluku”.

Pertemuan pertama dilanjutkan dengan pertemuan kedua di Bali yang diikuti 40 tokoh dari kedua kelompok. Disusul pertemuan ketiga di Yogyakarta melibatkan 80 orang yang terdiri dari para korban, pemuka agama, tokoh adat, para kapitan perang, dan tokoh-tokoh intelektual. Di sinilah muncul kesepakatan untuk membuka tempat-tempat umum yang bersifat netral seperti tempat-tempat kegiatan ekonomi, pendidikan, dan pelayanan kesehatan. Baku Bae menetapkan dua tempat netral di Nania dengan melibatkan komunitas Baguala-Passo (Kristen) dan komunitas jazirah Leihitu (Muslim) dan di Pule dengan melibatkan masyarakat kota di sekitar Pohon Puleh, Ambon. Setelah hal ini disepakati, mereka membentuk tim investigasi independen untuk menemukan akar masalah konflik Maluku.

Penyelesaian masalah seperti yang dilakukan masyarakat Ambon dapat dicontoh oleh masyarakat lain. Bukan hanya untuk menyelesaikan konflik saat konflik terlanjur terjadi, namun juga untuk mencegah konflik. Sudah saatnya nilai-nilai budaya yang arif bijaksana perlu digali lagi, diingat lagi, dan diterapkan lagi agar konflik-konflik berdarah tidak terulang. Para provokator konflik akan terus muncul namun kekuatan rakyat lah yang dapat meredam mereka.

09
Nov
09

oase perdamaian

OaseKonflik Israel-Palestina belum juga usai sampai sekarang. Bahkan seolah-olah menjadi konflik yang tak akan pernah selesai. Kalau di Jalur Gaza terjadi perang terbuka, di negeri kita perbedaan etnis dan agama seperti api dalam sekam yang dapat dengan mudah dipicu dan dijadikan alasan untuk bertikai.Kisah sebuah desa di Israel ini dapat kita jadikan contoh untuk menjaga perdamaian di negeri kita.

Di tengah-tengah hiruk-pikuknya perang, di Israel terdapat sebuah desa dimana orang Muslim, Kristen, dan Yahudi hidup berdampingan dengan damai. Desa ini disebut Neve Shalom oleh orang Yahudi dan Wahat al-Salam oleh orang Arab. Artinya, Oase Perdamaian.

Di sekolah dasar Yahudi-Arab di sana, anak-anak belajar keyakinan lain. Murid-murid berbuka puasa bersama saat Ramadhan, berbagi sukkah pada Hari Sukkot, dan bertukar hadiah kecil saat Natal. Penduduk juga melakukan dialog-dialog antar agama, karena mereka sadar bahwa konflik yang terjadi bukanlah antara Taurat, Al Quran, dan Injil. Konflik Israel-Palestina merupakan sebuah perjuangan politik antara dua kelompok bangsa yang menyangkut tanah, sumber daya, keamanan, kemerdekaan, kesetaraan, kekuasaan, identitas, dan keadilan. Kita di Indonesia juga perlu melihat latar belakang konflik yang terjadi. Dan jawabannya pasti bukan semata-mata karena perbedaan Kitab Suci yang kita miliki.

Dengan dialog pula, prasangka-prasangka dapat dibuktikan ketidakbenarannya. Seperti pepatah yang mengatakan “Don’t judge a book from it’s cover”, jangan menilai buku dari covernya. Bacalah isinya, baru kita akan tahu isi buku itu. Buku dengan cover yang tidak kita sukai dan tidak kita mengerti pun, dapat berisi hal-hal berharga yang memberi pencerahan.

Saat ini semakin banyak keluarga yang ingin pindah ke desa Oase Perdamaian ini. Semoga makin banyak pula keluarga yang mengusahakan dan menjaga perdamaian di negeri kita.

