06
Jun
10

jembatan maaf

Ada sebuah kisah tentang jambatan maaf yang mengharukan. Entah siapa penulisnya, tidak diketahui. Tetapi kisah ini bisa menjadi contoh untuk menyelesaikan persoalan. Bukan hanya persalan keluarga, namun juga persoalan negara, dan dunia. Perlu dibangun jembatan agar pihak-pihak yang bertikai bisa saling memaafkan. Namun tentu saja butuh niat baik dari pihak-pihak yang bertikai, dan juga berpikir positif. Kalau si adik dalam cerita ini tidak berpikir positif, mereka akan tetap bermusuhan. Seandainya si adik berpikir seperti ini, “Wah, si kakak membangun jembatan untuk menguasai tanahku.” Pasti hasilnya berbeda kan. Semoga semakin banyak jembatan yang dibangun, semakin banyak orang yang melintasi jembatan itu, untuk menyelesaikan masalah dan menghargai perbedaan.

Alkisah di sebuah desa kecil, hiduplah dua orang kakak beradik. Entah mengapa, suatu kali keduanya terlibat dalam suatu pertengkaran serius. Baru pertama kali ini mereka bertengkar sampai sedemikian hebat.

Sebelumnya, selama 40 tahun mereka hidup rukun berdampingan. Mereka saling meminjamkan peralatan pertanian dan bahu-membahu untuk berdagang, tanpa mengalami hambatan. Namun, kerja sama yang akrab kini telah retak.

Hal ini disebabkan oleh kesalahpahaman yang sepele, yang kemudian berkembang menjadi perbedaan pendapat yang besar. AKhirnya, meledak dalam bentuk caci maki.

Beberapa minggu sudah berlalu, dan mereka saling tidak bertegur sapa. Suatu pagi, seseorang tiba-tiba mengetuk pintu rumah sang kakak. Di depan pintu berdiri seorang pria dengan membawa sebuah kotak perkakas tukang kayu dan berkata, “Maaf Tuan, sebenarnya aku sedang mencari pekerjaan, mungkin Tuan berkenan memberi beberapa pekerjaan untuk kuselesaikan.”

“Oh iya!” jawab sang kakak, “Aku punya pekerjaan untukmu. Coba lihat ladang pertanian di seberang sungai sana. Itu adalah rumah tetanggaku, ah sebetulnya ia adalah adikku. Minggu lalu ia mengeruk bendungan dengan buldoser, lalu mengalirkan airnya ke tengah padang rumput itu. Padang rumput tersebut menjadi aliran sungai yang memisahkan tanah kami. Hmmm, barangkali ia melakukan itu untuk mengejekku, tetapi aku akan membalasnya lebih setimpal. Di situ ada gundukan kayu. Aku ingin kau membuat pagar setinggi 10 meter untukku, sehingga aku tidak perlu lagi melihat rumahnya. Pokoknya aku ingin melupakannya.”

Kata tukang kayu itu, “Aku mengerti. Tetapi belikan aku paku dan peralatan, dan aku akan mengerjakan sesuatu yang bisa membuat Tuan senang.”

Kemudian, sang Kakak pergi ke kota untuk berbelanja berbagai kebutuhan untuk si tukang kayu tersebut. Setelah selesai berbelanja, sang kakak meninggalkan tukang kayu itu bekerja sendirian.

Sepanjang hari tukang kayu itu bekerja keras, mengukur, menggergaji, dan memaku. Di sore hari, ketika sang kakak kembali, tukang kayu itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya.

Ia terbelalak melihat hasil pekerjaan tukang kayu itu. Ternyata, sama sekali tidak ada pagar kayu sebagaimana yang dimintanya. Yang ada hanyalah sebuah jembatan yang melintasi sungai, yang menghubungkan tanahnya dengan ladang pertanian adiknya. Jembatan itu begitu indah dengan undak-undakan yang tertata rapi.

Dari seberang sana, terlihat sang adik bergegas berjalan menaiki jembatan itu dengan kedua tangannya terbuka lebar, dan berkata, “Kakakku, kau sungguh baik hati mau membuatkan jembatan ini. Maafkanlah sikap dan ucapanku yang telah menyakiti hatimu.”

