03
Feb
10

perdamaian ala ulama filipina

Di tengah-tengah konflik, selalu ada celah untuk berdamai. Dan selalu ada upaya untuk perdamaian. Karena sebenarnya rakyat tidak suka konflik. Rakyat ingin hidup tenang dan harmoni bersama orang lain.

Itulah juga yang terjadi di Filipina. Mereka menjadi penggerak perdamaian, baik di antara kelompok Islam sendiri maupun antara Islam dan agama lain. Banyak hal menarik yang mereka lakukan.

Sebuah madrasah di kota Marawi, mempunyai program-program perdamaian dan dialog antaragama. Mereka melakukan pelatihan perdamaian untuk siswa dan masyarakat umum. Selain itu juga mereka mengisi program perdamaian di televisi lokal. Untuk dialog antaragama, mereka membentuk kelompok dialog bersama pemimpin agama Katolik.

Sementara itu, Asosiasi Perempuan Pengusaha Muslim Sulu melakukan pemberantasan buta huruf dan pelatihan kewirausahaan. Lulusannya lalu disalurkan bekerja di lembaga-lembaga advokasi perdamaian, dan didorong untuk melakukan bisnis untuk memerangi kemiskinan dan buta huruf.

Gerakan para ulama ini diharapkan dapat menjadi angin segar bagi permusuhan yang masih terjadi di Filipina. Kekerasan banyak mewarnai kehidupan di Filipina, terutama di wilayah Mindanao. Beberapa waktu lalu kita dikejutkan dengan penembakan 57 orang anggota klan Mangudadatu, termasuk wartawan dan warga yang sedang lewat, oleh tentara bayaran klan Ampatuan. Keberadaan tentara bayaran ini sudah berlangsung sejak lama. Dulu mereka dibayar untuk memerangi kelompok separatis. Sekarang mereka bekerja untuk klan-klan politik.

Tidak heran jika Dr. Al-Khaof A. Jukarwain, Presiden Lembaga Islam Sulu, mengatakan bahwa konflik yang terjadi bukan berasal dari rakyat. Militer dan politikuslah yang memicu konflik. Mereka yang melakukan jual-beli senjata agar mendapat keuntungan dengan mengorbankan rakyat.

Kesadaran inilah yang membuat mereka bersatu menyuarakan perdamaian. Karena itu, pada konferensi Majelis Nasional Ulama se-Filipina, mereka tidak menyertakan politikus dari partai politik. Mereka melibatkan berbagai komunitas penduduk asli Filipina yang datang dengan pakaian tradisional masing-masing. Mulai dari perempuan yang mengenakan burqa hingga yang berkebaya dan bersarung selutut. Semua bersatu, untuk perdamaian.

25
Jan
10

Kelas Kecil Pluralisme (1)

Usai Lebaran tahun lalu, seorang kawan menceritakan pengalamannya bergumul dengan pluralisme di blognya kusekolah.wordpress.com. Terima kasih mas Aripin, semoga tulisan ini menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Saya sangat berhasrat mengelola sekolah dengan siswa yang beragam agamanya. Tanpa terasa Semesta Hati, nama sekolah itu, telah lebih satu tahun menjadi tempat berkumpul sekitar 25 anak, di antaranya siswa dengan orangtua beragama Katolik dan Kristen. Seperti pertanyaan Dika kelas VIII, “Kapan aku dapat memutuskan agama yang menjadi pilihanku?” ketika ia menemukan klaim kebenaran pada setiap agama, saya lebih senang mengkaitkan agama seorang anak yang belum dewasa sebagai agama orangtuanya.

Hari Minggu kemarin, dari sore sampai selepas Isha, yang  beragama Katolik, Dika sekeluarga, komplit menjadi tamu terhormat di rumahku. Mereka mengucapkan selamat Idul Fitri dan membawa sekian oleh-oleh. Eh, si ibunya malah dengan jelas mengucapkan, “Minal aidin wal faidzin. mohon maaf lahir dan batin”. Ini oleh-oleh yang membuatku terhenyak.