 

Foto: photoucket.com

29
Okt
09

sumpah setia itu

SumpahPemuda7Kemarin, delapan puluh satu tahun yang lalu, sejumlah pemuda berkumpul di Jalan Kramat 106 Jakarta Pusat. Mereka menghadiri Konggres Pemuda II. Siapakah mereka? Ternyata wakil dari berbagai organisasi pemuda yang ada pada saat itu. Ada wakil Jong Java, Jong Ambon, Jong, Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPI, dan lain-lain. Ada pula wakil dari pemuda Tionghoa. Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie menjadi pengamat, dan Kwee Thiam Hong yang menjadi wakil Jong Sumatranen Bond.

Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda II berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggotakan pelajar dari seluruh indonesia. Kongres dilaksanakan selama dua hari. Di hari pertama, 27 Oktober 1928, Moehammad Yamin berbicara tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurut Yamin, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.

Di hari kedua, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, sependapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis. Pada sesi berikutnya, Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Di akhir kongres, mengumandanglah lagu “Indonesia Raya” karya Wage Rudolf Soepratman. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Setelah itu, kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia yang kemudian kita kenal dengan Sumpah Pemuda:

“PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.

KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.

KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.”

Ikrar Sumpah Pemuda ini memberi inspirasi bagi para pemuda keturuan Arab di Indonesia, sehingga mereka kemudian mengadakan kongres di Semarang, enam tahun kemudian. Kongres ini mengumandangkan Sumpah pemuda keturunan Arab yang bertekad untuk menjadi bagian dari bangsa Indonesia dan ikut berjuang dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Kemerdekaan Indonesia disemangati dan diperjuangkan oleh para pemuda Indonesia yang bersatu di tengah perbedaan etnis, agama, budaya, bahasa, dan lainnya. Saya setuju dengan pendapat Moehammad Yamin, selain beberapa faktor lain, faktor kemauan juga menentukan persatuan Indonesia.

Kemauan, kata yang tampak sederhana, biasa kita gunakan dalam percakapan sehari-hari. Namun bermakna dalam. Semua memang berawal dari kemauan. Kalau ada kemauan, pasti ada jalan.

Kenangan tahun 1928 bukanlah hanya kenangan manis, namun perlu kemauan untuk mengingatnya dan menerapkannya kembali di dalam kehidupan rakyat Indonesia masa kini.



09
Okt
09

legenda batu panjang

Batu panjang, nama sebuah dusun di Desa Sungai Jernih, Kecamatan Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi. Ternyata ada legenda yang menarik tentang asal-usul nama dusun tersebut. Kisahnya tentang seorang anak perempuan yang tidak diberi makanan oleh keluarganya. Pelajaran bagi kita bahwa diskriminasi hanya akan menyisakan kesedihan.

Pada zaman dahulu kala, ada seorang putri kecil yang tidak diperhatikan oleh keluarganya.Tiap malam putri kecil itu kecewa karena permintaannya tak pernah dikabulkan. Sampai suatu malam ia minta sepotong ikan yang dibawa oleh kakeknya dari hasil memancing yang sudah dimasak untuk makan malam keluarga. Putri kecil minta ikan itu ke kakek, namun kakek bilang minta ke nenek. Minta ke nenek, nenek bilang minta ke ayahmu. Minta ke ayah, ayah bilang minta ke ibumu. Minta ke ibu, ibu bilang minta ke abangmu. Minta ke abang, abang bilang minta ke kakakmu.

Si putri kecil lalu menangis tersedu di atas batu di depan rumahnya sambil memandang bulan purnama dalam keadaan sangat lapar. Lalu ia menyanyikan sebuah lagu. Setiap selesai menyanyikan sebait lagu, batu yang ia duduki bertambah tinggi, terus meninggi dan makin tinggi, dan ia terus menyanyi:

Tinggi … tinggilah engkau batu, biar kakekku senang biar nenekku senang.

Tinggi… tinggilah engkau batu biar ayahku senang biar ibuku senang,

Tinggi… tinggilah engkau batu biar abangku senang biar kakakku senang.