Dua bersaudara itu pun bertemu di tengah-tengah jembatan, lalu saling berjabat tangan dan berpelukan.

Melihat itu, si tukang kayu membenahi perkakasnya dan bersiap-siap untuk pergi.

“Hai jangan pergi dulu. Tinggalah beberapa hari lagi. Kami mempunyai banyak pekerjaan untukmu,” pinta sang kakak.

“Sesungguhnya, aku ingin sekali tinggal di sini, kata si tukang kayu, tetapi masih banyak jembatan lain yang harus kuselesaikan.”

16
Mei
10

belajar toleran dari paman profesor

Bale-bale di Kampung Harmoni lebih ramai dari biasanya. Sore ini, sambil menyeruput teh, kopi, dan mengunyah pisang rebus, warga Kampung Harmoni mendengarkan pengalaman menarik dari seorang kawan yang datang bertandang. Ceritanya inspiratif dan membangkitkan harapan lagi akan Indonesia yang plural dan multikultural. Inilah pengalaman pribadi Rahadian Suadi saat menengahi pertengkaran di kelasnya yang bersumber pada masalah agama. Semoga memberi inspirasi juga untuk kawan-kawan. Terima kasih kepada mas Rahadian yang sudah mengizinkan tulisannya untuk di-posting di sini.

Keterkejutan saya akhirnya menjadi hal serius yang terus saya pikirkan hingga SMA. Kejadian itu saya alami ketika duduk di bangku SMP Negeri, dimana lebih banyak teman yang mempunyai latar belakang berbeda, baik dari suku, ras, maupun agama. Belum satu minggu saya merasakan jadi anak SMP dan kebetulan menjadi ketua murid di kelas tersebut, harus menghadapi dan menengahi konflik antara dua teman yang berselisih paham mengenai agamanya masing-masing adalah yang terbaik. Sebagai anak umur 13 tahun dengan derajat kematangan rasio dan rasa yang masih sangat labil, membuat saya sedikit “lelah” karena harus menyelesaikan konflik sebelum kasus itu naik ke tingkat guru BP. Satu lagi masalah bagi saya adalah, kedua anak yang berselisih tadi lumayan ditakuti teman-temannya karena mereka berdua cukup sangar dan bertampang perang! Jauh dengan tampang saya yang pada saat itu masih culun (mudah-mudahan sekarang tidak terlalu culun…he…he…he…)

Akhirnya saya menghampiri kedua anak tersebut dan ikut dalam perdebatan mereka. Saya perhatikan, ternyata yang mereka permasalahkan adalah masalah keTuhanan,

“Waduh! Beurat euy!” kata saya dalam hati.

Mana pengetahuan agama saya juga barangkali tak sehebat mereka… dan lucunya, untuk ukuran anak-anak kecil seumur mereka sudah berdebat ayat! Waduh lagi… Untung saya punya ayat andalan yang bisa saya lontarkan ke mereka ketika mereka menampakkan ketidaksukaannya atas kehadiran saya dalam forum mereka. Sehingga saya kelihatan tidak bodoh-bodoh amat. Perseteruan pun semakin meruncing, dan berkembang menjadi lebih rumit. Pasalnya, kedua anak itu saling minta dukungan teman-temannya dan konflik meluas menjadi dua kubu! Waduh lagi untuk yang ketiga kalinya…

Karena ribut tak terelakkan dan guru kelas sebelah mulai ngintip-ngintip lewat pintu kelas karena terganggu, akhirnya saya ambil keputusan… gebrak meja… dan serentak anak-anak yang ribut itu diam mendadak. Malah saya bingung ketika mereka diam, dan semua mata tertuju ke saya. Entah berapa detik saya merasa blank namun entah kekuatan dari mana membawa alam pikiran saya mundur beberapa tahun silam.