Terus-terang kusampaikan bahwa saya belum bisa seperti mereka. Jangankan berinisiatif berkunjung, sepertinya, misalnya saja  diundang ikut dalam suka cita Natal sekalipun, saya belum pernah mampu menghadirinya. Pada pernyataan “undangan suka cita Natal” saya belum bisa memisahkan antara memenuhi undangan yang dapat saya penuhi dengan mengunjungi rumahnya, bercerita tentang anak-anak, tentang sekolah, tentang pekerjaan masing-masing, atau seperti kemarin itu, tentang pergaulan anak-anak, persahabatan anaknya dengan anakku; selalu terikat pada hatiku bahwa yang lebih utama pada pernyataan itu bukan perihal undangannya melainkan perihal Natal-nya. Terasa betul bagaimana aku dibesarkan dengan serta-merta menyodorkan seribu telunjuk yang mengingatkanku bahwa memenuhi undangan perayaan tersebut sama dengan membenarkan Yang Dirayakan. Musyrik deh.

Kegalauan itu persis terkait bagaimana kudibesarkan. Saya kan sudah menunjukkan seharusnya bisa memisahkan antara memenuhi undangan sebagai kewajiban sosial dengan tak memenuhinya karena undangannya berkaitan dengan Tuhan yang berbeda, dengan ritual yang lain. Namun lain pikiran, lain hati yang bergelora dengan penolakan berdasar pandangan teologis. Ada kekhawatiran. Ah, muncul arogansi. Terkuak kelemahan diri (dalam  kompetisi sosial dan kultural) sehingga membabi-buta mencari pengutamaan diri dengan dalih teologis. Eh, kok jadi ke mana-mana.

Ada waktu sekitar 2 bulan untuk berpikir dan merenung tentang diri; diri yang tak lama lagi akan menerima undangan untuk berkumpul menikmati hidangan dan perbincangan di suatu hari, saat teman-teman Katolik dan Kristen, menyebutnya Hari Natal. Semoga kumau yang kutahu jadi bagian pengalaman hidupku.

30
Des
09

Gus Dur: Menegaskan Pluralisme di Indonesia

Beruntungnya kita, rakyat Indonesia, pada suatu masa pernah memiliki presiden seperti Abdurrahman Wahid. Sikap tegasnya terhadap pluralisme membuat kita belajar memahami bahwa rakyat Indonesia memang pluralis dan juga belajar menghargai perbedaan.

Jasa Gus Dur yang tak terlupakan adalah keputusannya mencabut PP No 14 Tahun 1967 yang berisi larangan atau pembekuan kegiatan-kegiatan warga Tionghoa. Ketika PP tersebut masih berlaku, peribadatan umat Konghucu dan aktivitas-aktivitasnya harus dipendam. Umat harus sembunyi-sembunyi untuk berdoa di kelenteng.

Setelah lengser dari jabatan presiden, ia tetap tegas memperjuangkan prinsip-prinsip pluralitas. Saat Ahmadyah ditolak dimana-mana, Gus Dur mengatakan bahwa umat Ahmadyah harus dilindungi. “Jika Indonesia tidak lagi melindungi kebebasan beragama, maka negara kita ibarat memiliki UUD 1945 tetapi tidak mempunyai gigi dan negara kita tidak mempunyai dasar sama sekali.”

Mengapa banyak orang yang menolak pluralisme? Menurut Gus Dur, ini akibat ketidaktahuan mereka atas sejarah lahirnya bangsa Indonesia. Tradisi menghargai perbedaan sudah ada sejak jaman kerajaan-kerajaan Sriwijaya hingga ke Jawa sebelum bangsa Indonesia berdiri. Bahkan pada masa Kerajaan Majapahit, muncul semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu. Prinsip yang dipopulerkan oleh Mpu tantular ini tetap digunakan oleh bangsa Indonesia sampai sekarang.