Putri kecil menyanyi sampai tengah malam, dan tanpa disadarinya ketinggian batu itu telah mencapai bulan purnama yang bersinar cerah. Putri kecil lalu menginjakkan kakinya ke bulan purnama, kemudian menendang batu tersebut hingga roboh memanjang di bukit. Maka batu itu dinamakan batu panjang. Ketika mengetahui putri kecil telah berada di bulan, terpisah jauh dan tidak akan pernah bertemu lagi, keluarga putri kecil menangis sedih dan menyesal karena tidak memberikan sepotong ikan kepadanya malam itu.

Putri kecil mendapatkan kebahagiannya di bulan dan tersenyum manis dalam kedamaian. Menurut penduduk Kerinci di masa lalu, bila memandang bulan purnama, akan tampak seorang putri yang sedang tersenyum ke bumi dengan cahayanya yang indah.

08
Okt
09

pecah belah korban gempa

Beberapa hari terakhir, di tengah hiruk-pikuk evakuasi dan distribusi bantuan untuk korban gempa di Padang, muncul isu yang membuat gelisah. Beredar sms yang menyatakan bahwa telah terjadi diskriminasi penanganan korban gempa. Etnis Tionghoa dikatakan tidak diberi bantuan, bahkan harus membeli barang-barang bantuan. Setelah mencoba bertanya ke beberapa teman, ternyata di tengah kota Padang pun memang banyak orang yang belum mendapat bantuan, tidak hanya etnis Tionghoa.

Isu-isu semacam ini dapat mengakibatkan konflik di tengah masyarakat. Padahal kunci masalahnya adalah sistem pendistribusian dan evakuasi yang jauh dari maksimal. Tidak adanya sistem penanggulangan bencana yang jelas membuat begitu banyak orang yang tidak tertangani. Pihak TNI mengatakan mereka menyediakan helikopter sejak hari pertama gempa, namun tidak banyak dimanfaatkan. Padahal pihak pemerintah mengatakan distribusi bantuan sulit dilakukan karena kesulitan transportasi. Bukankan helikopter pak TNI dapat membantu mendistribusikannya?

Seandianya isu-isu ini benar, tampaknya pemerintah memiliki banyak pekerjaan rumah. Bukan hanya membuat sistem penanggulangan bencana yang dapat diandalkan, namun juga melatih sumber daya manusia yang menangani bencana agar mereka dapat bekerja maksimal.

Selain itu juga menangani masalah diskriminasi di Indonesia. Perbedaan etnis dan agama sebenarnya masih menjadi api dalam sekam yang sewaktu-waktu dapat berkobar kembali jika ada pihak-pihak yang menginginkannya. Sudah waktunya pemerintah serius melakukan langkah-langkah untuk memimalisir kemungkinan ini. Memberikan kebebasan kepada setiap warganegara untuk beragama dan menganut kepercayaannya masing-masing, mencabut perda-perda diskriminatif di banyak daerah. Dan tentu saja, memperhatikan hak hidup setiap etnis di Indonesia.

Marilah saat ini kita membantu para korban bencana di Padang, Pariaman, Jambi, Bengkulu, Tasikmalaya dan sekitarnya tanpa memandang ras, etnis, dan agama. Kita berikan saja ketulusan hati untuk mengiringi keprihatinan kita atas begitu banyaknya korban akibat bencana ini.

Dan… mari kita bersatu, menolak diskriminasi dan politik pecah belah.

12
Sep
09

selintas pandang

Setiap bulan puasa bertahun-tahun yang lalu, saat masih kuliah, saya tidak pernah makan siang sendirian. Selalu ada seorang teman yang menemani saya makan, walaupun dia sedang puasa. Saya selalu katakan tidak perlu ditemani tidak apa-apa, tetapi dia bilang tidak merasa terganggu dengan aksi makan saya, dan dia butuh tempat yang tenang untuk membaca. Yah di bulan puasa kantin memang menjadi sepi, justru perpustakaan yang ramai. Begitulah. Dan saya juga dengan senang hati menemani teman-teman saya buka puasa. Bahkan seringkali harus rela antri menunggu kursi kosong. Aktivitas ini berjalan begitu saja, tanpa beban.