Suasana SD Prof. Dr. Moestopo yang terletak di Jalan Dago Bandung, membuka memori ekspres saya. Suasana kelas yang tenang dan udara Bandung di era 70-an masih terasa sejuk… Pak Moestopo, pemilik sekolah, kerap dipanggil “paman profesor” oleh anak-anak murid sekolahnya.

“Slaaamat pagi paman professsooooooor…!!!” demikian lengkingan suara anak-anak yang menyambut kedatangannya di setiap kelas, seperti sedang inspeksi pasukan.

Bisa dimengerti karena Pak Moestopo ini adalah purnawirawan berbintang, yang namanya sering dikaitkan dengan jasanya dalam peristiwa 10 Nopember di Surabaya. Hampir pada setiap hari besar keagamaan yang ada di Indonesia selalu menjadi perhatiannya.

Perlu diketahui, bahwa TK-SD Moestopo ini mempunyai rumah-rumah ibadat kecil, sehingga anak-anak bisa beraktifitas dalam setiap acara keagamaan di dalamnya. Pak Moestopo selalu melibatkan anak-anak murid untuk saling berinteraksi dan membantu pada persiapan acara agama yang akan digelar di rumah-rumah ibadat mini tersebut. Secara simultan pula, para guru selalu mengingatkan pada setiap murid agar membantu teman-temannya yang berbeda agama jika berada dalam kesulitan, ataupun hanya untuk meringankan segala permasalahan mereka. Dengan simulasi-simulasi yang sangat toleran, rupanya begitu membekas pada anak-anak didik, sehingga dalam lingkungan sehari-hari pelajaran tersebut sangat membekas, dan hasilnya anak-anak didik tidak mempermasalahkan perbedaan diantara mereka dalam hal hubungan kemanusiaan. Satu hal yang saya ingat, bahwa dalam sistem pendidikannya, agama tidak pernah diarahkan untuk menjadi masalah dalam ruang publik, namun mutu pelajaran terus diintensifikasi sebagai konsumsi bagi ruang privat.

Beberapa detik saya dikembalikan kepada kenyataan, bahwa saya sedang berada di tengah-tengah konflik antar dua kubu yang berseberangan. Mereka terus menatap saya yang belum juga berbicara sepatah kata pun… Barangkali mesin diesel di otak saya sudah mulai panas, dan proses penghantaran menuju memori sudah mulai bekerja…he…he…he… soalnya waktu itu belum ada processor core 2 duo… Saya angkat bicara dan saya katakan ke mereka bahwa percuma saja mereka berdebat. Reaksi lebih keras dari kubu yang seiman dengan saya. Mereka bilang kalau saya tidak membela agama yang saya anut. Walah! Gimana ini, malah balik nyerang! Akhirnya saya cerita sedikit dengan tenang, mereka dengarkan juga. Intinya saya coba bawa mereka masing-masing berempati kalau mereka ada di posisi masing-masing. Semua merasa paling baik dan paling benar kan? Akhirnya saya perjelas, kenapa mereka percuma berdebat padahal semua merasa agamanya paling baik dan paling benar… karena agama adalah milik kita yang pribadi, tidak ada paksaan, tidak ada tekanan untuk memeluknya. Saya lempar ke mereka.

“Betul nggak?” Tanya saya dengan tegas.

Dengan kompak mereka jawab, “Betuuuul…!!!”

Saya lanjutkan lagi, agar mereka tidak melanjutkan debat kusirnya, saya tutup dengan kata-kata petuah sok tua…

“Udahlah, kenapa musti diributin lagi? Betul agama yang kita anut ini pasti yang terbaik untuk kita, jadi bukan untuk didebatin kan? Kalian debat juga belum tentu dapet pahala. Mending bantu temen yang susah tanpa mikirin agama, suku, atau rasnya. Jamin deh pasti dapet pahala!”

Dengan sok tahu dan sok bijaknya saya yakinkan mereka. Eeeh… mereka diam seperti sedang berpikir. Beberapa detik kemudian bel bunyi. Wuih… saved by the bell!! Sama sekali tidak ada kata yang terucap dari mereka sambil mengemasi barang-barangnya untuk pulang.