Lalu bagaimana menghadapi masalah pluralisme ini? Gus Dur memiliki solusinya, yaitu bangsa Indonesia harus membangun batasan bersama. Batasan itu  adalah sikap menghargai pluralisme, termasuk saat membahas Undang-undang Dasar negara. Karena batasan ini tidak pernah dibicarakan maka terus muncul konflik antar kelompok, yaitu antara kelompok yang menganggap dirinya paling benar dengan kelompok yang menganggap bahwa Indonesia merupakan kesatuan dari sejumlah pandangan yang berbeda. Namun bagaimanapun sulitnya, perbedaan itu tetap harus didialogkan agar setiap orang belajar bertenggang rasa.

Terima kasih Gus atas pemikiran-pemikiran yang menyuarakan perdamaian di tengah-tengah situasi dimana perbedaan selalu dijadikan alasan perpecahan. Semoga pada suatu masa Indonesia bisa memiliki sikap menghargai perbedaan dan perbedaan tidak lagi dijadikan alat politik untuk memecah belah.

Pergilah dalam damai, Gus. Biarkan kami tetap berjuang untuk perdamaian.


Foto: caktips.wordpress.com

19
Des
09

memelihara konflik agama

Beberapa hari yang lalu, seorang teman menulis di status facebook-nya tentang kekecewaannya kenapa akhir-akhir ini banyak grup di facebook yang menyebarkan kebencian antaragama. Dan dua hari yang lalu, kita mendengar ada sekelompok massa merusak sebuah gereja yang sedang dibangun di Bekasi. Hal-hal semacam ini terus mewarnai kehidupan kita sehari-hari di negeri tercinta kita. Perbedaan agama terus-menerus menjadi alat untuk mengadu domba dan memicu kerusuhan.

Tampaknya kita perlu terus belajar dari negeri-negeri lain yang berhasil meminimalisir konflik agama. Salah satunya adalah Mesir. Di negeri Mesir, konflik agama jarang  terjadi. Para tokoh agama Islam Mesir memperbolehkan kaum Muslim menyampaikan ucapan selamat Natal dan mengikuti perayaan Natal. Mereka juga menghadiri undangan perayaan Natal  umat Kristen. Begitu pula sebaliknya. Para tokoh agama Kristen di Mesir juga mengucapkan selamat dan mengikuti perayaan hari besar keagamaan umat Muslim.

Peran para tokoh agama memang besar dalam mencegah konflik agama. Mengapa di Indonesia para tokoh agama kurang berperan? Padahal konflik agama tergolong tinggi di sini. Menurut Hasibullah Satrawi, aktivis Moderate Muslim Society, dalam tulisannya di harian Kompas, hal ini disebabkan masih banyak tokoh agama yang terlibat dalam kehidupan politik. Kalaupun tidak, sikap mereka terhadap agama lain dimanfaatkan oleh para politikus. Para tokoh agama sendiri juga tidak memberi contoh kepada umat dengan memberikan selamat atau menghadiri perayaan keagamaan umat agama lain.

Fenomena lain adalah masalah kemiskinan. Hidup didera kemiskinan terus-menerus menyebabkan banyak orang menerima tawaran untuk melakukan sesuatu dengan imbalan uang. Mereka bahkan tidak mengerti untuk apa sebenarnya mereka malakukan hal itu, kecuali demi mendapatkan sejumlah uang. Orang-orang miskin jualah yang pada akhirnya dikorbankan. Mereka lah yang ditangkap dan masuk bui. Sementara para provokator yang tak bertanggung jawab terus bergerilya memengaruhi orang miskin lainnya.

Dibutuhkan gerakan nasional untuk menyadarkan banyak orang tentang pentingnya perdamaian. Dibutuhkan persatuan tokoh agama, tidak hanya di tingkat elite namun juga di akar rumput. Dibutuhkan niat bersama untuk mewujudkannya.

Selamat Tahun Baru Hijriah untuk kaum Muslim, dan Selamat Natal untuk umat Kristiani.