Inilah memori yang muncul di kepala saya ketika membaca artikel tentang Desa Ngepeh di Jombang yang ditulis harian Kompas. Sebuah desa yang plural, dengan penduduk beragama Islam, Kristen Protestan, Katolik, dan Hindu. Mereka telah terbiasa gotong-royong dalam segala hal, tanpa memikirkan masalah agama, apalagi bertikai. Di hari raya Idul Fitri, seusai sholat Ied, penduduk desa mengunjungi kerabatnya yang lebih tua, biarpun kerabat ini beragama lain. Dalam mengurus warga yang meninggal pun, semua penduduk desa, apapun agamanya, ikut terlibat. Bunyi kentongan yang menjadi tandanya. Jika kentongan telah dipukul, semua orang keluar rumah untuk mengetahui ada apa gerangan dan apa yang dapat mereka lakukan. Semua itu berjalan begitu saja, dari hari ke hari, entah sejak kapan. Dan penduduk desa bertekad untuk tetap melestarikan kebersamaan mereka, tak mau dipicu konflik perbedaan agama. Karena itu mereka membentuk Paguyuban Budi Luhur pada tahun 1998.

Banyak orang di negeri kita yang telah hidup dalam harmoni setiap hari. Rasanya harmoni telah menjadi udara yang mereka hirup dalam setiap nafas mereka. Karena memang akar harmoni telah tertanam di bumi ini sejak dulu. Pada masa kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14, Mpu Tantular memiliki gagasan untuk menjembatani aliran-aliran agama yang ada yaitu Hindu Siwa dan Buddha Mahayana. Ia mememunculkan rumusan bhineka tunggal ika yang dianggap sebagai rumus keagamaan yang baru. Di dalam Kakawin Sutasoma, Mpu Tantular menulis:

Konon dikatakan bahwa Wujud Buddha dan Siwa itu berbeda. Mereka memang berbeda. Namun, bagaimana kita bisa mengenali perbedaannya dalam selintas pandang. Karena kebenaran yang diajarkan Buddha dan Siwa itu sesungguhnya satu jua. Mereka memang berbeda-beda. Namun, pada hakikatnya sama. Karena tidah ada kebenaran yang mendua. (CXXXIX.5)

Mengenali perbedaan hanya dari selintas pandang inilah yang sering menimbulkan konflik. Pandangan selintas hanya menangkap sesuatu di permukaan. Sesuatu yang terlihat dan terdengar. Tanpa mengerti makna dan latar belakangnya. Karena itu perlu dialog agar sesuatu yang tampak di permukaan itu dapat dipahami sesuai makna yang sebenarnya. Lalu, kebenaran akan muncul dalam wajahnya yang asli. Kebenaran menjadi milik bersama, bukan milik sekelompok atau segilintir orang. Bukankah sikap arogan merupakan awal munculnya tirani?

24
Agu
09

bayangkan jika dunia ini seragam

Suatu siang, saya membayangkan bagaimana jika dunia ini seragam. Semua orang berpakaian sama, berperilaku sama, berpikir sama. Mungkin menjadi seperti dunia robot yang tanpa jiwa. Tanpa kejutan, tanpa rasa.

Saya lalu teringat cerita tentang seorang pria bernama Mario. Alkisah Mario ingin mencari pengalaman di kota lain. Suatu hari ia memulai perjalanannya menuju sebuah kota yang makmur. Ketika memasuki kota itu, hari masih pagi sehingga belum tampak ada kesibukan di sana. Namun Mario terheran-heran memandangnya. Rumah-rumah di sini sangat langsing, dan tinggi. Ketika sedang asyik melihat-lihat, penduduk kota mulai bangun dan keluar dari rumah mereka. Mario kian terpana melihat mereka. Betapa tidak, tubuh mereka semua tinggi, langsing sekali, seperti tongkat sapu yang diberi baju, dan kaki mereka seperti lidi. Waduh! Kota apa ini. Berbeda sekali dengan kotanya yang berisi orang-orang gendut seperti dirinya. Penduduk kota itu pun terheran-heran melihat ada orang gemuk seperti Mario.