Keesokan harinya suasana di kelas tenang, kalaupun ribut yaaa… biasa… anak-anak puber cari perhatian lawan jenis, jadi berisik banget! Tapi sudah tidak ada lagi yang memperdebatkan agama.

Selang beberapa tahun kemudian, kasus ini terjadi lagi waktu di SMA. Problemnya lebih kompleks dan bawa-bawa suku segala! Celakanya lagi, saya jadi Ketua Murid lagi! Ya ampyuuun… kok kebagian ngurusin konflik begini lagi ya? Tapi dengan bertambahnya umur, barangkali saya masih bisa lebih bijak dibandingkan ketika di SMP. Yang mengharukan buat saya waktu itu, kedua teman yang berdebat itu akhirnya menjadi teman dekat dan saling berusaha mengenal agama masing-masing. Pertemanan mereka menjadi panjang dan mereka saling tolong-menolong hingga lulus SMA. Sekarang mereka menjadi orang berprestasi. Yang satu menjadi peneliti, yang satu menjadi ahli geologi. Barangkali pengalaman saya menengahi konflik sensitif itu bukan hal besar. Namun mempunyai kesan yang begitu mendalam. Apalagi tanah air kita ini begitu rawan konflik yang semestinya tidak perlu. Nggak penting lah… Itu semua karena pelajaran yang Paman Profesor berikan kepada kami, anak-anak didiknya. Semoga Allah menerima amal ibadahmu… Amin

08
Mei
10

negeri pelangi untuk nelson mandela

Menonton Invictus, seperti larut dalam sorak-sorai penonton dan penduduk Afrika Selatan saat merayakan kemenangan Springboks, tim rugby mereka, melawan tim Selandia Baru di final World Cup Championship tahun 1995.

Sebuah film yang luar biasa indah, berdasarkan buku karya John Carlin, Playing the Enemy: Nelson Mandela and the Game That Changed a Nation. Clint Eastwood, sang sutradara, mampu merajut bagian-bagian dari film ini menjadi tontonan yang tidak saja menarik, tidak membosankan, menggairahkan, namun juga inspiratif.

Inspirasi itu berasal dari seorang mantan presiden Afrika Selatan yang menjadi narapidana politik selama tiga puluh tahun. Seorang Nelson Mandela, yang diperankan oleh Morgan Freeman. Setelah terpilih menjadi presiden, Madiba, panggilan orang Afrika Selatan untuk Mandela,menghadapi negara yang masih tersekat-sekat perbedaan ras. Ia lalu berjuang agar negerinya tidak hancur karena berlanjutnya politik apartheid, dan aksi balas dendam penduduk asli Afrika terhadap warganegara kulit putih yang telah memperlakukan mereka dengan sangat tidak manusiawi.

Madiba ingin mewujudkan Afrika Selatan menjadi negeri pelangi. Negeri yang didukung oleh semua warganegaranya yang berbeda warna kulit, sehingga mereka dapat bekerja bersama membangun negeri. Tentu saja ia diprotes oleh hanpir semua orang di dekatnya, para staf kepresidenan, bahkan oleh anaknya sendiri. Namun ia tidak surut. Ia memasukkan empat pengawal presiden berkulit putih, yang dulu mengawal presiden de Klerk. Kepada kepala pengamanan presiden, ia mengatakan bahwa sekarang orang kulit putih merasa takut hidup mereka terancam, karena itu mari kita memberi kejutan kepada mereka, bahwa kita tidak sama dengan mereka. Begitulah kira-kira. Ia tidak mengajarkan darah dibayar dengan darah, nyawa dibayar dengan nyawa. Ia tidak memanfaatkan perbedaan warna kulit untuk mengadu domba rakyatnya demi kepentingan politik atau mendapatkan kekuasaan. Ia terfokus pada bagaimana mengubah sikap apartheid rakyatnya, baik kulit hitam maupun kulit putih. Bukan dengan kekerasan, kawan. Tetapi dengan menghargai mereka. Sikap yang luar biasa setelah orang kulit putih memenjarakannya selama tiga puluh tahun.