19
Nov
09

gerakan perdamaian baku bae

Masyarakat Indonesia sejatinya adalah masyarakat yang menghargai orang lain dan senang hidup damai. Hal ini tampak dari respon masyarakat dalam menghadapi konflik yang terjadi di antara mereka. Nilai-nilai budaya dihidupkan dan dimaknai lagi untuk mengatasi konflik.

Baku bae adalah salah satu contoh nilai budaya yang digunakan untuk mendamaikan kelompok Islam dan Kristen dalam pertikaian di Ambon yang terjadi pada tahun 1999. Baku bae, artinya saling berbaikan, dijadikan sebuah gerakan oleh rakyat.

Gerakan ini diawali oleh beberapa aktivis LSM baik dari kalangan Islam maupun Kristen. Mereka membentuk panitia bersama untuk menyelesaikan konflik. Kegiatan pertama yang mereka lakukan adalah memfasilitasi pertemuan formal dua belas tokoh kelompok Muslim dan Kristen Maluku di Jakarta. Pertemuan ini bukan tanpa pertikaian. Tetap terjadi saling menyalahkan di antara kedua kelompok tersebut. Namun, justru karena mereka dapat mengungkapkan apa yang mereka rasakan justru pada akhirnya mereka saling memahami pendirian masing-masing kelompok, dan bahkan menghasilkan naskah yang disebut “Suara Hati Korban Kerusuhan Maluku”.

Pertemuan pertama dilanjutkan dengan pertemuan kedua di Bali yang diikuti 40 tokoh dari kedua kelompok. Disusul pertemuan ketiga di Yogyakarta melibatkan 80 orang yang terdiri dari para korban, pemuka agama, tokoh adat, para kapitan perang, dan tokoh-tokoh intelektual. Di sinilah muncul kesepakatan untuk membuka tempat-tempat umum yang bersifat netral seperti tempat-tempat kegiatan ekonomi, pendidikan, dan pelayanan kesehatan. Baku Bae menetapkan dua tempat netral di Nania dengan melibatkan komunitas Baguala-Passo (Kristen) dan komunitas jazirah Leihitu (Muslim) dan di Pule dengan melibatkan masyarakat kota di sekitar Pohon Puleh, Ambon. Setelah hal ini disepakati, mereka membentuk tim investigasi independen untuk menemukan akar masalah konflik Maluku.

Penyelesaian masalah seperti yang dilakukan masyarakat Ambon dapat dicontoh oleh masyarakat lain. Bukan hanya untuk menyelesaikan konflik saat konflik terlanjur terjadi, namun juga untuk mencegah konflik. Sudah saatnya nilai-nilai budaya yang arif bijaksana perlu digali lagi, diingat lagi, dan diterapkan lagi agar konflik-konflik berdarah tidak terulang. Para provokator konflik akan terus muncul namun kekuatan rakyat lah yang dapat meredam mereka.

09
Nov
09

oase perdamaian

OaseKonflik Israel-Palestina belum juga usai sampai sekarang. Bahkan seolah-olah menjadi konflik yang tak akan pernah selesai. Kalau di Jalur Gaza terjadi perang terbuka, di negeri kita perbedaan etnis dan agama seperti api dalam sekam yang dapat dengan mudah dipicu dan dijadikan alasan untuk bertikai.Kisah sebuah desa di Israel ini dapat kita jadikan contoh untuk menjaga perdamaian di negeri kita.

Di tengah-tengah hiruk-pikuknya perang, di Israel terdapat sebuah desa dimana orang Muslim, Kristen, dan Yahudi hidup berdampingan dengan damai. Desa ini disebut Neve Shalom oleh orang Yahudi dan Wahat al-Salam oleh orang Arab. Artinya, Oase Perdamaian.