Di kota ini Mario mengalami banyak hal tak terduga, yang tidak terpikirkan sebelumnya. Ketika lapar, ia ingin makan di sebuah restoran yang mengumbar bau harum makanan. Namun apa daya, tubuh gemuk Mario tak bisa melewati pintu yang tinggi langsing itu. Saat ia mengantuk dan mencari tempat penginapan, ia pun tidak dapat masuk. Mario berusaha keras memasuki pintu, sehingga menjadi tontonan dan tertawaan penduduk kota.  Akhirnya ia tertidur di di tepi jalan sambil menahan lapar.

Keesokan harinya, Mario berpikir keras apa yang harus dilakukannya untuk mencari nafkah. Ia lalu berjualan spageti, makanan langsing yang cocok untuk penduduk kota ini. Ternyata masakan Mario disukai semua penduduk kota. Mereka makan banyak sekali. Akibatnya tubuh mereka makin lama makin gemuk seperti Mario. Baju-baju mereka tidak cukup lagi, dan mereka juga tidak dapat masuk atau keluar rumah. Orang yang berada di luar rumah tidak bisa masuk, demikian juga sebaliknya. Penduduk kota pun marah. Mereka menuduh Mario lah penyebab semua kekacauan ini dan mengusir Mario. Dengan sedih Mario lari ke dalam hutan dan ia merapati nasibnya di sana.

Suatu hari, walikota pergi berburu ke hutan. Di sana ia menemukan Mario sedang tidur meringkuk di bawah atap dedaunan. Walikota merasa kasihan, sebenarnya ia menyadari bahwa kekacauan yang terjadi bukan salah Mario. Ia lalu mengajak beberapa orang di kota untuk berdiskusi apa yang dapat mereka lakukan agar Mario kembali lagi ke kota langsing. Penduduk kota sebenarnya merindukan spageti Mario. Akhirnya mereka membuat kesepakatan. Mario tetap tinggal di kota mereka, dan tetap berjualan spageti. Namun penduduk kota dibatasi hanya makan satu sendok spageti saja setiap hari. Jadi sekarang di kota langsing juga terdapat orang gendut, yang asyik memasak spageti.

Aha! Penduduk kota langsing akhirnya belajar menerima perbedaan dan mencari solusi yang terbaik untuk semua pihak. Mereka memahami perbedaan telah ada sejak dunia ini dijadikan. Pada dasarnya kita masing-masing adalah pribadi yang berbeda. Menghargai perbedaan berarti juga menghargai kreativitas Sang Pencipta. Betapa hebatnya Ia menciptakan pikiran manusia yang bisa menghasilkan pemikiran yang berbeda.

Menyatukan dan mendialogkan perbedaan sangat mungkin dilakukan. Minyak dan air yang sulit bercampur pun dapat bersatu karena proses emulsi. Cobalah tengok pembuatan santan, percampuran antara air dan minyak yang terkandung di dalam kelapa. Proses emulsi minyak dan air juga menghasilkan margarin, mentega, mayones, dan susu. Makanan yang berguna bagi manusia.

Nah! Saya kembali membayangkan dunia yang warna-warni bagai pelangi.

16
Agu
09

kita harus bersatu!

bung_karno3Berikut ini petikan salah satu pidato Bung Karno pada pembukaan Kongres Nasional ke-8 BAPERKI di Istana
Olahraga Gelora “Bung Karno” pada 14 Maret 1963. Bung Karno mengungkapkan pemikirannya tentang persatuan Indonesia, tak terpecah-belah oleh perbedaan suku dan agama.

Selamat merayakan ulang tahun kemerdekaan Indonesia.