Langkah cerdas Mandiba adalah menghapuskan apartheid melalui rugby. Ia percaya, olahraga adalah sebuah bahasa universal. Mayoritas anggota tim rugby Afrika Selatan ini terdiri dari orang kulit putih, dan muncul desakan agar anggota tim diganti dengan penduduk asli. Namun Mandiba tidak setuju dan justru memberi semangat kepada tim ini untuk maju terus, memenangkan Afrika. Ia datang ke stadion untuk menyapa mereka satu per satu. Ia memanggil kapten tim Springkboks, François Pienaar, yang diperankan oleh Matt Damon, untuk memberi inspirasi kepada tim-nya, dan memenangkan pertandingan. Mandiba “memerintahkan” tim Springboks mengajari anak-anak kulit hitam, bermain rugby. Sebuah pemandangan langka pada masa itu, kulit putih dan kulit hitam bermain bersama, larut dalam gelak tawa. Sekat itu mulai terbuka.

François Pienaar sangat terinspirasi dengan sikap Mandiba. Ia lalu mengajak tim-nya mengunjungi bekas penjara yang telah memenjarakan ribuan orang kulit hitam, termasuk Nelson Mandela. Ia tidak habis pikir, bagaimana orang yang dipenjarakan selama tiga puluh tahun oleh orang kulit putih di sel yang sempit, berbicara tentang pengampunan. Ini kian memicu rasa nasiolisme-nya yang ia tularkan pada teman-temannya satu tim. Ia juga memberikan empat tiket untuk menonton pertandingan final, untuk ayah, ibu, pacarnya, dan pembantu ibunya yang berkulit hitam. Ibu dan pembantu kulit hitamnya duduk berdampingan di stadion menonton pertandingan itu. Sebuah sekat lagi terbuka.

Kemenangan demi kemenangan diraih Springboks. Dan puncaknya pada final World Cup Champion tahun 1995. Semua penduduk Afrika Selatan menonton pertandingan itu. Kulit hitam, kulit putih, kulit berwarna. Mereka duduk bersama, mereka menari bersama di jalan-jalan saat merayakan kemenangan Springboks.

Sebenarnya, perayaan ini tidak sekadar perayaan kemenangan tim rugby mereka. Namun perayaan kemenangan Negeri Pelangi yang sedang berjuang menghapuskan apartheid.

Satu hal lagi yang perlu dicatat tentang Nelson Mandela. Ia mengampuni, namun tidak melupakan. Afrika Selatan memiliki Komisi Kebenaran dan Rekonsialisasi yang dibentuk pada tahun 1995. Semua korban pelanggaran HAM boleh datang dan memberikan testimoni kepada komisi ini. Selain melakukan investigasi, KKR juga memulihkan harga diri korban dan melakukan rehabilitasi. Semua pelaku kejahatan HAM, diproses tanpa pandang bulu, apakah warganegara biasa, polisi, maupun anggota partai yang berkuasa pada saat itu, African National Congress. Ada pelaku yang diberi amnesti, namun lebih banyak pula yang diproses secara hukum.

Saya bermimpi, suatu hari nanti, Indonesia akan memiliki seorang pemimpin yang inspiratif seperti Nelson Mandela. Berani melakukan hal yang benar meski mendapat tentangan dari berbagai pihak. Berani menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia. Berani menghargai perbedaan. Berani menyadari negeri kita adalah negeri plural dan multikultural. Berani mengungkap kebenaran. Dan berani bertindak.

06
Mei
10

kalung oranye

Pagi ini, begitu masuk ke ruangan kantor, seorang teman memperhatikan saya dan berucap, “Wah kok kalungnya oranye, kan bajunya merah.” Sambil senyum-senyum saya menjawab, “Gak harus begitu kan. Bukannya kalung oranye ini bikin manis penampilanku he he he.” Teman-teman lain lalu nimbrung dan berkomentar tentang padu padan warna. Ah serunya diskusi pagi ini.