Di sekolah dasar Yahudi-Arab di sana, anak-anak belajar keyakinan lain. Murid-murid berbuka puasa bersama saat Ramadhan, berbagi sukkah pada Hari Sukkot, dan bertukar hadiah kecil saat Natal. Penduduk juga melakukan dialog-dialog antar agama, karena mereka sadar bahwa konflik yang terjadi bukanlah antara Taurat, Al Quran, dan Injil. Konflik Israel-Palestina merupakan sebuah perjuangan politik antara dua kelompok bangsa yang menyangkut tanah, sumber daya, keamanan, kemerdekaan, kesetaraan, kekuasaan, identitas, dan keadilan. Kita di Indonesia juga perlu melihat latar belakang konflik yang terjadi. Dan jawabannya pasti bukan semata-mata karena perbedaan Kitab Suci yang kita miliki.

Dengan dialog pula, prasangka-prasangka dapat dibuktikan ketidakbenarannya. Seperti pepatah yang mengatakan “Don’t judge a book from it’s cover”, jangan menilai buku dari covernya. Bacalah isinya, baru kita akan tahu isi buku itu. Buku dengan cover yang tidak kita sukai dan tidak kita mengerti pun, dapat berisi hal-hal berharga yang memberi pencerahan.

Saat ini semakin banyak keluarga yang ingin pindah ke desa Oase Perdamaian ini. Semoga makin banyak pula keluarga yang mengusahakan dan menjaga perdamaian di negeri kita.

Foto: photoucket.com

29
Okt
09

sumpah setia itu

SumpahPemuda7Kemarin, delapan puluh satu tahun yang lalu, sejumlah pemuda berkumpul di Jalan Kramat 106 Jakarta Pusat. Mereka menghadiri Konggres Pemuda II. Siapakah mereka? Ternyata wakil dari berbagai organisasi pemuda yang ada pada saat itu. Ada wakil Jong Java, Jong Ambon, Jong, Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPI, dan lain-lain. Ada pula wakil dari pemuda Tionghoa. Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie menjadi pengamat, dan Kwee Thiam Hong yang menjadi wakil Jong Sumatranen Bond.

Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda II berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggotakan pelajar dari seluruh indonesia. Kongres dilaksanakan selama dua hari. Di hari pertama, 27 Oktober 1928, Moehammad Yamin berbicara tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurut Yamin, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.

Di hari kedua, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, sependapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis. Pada sesi berikutnya, Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Di akhir kongres, mengumandanglah lagu “Indonesia Raya” karya Wage Rudolf Soepratman. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Setelah itu, kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia yang kemudian kita kenal dengan Sumpah Pemuda:

“PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.

KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.

KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.”

Ikrar Sumpah Pemuda ini memberi inspirasi bagi para pemuda keturuan Arab di Indonesia, sehingga mereka kemudian mengadakan kongres di Semarang, enam tahun kemudian. Kongres ini mengumandangkan Sumpah pemuda keturunan Arab yang bertekad untuk menjadi bagian dari bangsa Indonesia dan ikut berjuang dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Kemerdekaan Indonesia disemangati dan diperjuangkan oleh para pemuda Indonesia yang bersatu di tengah perbedaan etnis, agama, budaya, bahasa, dan lainnya. Saya setuju dengan pendapat Moehammad Yamin, selain beberapa faktor lain, faktor kemauan juga menentukan persatuan Indonesia.

Kemauan, kata yang tampak sederhana, biasa kita gunakan dalam percakapan sehari-hari. Namun bermakna dalam. Semua memang berawal dari kemauan. Kalau ada kemauan, pasti ada jalan.

Kenangan tahun 1928 bukanlah hanya kenangan manis, namun perlu kemauan untuk mengingatnya dan menerapkannya kembali di dalam kehidupan rakyat Indonesia masa kini.



09
Okt
09

legenda batu panjang

Batu panjang, nama sebuah dusun di Desa Sungai Jernih, Kecamatan Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi. Ternyata ada legenda yang menarik tentang asal-usul nama dusun tersebut. Kisahnya tentang seorang anak perempuan yang tidak diberi makanan oleh keluarganya. Pelajaran bagi kita bahwa diskriminasi hanya akan menyisakan kesedihan.

