Berikut ini petikan salah satu pidato Bung Karno pada pembukaan Kongres Nasional ke-8 BAPERKI di Istana
Olahraga Gelora “Bung Karno” pada 14 Maret 1963. Bung Karno mengungkapkan pemikirannya tentang persatuan Indonesia, tak terpecah-belah oleh perbedaan suku dan agama.
Selamat merayakan ulang tahun kemerdekaan Indonesia.
“Persatuan Bangsa yang saya sebutkan berulang-ulang itu sebenarnya sekadar alat, Saudara-Saudara. Saya berkata di JAREK.. JAREK itu singkatan dari “Jalannya Revolusi Kita”, yang saya katakan seperti malaikat-, di dalam JAREK saya sudah berkata, persatuan adalah mutlak, absolut untuk mencapai tujuan kita. Jikalau kita benar-benar hendak menyelesaikan Revolusi kita, kita harus bersatu. Jikalau kita hendak benar-benar ingin menjadi mercusuar di dalam hidup manusia di dunia ini, kita-harus bersatu. Dan di dalam hal persatuan ini saya berkata, saya menghendaki supaya di dalam persatuan segala unsur bangsa Indonesia itu disatukan. Suku apa pun, ya suku Sumatera, ya suku Jawa, ya suku Kalimantan, ya suku Bali, ya suku apa pun, bersatulah. Agama apa pun yang dipeluk oleh rakjat Indonesia ini, bersatulah, dan janganlah berpecah-belah di atas perlainan-perlainan agama itu. Asli atau tidak asli, bersatulah. Persatuan adalah mutlak, Saudara-Saudara.
Nah, maka oleh karena itu di dalam kita sekarang hendak melanjutkan Revolusi kita ini berlandaskan Manipol dan Usdek, dalam hal ini saya berkata, persatuan tetap mutlak, maka saya menghendaki agar supaya seluruh waragnegara, tanpa perbedaan asli atau tidak asli, tanpa perbedaan agama, tanpa perbedaan suku, semuanya di-Manipol-kan; semuanya kita mengerjakan Manipol dan Usdek itu!
Sampai kepada sekolah-sekolah, jangan pun universitas-universitas, kepada sekolah-sekolah yang sedang melatih kita punya cindil-cindil abang. Saudara-saudara, harus sudah di-Manipol-kan. Cindil-cindil kita yang duduk di bangku sekolah, Manipol-kan. Apalagi yang sudah gerang-gerang, tua bangka seperti kita ini, Manipolkan semuanya! Sekarang ini, sebagai tadi sudah saya katakan, Triprogram pemerintah itu satu belum terlaksana. Sandang-pangan. Dan memang ini adalah satu soal yang sulit, tetapi harus kita atasi. Dan sebagai dikatakan oleh Cak Roeslan tadi, pemerintah, dan terutama sekali presidennya, perdana menterinya, Bung Karno-nya telah berketetapan hati untuk terutama sekali berdiri di atas pengerahan tenaga rakyat.
Oleh karena itu maka Panca Program Front Nasional yang sudah saya katakan harus dilaksanakan oleh Front Nasional itu diintegrasikan di dalam usaha kita melaksanakan Triprogram Pemerintah ini. Baperki saya harap benar-benar membantu terlaksananya Pancaprogram Front Nasional itu, oleh karena dengan terlaksananya Panca Program Front Nasional, kita membantu juga terlaksananya seluruh Triprogram Pemerintah.
Saudara-Saudara, revolusi berjalan terus, dan revolusi kita ini sebagai yang sudah saya katakan bukan revolusi kecil-kecilan, revolusi Pancamuka kataku, bahkan jikalau dipikir lebih luas, sebetulnya kataku, pada waktu aku berpidato kemarin-kemarin dulu—apa waktu itu ya, di Istana Negara, seminar Hukum Nasional–sebetulnya revolusi kita ini bukan lagi Pancamuka, panca itu lima, bukan cuma lima, jaitu Revolusi Politik Revolusi Nasional, Revolusi Ekonomi, Revolusi Sosial, Revolusi membentuk Manusia Baru, lima, tidak, sebenarnya revolusi kita itu ada lebih dari lima muka. Maka boleh dikatakan Revolusi Saptamuka, sapta itu artinya tujuh. Bisa dinamakan hastamuka, hasta itu
delapan. Boleh dinamakan dasamuka, dasa yaitu sepuluh. Pendek kata revolusi kita ini adalah benar dikatakan satu revolusi multikompleks. “Asumming up of many revolutions in one generation“.
