Di tengah-tengah konflik, selalu ada celah untuk berdamai. Dan selalu ada upaya untuk perdamaian. Karena sebenarnya rakyat tidak suka konflik. Rakyat ingin hidup tenang dan harmoni bersama orang lain.
Itulah juga yang terjadi di Filipina. Mereka menjadi penggerak perdamaian, baik di antara kelompok Islam sendiri maupun antara Islam dan agama lain. Banyak hal menarik yang mereka lakukan.
Sebuah madrasah di kota Marawi, mempunyai program-program perdamaian dan dialog antaragama. Mereka melakukan pelatihan perdamaian untuk siswa dan masyarakat umum. Selain itu juga mereka mengisi program perdamaian di televisi lokal. Untuk dialog antaragama, mereka membentuk kelompok dialog bersama pemimpin agama Katolik.
Sementara itu, Asosiasi Perempuan Pengusaha Muslim Sulu melakukan pemberantasan buta huruf dan pelatihan kewirausahaan. Lulusannya lalu disalurkan bekerja di lembaga-lembaga advokasi perdamaian, dan didorong untuk melakukan bisnis untuk memerangi kemiskinan dan buta huruf.
Gerakan para ulama ini diharapkan dapat menjadi angin segar bagi permusuhan yang masih terjadi di Filipina. Kekerasan banyak mewarnai kehidupan di Filipina, terutama di wilayah Mindanao. Beberapa waktu lalu kita dikejutkan dengan penembakan 57 orang anggota klan Mangudadatu, termasuk wartawan dan warga yang sedang lewat, oleh tentara bayaran klan Ampatuan. Keberadaan tentara bayaran ini sudah berlangsung sejak lama. Dulu mereka dibayar untuk memerangi kelompok separatis. Sekarang mereka bekerja untuk klan-klan politik.
Tidak heran jika Dr. Al-Khaof A. Jukarwain, Presiden Lembaga Islam Sulu, mengatakan bahwa konflik yang terjadi bukan berasal dari rakyat. Militer dan politikuslah yang memicu konflik. Mereka yang melakukan jual-beli senjata agar mendapat keuntungan dengan mengorbankan rakyat.
Kesadaran inilah yang membuat mereka bersatu menyuarakan perdamaian. Karena itu, pada konferensi Majelis Nasional Ulama se-Filipina, mereka tidak menyertakan politikus dari partai politik. Mereka melibatkan berbagai komunitas penduduk asli Filipina yang datang dengan pakaian tradisional masing-masing. Mulai dari perempuan yang mengenakan burqa hingga yang berkebaya dan bersarung selutut. Semua bersatu, untuk perdamaian.



Konflik Israel-Palestina belum juga usai sampai sekarang. Bahkan seolah-olah menjadi konflik yang tak akan pernah selesai. Kalau di Jalur Gaza terjadi perang terbuka, di negeri kita perbedaan etnis dan agama seperti api dalam sekam yang dapat dengan mudah dipicu dan dijadikan alasan untuk bertikai.Kisah sebuah desa di Israel ini dapat kita jadikan contoh untuk menjaga perdamaian di negeri kita.
Kemarin, delapan puluh satu tahun yang lalu, sejumlah pemuda berkumpul di Jalan Kramat 106 Jakarta Pusat. Mereka menghadiri Konggres Pemuda II. Siapakah mereka? Ternyata wakil dari berbagai organisasi pemuda yang ada pada saat itu. Ada wakil Jong Java, Jong Ambon, Jong, Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPI, dan lain-lain. Ada pula wakil dari pemuda Tionghoa. Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie menjadi pengamat, dan Kwee Thiam Hong yang menjadi wakil Jong Sumatranen Bond.