Pada zaman dahulu kala, ada seorang putri kecil yang tidak diperhatikan oleh keluarganya.Tiap malam putri kecil itu kecewa karena permintaannya tak pernah dikabulkan. Sampai suatu malam ia minta sepotong ikan yang dibawa oleh kakeknya dari hasil memancing yang sudah dimasak untuk makan malam keluarga. Putri kecil minta ikan itu ke kakek, namun kakek bilang minta ke nenek. Minta ke nenek, nenek bilang minta ke ayahmu. Minta ke ayah, ayah bilang minta ke ibumu. Minta ke ibu, ibu bilang minta ke abangmu. Minta ke abang, abang bilang minta ke kakakmu.

Si putri kecil lalu menangis tersedu di atas batu di depan rumahnya sambil memandang bulan purnama dalam keadaan sangat lapar. Lalu ia menyanyikan sebuah lagu. Setiap selesai menyanyikan sebait lagu, batu yang ia duduki bertambah tinggi, terus meninggi dan makin tinggi, dan ia terus menyanyi:

Tinggi … tinggilah engkau batu, biar kakekku senang biar nenekku senang.

Tinggi… tinggilah engkau batu biar ayahku senang biar ibuku senang,

Tinggi… tinggilah engkau batu biar abangku senang biar kakakku senang.

Putri kecil menyanyi sampai tengah malam, dan tanpa disadarinya ketinggian batu itu telah mencapai bulan purnama yang bersinar cerah. Putri kecil lalu menginjakkan kakinya ke bulan purnama, kemudian menendang batu tersebut hingga roboh memanjang di bukit. Maka batu itu dinamakan batu panjang. Ketika mengetahui putri kecil telah berada di bulan, terpisah jauh dan tidak akan pernah bertemu lagi, keluarga putri kecil menangis sedih dan menyesal karena tidak memberikan sepotong ikan kepadanya malam itu.

Putri kecil mendapatkan kebahagiannya di bulan dan tersenyum manis dalam kedamaian. Menurut penduduk Kerinci di masa lalu, bila memandang bulan purnama, akan tampak seorang putri yang sedang tersenyum ke bumi dengan cahayanya yang indah.

08
Okt
09

pecah belah korban gempa

Beberapa hari terakhir, di tengah hiruk-pikuk evakuasi dan distribusi bantuan untuk korban gempa di Padang, muncul isu yang membuat gelisah. Beredar sms yang menyatakan bahwa telah terjadi diskriminasi penanganan korban gempa. Etnis Tionghoa dikatakan tidak diberi bantuan, bahkan harus membeli barang-barang bantuan. Setelah mencoba bertanya ke beberapa teman, ternyata di tengah kota Padang pun memang banyak orang yang belum mendapat bantuan, tidak hanya etnis Tionghoa.

Isu-isu semacam ini dapat mengakibatkan konflik di tengah masyarakat. Padahal kunci masalahnya adalah sistem pendistribusian dan evakuasi yang jauh dari maksimal. Tidak adanya sistem penanggulangan bencana yang jelas membuat begitu banyak orang yang tidak tertangani. Pihak TNI mengatakan mereka menyediakan helikopter sejak hari pertama gempa, namun tidak banyak dimanfaatkan. Padahal pihak pemerintah mengatakan distribusi bantuan sulit dilakukan karena kesulitan transportasi. Bukankan helikopter pak TNI dapat membantu mendistribusikannya?

Seandianya isu-isu ini benar, tampaknya pemerintah memiliki banyak pekerjaan rumah. Bukan hanya membuat sistem penanggulangan bencana yang dapat diandalkan, namun juga melatih sumber daya manusia yang menangani bencana agar mereka dapat bekerja maksimal.