Seorang teman yang sedang mempersiapkan buku merangkai bunga menceritakan pengalamannya, “Dulu ya, aku menganggap aneh paduan warna merah dan oranye. Gak banget deh. Tapi waktu aku lihat rangkaian bunga yang pake warna oranye dan merah, wah kok eksotis ya.”

Teman yang lain, penggemar fashion, menambahkan, “Warna di dunia fashion itu menunjukkan keragaman lho. Bukan cuma karena memang ada banyak warna, tapi interpretasi dari warna-warna itu.”

“Wah seru nih,” celetuk seorang teman.

“Iya,” lanjutnya. “Misalnya Coco Chanel. Dia membuat gaun-gaun warna hitam karena menurut dia, warna hitam itu lambang keanggunan. Dan karena hitam untuk baju pria itu menunjukkan jiwa konservatif dan kekuatan mereka, Chanel pun membuat gaun-gaun hitam bergaya agar wanita bisa sejajar dengan pria. Lain lagi pemikiran Yves Saint Laurent. Tahun 1960-an, dia membuat gaun dengan paduan banyak warna untuk menunjukkan begitu beragamnya pemikiran manusia. Nah, yang unik juga interpretasi warna merah. Kalau di negara Barat, merah suka dikaitkan dengan warna skandal. Makanya di film-film, perempuan yang terlibat skandal, apalagi skandal besar, biasanya pakai baju merah he he he… Padahal di Timur, kayak di negeri Cina, merah itu lambang perayaan. Waktu Imlek, kita banyak lihat hiasan-hiasan warna merah kan.”

Masalah warna saja, ada begitu banyak interpretasi ya, dan karena itu warna menjadi menarik. Setiap manusia bebas menginterpretasikan sesuatu, karena kebenaran itu bukan hanya milik seseorang atau satu kelompok saja. Menghargai pemikiran yang berbeda, itu yang terpenting. Dan juga, terbuka dengan pemikiran orang lain. Rangkaian bunga merah dan oranye, misalnya. Kalau teman saya tidak terbuka menerima ide orang lain, dia tidak akan menerima dan menghargai indahnya rangkaian bunga merah-oranye itu.

“Jadi biarkanlah Tata dengan kalung oranyenya,” celetuk seorang teman. Ha ha ha ha… Ini juga interpretasi lain lagi. Buat saya, oranye itu membuat hati gembira. Saya bisa memakai kalung ini dengan baju macam-macam warna, yang penting hasilnya membuat saya ceria. Yuk mari….

05
Mei
10

burung hantu dan burung ruak-ruak

Di Mentawai, terdapat dongeng yang biasa diceritakan orangtua kepada anak-anaknya menjelang tidur. Dongeng yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan, budi pekerti, untuk membantu anak-anak berelasi dengan keluarga, lingkungan, dan masyarakat mereka. Inilah salah satunya, cerita tentang burung hantu dan burung ruak-ruak, yang mengajarkan pada kita untuk menghormati perbedaan, bukannya saling mengejek dan mendendam karena perbedaan itu.

Di hutan Bat Kokok, hiduplah dua ekor burung di pohon beringin. Si Kemut, burung hantu, dan Si Turugou’gou’, seekor burung ruak-ruak. Hutan Bat Kokok adalah pemukiman pertama orang-orang Desa Katurei.

Kedua burung ini biasa bertengger di dahan pohon beringin yang bernama Si Sokut. Mereka memiliki perbedaan yang mencolok, baik bentuk badan maupun cara dan waktu mereka mencari makan. Si Turugou’gou’ ‘ mencari makan di siang hari, sedangkan Si Kemut, burung hantu, justru mencari makan di malam hari.

Pada suatu sore, ketika Si Turugou’gou baru pulang dari mencari makanan, ia melihat  Si Kemut sedang tidur dengan nyenyak. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, Si Turugou’gou’ bernyanyi mengejek:

Si Kemut…Kemut si mata cekung
Ada orang pura-pura menari
Ada orang tidur siang bolong
Kalau malam keluyuran
Dasar memang burung hantu

Si Turugou’gou’ cepat-cepat terbang ke pohon lain setelah mengejek Si Kemut. Si Kemut terbangun dan kesal dengan ejekan itu. Dilemparnya ranting pohon ke arah Si Turugou’gou’, tetapi tidak kena. Si Kemut bertambah kesal. Namun ia tidak mengejar Si Tutugou’gou’, ia pun melanjutkan tidurnya di sore itu.