“Persatuan Bangsa yang saya sebutkan berulang-ulang itu sebenarnya sekadar alat, Saudara-Saudara. Saya berkata di JAREK.. JAREK itu singkatan dari “Jalannya Revolusi Kita”, yang saya katakan seperti malaikat-, di dalam JAREK saya sudah berkata, persatuan adalah mutlak, absolut untuk mencapai tujuan kita. Jikalau kita benar-benar hendak menyelesaikan Revolusi kita, kita harus bersatu. Jikalau kita hendak benar-benar ingin menjadi mercusuar di dalam hidup manusia di dunia ini, kita-harus bersatu. Dan di dalam hal persatuan ini saya berkata, saya menghendaki supaya di dalam persatuan segala unsur bangsa Indonesia itu disatukan. Suku apa pun, ya suku Sumatera, ya suku Jawa, ya suku Kalimantan, ya suku Bali, ya suku apa pun, bersatulah. Agama apa pun yang dipeluk oleh rakjat Indonesia ini, bersatulah, dan janganlah berpecah-belah di atas perlainan-perlainan agama itu. Asli atau tidak asli, bersatulah. Persatuan adalah mutlak, Saudara-Saudara.

Nah, maka oleh karena itu di dalam kita sekarang hendak melanjutkan Revolusi kita ini berlandaskan Manipol dan Usdek, dalam hal ini saya berkata, persatuan tetap mutlak, maka saya menghendaki agar supaya seluruh waragnegara, tanpa perbedaan asli atau tidak asli, tanpa perbedaan agama, tanpa perbedaan suku, semuanya di-Manipol-kan; semuanya kita mengerjakan Manipol dan Usdek itu!

Sampai kepada sekolah-sekolah, jangan pun universitas-universitas, kepada sekolah-sekolah yang sedang melatih kita punya cindil-cindil abang. Saudara-saudara, harus sudah di-Manipol-kan. Cindil-cindil kita yang duduk di bangku sekolah, Manipol-kan. Apalagi yang sudah gerang-gerang, tua bangka seperti kita ini, Manipolkan semuanya! Sekarang ini, sebagai tadi sudah saya katakan, Triprogram pemerintah itu satu belum terlaksana. Sandang-pangan. Dan memang ini adalah satu soal yang sulit, tetapi harus kita atasi. Dan sebagai dikatakan oleh Cak Roeslan tadi, pemerintah, dan terutama sekali presidennya, perdana menterinya, Bung Karno-nya telah berketetapan hati untuk terutama sekali berdiri di atas pengerahan tenaga rakyat.

Oleh karena itu maka Panca Program Front Nasional yang sudah saya katakan harus dilaksanakan oleh Front Nasional itu diintegrasikan di dalam usaha kita melaksanakan Triprogram Pemerintah ini. Baperki saya harap benar-benar membantu terlaksananya Pancaprogram Front Nasional itu, oleh karena dengan terlaksananya Panca Program Front Nasional, kita membantu juga terlaksananya seluruh Triprogram Pemerintah.

Saudara-Saudara, revolusi berjalan terus, dan revolusi kita ini sebagai yang sudah saya katakan bukan revolusi kecil-kecilan, revolusi Pancamuka kataku, bahkan jikalau dipikir lebih luas, sebetulnya kataku, pada waktu aku berpidato kemarin-kemarin dulu—apa waktu itu ya, di Istana Negara, seminar Hukum Nasional–sebetulnya revolusi kita ini bukan lagi Pancamuka, panca itu lima, bukan cuma lima, jaitu Revolusi Politik Revolusi Nasional, Revolusi Ekonomi, Revolusi Sosial, Revolusi membentuk Manusia Baru, lima, tidak, sebenarnya revolusi kita itu ada lebih dari lima muka. Maka boleh dikatakan Revolusi Saptamuka, sapta itu artinya tujuh. Bisa dinamakan hastamuka, hasta itu
delapan. Boleh dinamakan dasamuka, dasa yaitu sepuluh. Pendek kata revolusi kita ini adalah benar dikatakan satu revolusi multikompleks. “Asumming up of many revolutions in one generation“.