Revolusi Indonesia itu adalah satu “nation building” Indonesia yang sehebat-hebatnna. Itu, nation building Indonesia yang sehebat-hebatnya. Dan didalam hal usaha nation building itu, segala unsur-unsur daripada nation buiIding harus diilaksanakan. Apa unsur nation building? Bukan sekadar soal ekonomi bukan sekadar soal politik, bukan sekadar soal kultur, bukan soal nama, tidak nation building adalah satu pekerjaan yang multikompleks pula. Tujuan dari Revolusi Indonesia adalah nation building Indonesia. Nation building bukan di dalam arti yang sempit, sekadar membentuk satu “nation” Indonesia. Tidak lebih dari itu pula. Nation Indonesia yang bahagia, nation Indonesia yang berkepribadian tinggi, nation Indonesia yang hidup di dalam satu masyarakat adil dan makmur tanpa exploitation del’homme par l’homme. Nation building dalam arti yang seluas-luasnya. Nah, ini yang kita kerjakan sekarang ini, Saudara-Saudara. Oleh karena itu saya berkata, janganlah kita-jikalau kita hendak mendirikan nation Indonesia dalam arti yang luas itu- jangan kita masih berdiri di atas dasar-dasar yang usang, yang tadi disebutkan oleh Pak Roeslan Abdulgani.
Sudah pernah saya terangkan, kekuasaan imperialisme dulu di Indonesia apa? Negeri Belanda yang pada waktu itu rakyatnya hanya 6 juta, telah mengalahkan satu bangsa yang 40 juta. 6 Menjadi 7, 40 menjadi 50. 7 Menjadi 8, 50 menjadi 70. 8 juta menjadi 9 juta, sini menjadi 80 juta. Sekarang di sana 10 juta, sini 100 juta. Pada waktu, imperialisme Belanda mengekang, mengereh, mengalahkan Indonesia, rakjat kecil mengalahkan Indonesia dengan apa? Saya sudah berkata, bacalah kitab dari Sir John Seeley. He, mahasiswa-mahasiswi, Sir John Seeley, menulis satu kitab yang ia beri judul ‘The Expansion of England“. Dan di situ persis ia terangkan juga, bangsa Inggris di India itu berapa orang? Hanya 40 ribu orang Inggris, di India bisa mengalahkan satu rakyat yang 230 juta orang. 40 ribu mengalahkan 230 juta orang, dengan apa? Dengan alat-alat terutama sekali memecah-belah bangsa India itu, divide and rule, divide et impera.
Persis di sini pun terjadi demikian. Di sini pun berjalan pemecah-belahan. Di sini pun berjalan divide and rule. Oleh karena itu pernah saya beberkan segala usaha dari imperialisme ini dengan berkata, kekuasaan imperialisme itu ada dua macam. Dalam bahasa asingnya machtsfactor. Macht yaitu kekuasaan. Faktor kekuasaan imperialisme itu dua macam. Ada yang riil, ada yang abstrak. Ada yang bisa dilihat, bisa diraba, ada yang tak bisa dilihat, tidak bisa diraba. Yang riil yaitu machtsfactor, power factor yang riil. Apa itu? Angkatan perangnya, polisinya, penjara-penjaranya, bedil-bedilnya, meriam-meriamnya, itu adalah power factor, machtsfactor yang riil. Tapi ini tidak besar, Saudara-Saudara; lebih besar daripada machtsfactor yang riil ini adalah machtsfactor yang abstrak, yang tidak bisa dilihat, yang tidak bisa diraba. Dan machtsfactor yang abstrak ini apakah, Saudara-Saudara? Terutama sekali ialah divide and rule policy, pemecah-belahan suku dihasut benci kepada suku yang lain. Tidak ada persatuan, tidak boleh ada persatuan antara suku-suku Indonesia. Dan tidak boleh ada persatuan antara mayoritas dan minoritas. Dipisah-pisahkan majoritas dari minoritas. Malahan dibentuk minoritas yang benci kepada mayoritas dan dibuat majoritas ini benci kepada minoritas.
Pidato diambil dari medancity.com
Foto: dreamindonesia.com