Ketika malam telah tiba, saat Si Turugou’gou’ sudah tidur, Si Kemut pergi mencari makan. Itulah kehidupan burung hantu. Mereka tidur di siang hari dan berburu tikus atau binatang malam lainnya di waktu malam.

Sebelum fajar menyingsing dan suara monyet di hutan berbunyi, pulanglah Si Kemut ke rumahnya di pohon beringin Si Sokut. Dilihatnya Si Turugou’gou’ nasih tertidur lelap. Pikir Si Kemut, inilah saatnya untuk membalas dendam. Maka dia pun bernyanyi keras-keras:

Turugou’gou’ si ruak
Si betis kurus ada orang dia lari
Si Ruak-ruak sok pandai menari
Kakinya kotor sekali

Nyanyian ejekan Si Kemut membangunkan si Turugou’gou’. Dia marah sekali. Sambil mengantuk Si Turugou’gou’ menyanyikan lagu ejekan untuk Si Kemut. Si Kemut pun membalas menyanyikan ejekan lagi. Mereka terus saling mengejek, hingga burung-burung lain yang tinggal di dahan dan ranting Si Sokut menjadi terganggu.

Akhirnya Si Kemut dan Si Turugou’gou’ bertengkar. Mereka ribut sekali. Melihat kedua burung itu bertengkar sambil menuding dan menepuk dada, Si Sokut yang tadinya diam saja pun mulai berbicara:

“Sahabat-sahabatku, jangan bertengkar. Jangan membeda-bedakan, apalagi menghina kawan.”

Mendengar suara Si Sokut, kedua burung itu berhenti bertengkar. Mereka memahami nasihat Si Sokut dan merasakan kebenaran di dalamnya. Mereka pun meminta maaf satu sama lain. Akhirnya, Si Kemut dan Si Turugo’gou’ kembali hidup tentram dan damai bersama Si Sokut, pohon beringin, meskipun mereka memiliki perbedaan.

04
Mei
10

pura langgar: harmoni hindu-islam

Toleransi antaragama di Indonesia sebenarnya sudah berakar sejak berabad yang lalu. Para pemeluk agama yang berbeda saling menghormati satu sama lain, bahkan hidup berdampingan secara damai. Salah satu jejak yang membuktikan hal ini adalah Pura Langgar, di Desa Bunutin, Kabupaten Bangli, Bali.

Sebenarnya, pura ini bernama Pura Dalem Jawa, namun lebih dikenal dengan nama Pura Langgar. Seperti kita ketahui, pura adalah tempat ibadah umat Hindu, dan langgar (masjid kecil) adalah tempat ibadah umat Islam. Nah, kenapa dua tempat ibadah ini dijadikan nama pura?

Pura ini berdiri karena ada ikatan sejarah Kerajaan Bunutin dengan Kerajaan Blambangan di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Saat itu Raja Bunutin, Ida I Dewa Mas Blambangan, yang masih keturunan Raja Blambangan itu, jatuh sakit selama sekitar lima tahun. Lalu adiknya, Ida I Dewa Mas Bunutin, melakukan semadi. Di dalam semadinya itu ia mendapat perintah dari para leluhur untuk mendirikan pura dimana di dalamnya terdapat langgar. Maka dibangunlah pura itu, dan Mas Blambangan pun sehat kembali, sehingga ia dapat menjadikan Blambangan sebagai kerajaan yang makmur.

Bangunan pura ini memang unik. Di tempat utama, yaitu di tempat tertinggi di pura tersebut (utamaning mandala), terdapat bangunan segi empat. Lalu memiliki dua undakan, empat pintu, dan atapnya juga bertingkat dua. Konon, dua tingkat atap dan dua undakan itu melambangkan syariat dan tarekat dalam Islam.