Revolusi Indonesia itu adalah satu “nation building” Indonesia yang sehebat-hebatnna. Itu, nation building Indonesia yang sehebat-hebatnya. Dan didalam hal usaha nation building itu, segala unsur-unsur daripada nation buiIding harus diilaksanakan. Apa unsur nation building? Bukan sekadar soal ekonomi bukan sekadar soal politik, bukan sekadar soal kultur, bukan soal nama, tidak nation building adalah satu pekerjaan yang multikompleks pula. Tujuan dari Revolusi Indonesia adalah nation building Indonesia. Nation building bukan di dalam arti yang sempit, sekadar membentuk satu “nation” Indonesia. Tidak lebih dari itu pula. Nation Indonesia yang bahagia, nation Indonesia yang berkepribadian tinggi, nation Indonesia yang hidup di dalam satu masyarakat adil dan makmur tanpa exploitation del’homme par l’homme. Nation building dalam arti yang seluas-luasnya. Nah, ini yang kita kerjakan sekarang ini, Saudara-Saudara. Oleh karena itu saya berkata, janganlah kita-jikalau kita hendak mendirikan nation Indonesia dalam arti yang luas itu- jangan kita masih berdiri di atas dasar-dasar yang usang, yang tadi disebutkan oleh Pak Roeslan Abdulgani.

Sudah pernah saya terangkan, kekuasaan imperialisme dulu di Indonesia apa? Negeri Belanda yang pada waktu itu rakyatnya hanya 6 juta, telah mengalahkan satu bangsa yang 40 juta. 6 Menjadi 7, 40 menjadi 50. 7 Menjadi 8, 50 menjadi 70. 8 juta menjadi 9 juta, sini menjadi 80 juta. Sekarang di sana 10 juta, sini 100 juta. Pada waktu, imperialisme Belanda mengekang, mengereh, mengalahkan Indonesia, rakjat kecil mengalahkan Indonesia dengan apa? Saya sudah berkata, bacalah kitab dari Sir John Seeley. He, mahasiswa-mahasiswi, Sir John Seeley, menulis satu kitab yang ia beri judul ‘The Expansion of England“. Dan di situ persis ia terangkan juga, bangsa Inggris di India itu berapa orang? Hanya 40 ribu orang Inggris, di India bisa mengalahkan satu rakyat yang 230 juta orang. 40 ribu mengalahkan 230 juta orang, dengan apa? Dengan alat-alat terutama sekali memecah-belah bangsa India itu, divide and rule, divide et impera.

Persis di sini pun terjadi demikian. Di sini pun berjalan pemecah-belahan. Di sini pun berjalan divide and rule. Oleh karena itu pernah saya beberkan segala usaha dari imperialisme ini dengan berkata, kekuasaan imperialisme itu ada dua macam. Dalam bahasa asingnya machtsfactor. Macht yaitu kekuasaan. Faktor kekuasaan imperialisme itu dua macam. Ada yang riil, ada yang abstrak. Ada yang bisa dilihat, bisa diraba, ada yang tak bisa dilihat, tidak bisa diraba. Yang riil yaitu machtsfactor, power factor yang riil. Apa itu? Angkatan perangnya, polisinya, penjara-penjaranya, bedil-bedilnya, meriam-meriamnya, itu adalah power factor, machtsfactor yang riil. Tapi ini tidak besar, Saudara-Saudara; lebih besar daripada machtsfactor yang riil ini adalah machtsfactor yang abstrak, yang tidak bisa dilihat, yang tidak bisa diraba. Dan machtsfactor yang abstrak ini apakah, Saudara-Saudara? Terutama sekali ialah divide and rule policy, pemecah-belahan suku dihasut benci kepada suku yang lain. Tidak ada persatuan, tidak boleh ada persatuan antara suku-suku Indonesia. Dan tidak boleh ada persatuan antara mayoritas dan minoritas. Dipisah-pisahkan majoritas dari minoritas. Malahan dibentuk minoritas yang benci kepada mayoritas dan dibuat majoritas ini benci kepada minoritas.

Pidato diambil dari medancity.com
Foto: dreamindonesia.com