Aturan sesaji di pura ini pun berbeda. Sesajen tidak boleh menggunakan daging babi, karena daging babi diharamkan oleh umat Islam. Karena itu diganti dengan daging ayam atau itik. Umat Hindu di pura ini juga mengenal kurban, seperti kurban yang dilakukan umat Muslim di hari raya Idul Adha. Namun kurban yang dilakukan umat Hindu ini dilakukan pada bulan Februari, sebelum hari raya Nyepi.

Pura Langgar memang menjadi tempat ibadah umat Hindu. Namun banyak pula umat Islam yang berziarah ke sini. Tidak hanya umat Islam di Bali, banyak pula dari daerah lain. Karena itu, di sebelah pura disediakan tempat khusus untuk shalat.

Inilah tempat ibadah yang menjadi simbol perdamaian. Dan semoga akar perdamaian ini terus berakar sehingga rakyat tidak mudah diprovokasi untuk saling membenci dan pada akhirnya memunculkan pertikaian demi kepentingan pihak-pihak tertentu.

14
Feb
10

sepak bola: ujung tombak peredam konflik nigeria

Victor Obinna dkk (picasaweb.google.com)

Nigeria, sebuah negara di Afrika, tak pernah sepi dari konflik. Di Delta Niger, kelompok militan menyerang ladang minyak terbesar di negeri itu, karena perusahaan minyak tidak memberi keuntungan bagi rakyat, dan justru dikuasai orang asing. Konflik agama, dengan jumlah korban yang banyak, juga sudah biasa terjadi di negeri ini.

Jos, sebuah kota di Nigeria tengah, memiliki potensi konflik agama yang tinggi. Jos terletak di perbatasan Nigeria utara yang mayoritas beragama Islam dan Nigeria selatan yang mayoritas beragama Kristen. Bulan lalu, terjadi kerusuhan lagi di Jos yang menewaskan sekitar 150 orang dan membuat sekitar 3.000 orang mengungsi. Penyebabnya tidak jelas, karena pihak Islam dan Kristen sama-sama memiliki alasan. Pihak Kristen mengatakan anak-anak muda Islam menyerang gereja lebih dulu. Pihak Islam menuduh orang-orang Kristen menyerang mereka saat sedang membangun rumah yang hancur dalam kerusuhan agama dua tahun lalu. Namun ada pula yang mengatakan kerusuhan ini akibat saling ejek antarsuporter sepak bola kedua belah pihak. Sulit bukan menentukan alasan konflik yang sebenarnya?

Di kota inilah Victor Obinna, gelandang sayap tim nasional Nigeria, lahir dan menghabiskan masa remajanya. Menurut Obinna, uoaya untuk meredam konflik sudah dilakukan, dan sepak bola menjadi ujung tombaknya. Di klub-klub sepak bola lokal, sekarang keluar peraturan untuk mencampur pemain Kristen dan Islam agar mereka belajar untuk membaur, agar tidak ada lagi suporter Islam dan suporter Kristen.

Di tim nasional sendiri, Tim Elang Super, masalah perbedaan agama tidak muncul. Para pemain sepak bola yang beragama Islam seperti Ayilla Yussuf dan Yusuf Mohamed, bermain dan berlatih membangun kerja sama dengan para pemain Kristen, seperti Obinna dan John Obi Mikel.

Sepak bola memang menjadi ujung tombak peredam konflik. Pada tahun 1967, Pele, bintang sepak bola Brazil, menjadi alasan gencatan senjata selama dua hari di Nigeria. Saat itu sedang terjadi perang saudara ketika Pele berkunjung ke sana. Pihak-pihak yang bertikai memutuskan untuk melakukan gencatan senjata selama Pele mengunjungi negara mereka.

Nah, apakah Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan akan bisa mengakurkan kedua pihak yang bertikai? Harapan itu selalu ada. Mantan kiper Nigeria, Peter Rufai, berharap agar ulama Kristen dan Islam berdoa bersama demi suksesnya tim nasional Nigeria. Semoga harapan ini dapat terwujud.




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.