Selain itu juga menangani masalah diskriminasi di Indonesia. Perbedaan etnis dan agama sebenarnya masih menjadi api dalam sekam yang sewaktu-waktu dapat berkobar kembali jika ada pihak-pihak yang menginginkannya. Sudah waktunya pemerintah serius melakukan langkah-langkah untuk memimalisir kemungkinan ini. Memberikan kebebasan kepada setiap warganegara untuk beragama dan menganut kepercayaannya masing-masing, mencabut perda-perda diskriminatif di banyak daerah. Dan tentu saja, memperhatikan hak hidup setiap etnis di Indonesia.

Marilah saat ini kita membantu para korban bencana di Padang, Pariaman, Jambi, Bengkulu, Tasikmalaya dan sekitarnya tanpa memandang ras, etnis, dan agama. Kita berikan saja ketulusan hati untuk mengiringi keprihatinan kita atas begitu banyaknya korban akibat bencana ini.

Dan… mari kita bersatu, menolak diskriminasi dan politik pecah belah.

12
Sep
09

selintas pandang

Setiap bulan puasa bertahun-tahun yang lalu, saat masih kuliah, saya tidak pernah makan siang sendirian. Selalu ada seorang teman yang menemani saya makan, walaupun dia sedang puasa. Saya selalu katakan tidak perlu ditemani tidak apa-apa, tetapi dia bilang tidak merasa terganggu dengan aksi makan saya, dan dia butuh tempat yang tenang untuk membaca. Yah di bulan puasa kantin memang menjadi sepi, justru perpustakaan yang ramai. Begitulah. Dan saya juga dengan senang hati menemani teman-teman saya buka puasa. Bahkan seringkali harus rela antri menunggu kursi kosong. Aktivitas ini berjalan begitu saja, tanpa beban.

Inilah memori yang muncul di kepala saya ketika membaca artikel tentang Desa Ngepeh di Jombang yang ditulis harian Kompas. Sebuah desa yang plural, dengan penduduk beragama Islam, Kristen Protestan, Katolik, dan Hindu. Mereka telah terbiasa gotong-royong dalam segala hal, tanpa memikirkan masalah agama, apalagi bertikai. Di hari raya Idul Fitri, seusai sholat Ied, penduduk desa mengunjungi kerabatnya yang lebih tua, biarpun kerabat ini beragama lain. Dalam mengurus warga yang meninggal pun, semua penduduk desa, apapun agamanya, ikut terlibat. Bunyi kentongan yang menjadi tandanya. Jika kentongan telah dipukul, semua orang keluar rumah untuk mengetahui ada apa gerangan dan apa yang dapat mereka lakukan. Semua itu berjalan begitu saja, dari hari ke hari, entah sejak kapan. Dan penduduk desa bertekad untuk tetap melestarikan kebersamaan mereka, tak mau dipicu konflik perbedaan agama. Karena itu mereka membentuk Paguyuban Budi Luhur pada tahun 1998.

Banyak orang di negeri kita yang telah hidup dalam harmoni setiap hari. Rasanya harmoni telah menjadi udara yang mereka hirup dalam setiap nafas mereka. Karena memang akar harmoni telah tertanam di bumi ini sejak dulu. Pada masa kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14, Mpu Tantular memiliki gagasan untuk menjembatani aliran-aliran agama yang ada yaitu Hindu Siwa dan Buddha Mahayana. Ia mememunculkan rumusan bhineka tunggal ika yang dianggap sebagai rumus keagamaan yang baru. Di dalam Kakawin Sutasoma, Mpu Tantular menulis:

Konon dikatakan bahwa Wujud Buddha dan Siwa itu berbeda. Mereka memang berbeda. Namun, bagaimana kita bisa mengenali perbedaannya dalam selintas pandang. Karena kebenaran yang diajarkan Buddha dan Siwa itu sesungguhnya satu jua. Mereka memang berbeda-beda. Namun, pada hakikatnya sama. Karena tidah ada kebenaran yang mendua. (CXXXIX.5)

Mengenali perbedaan hanya dari selintas pandang inilah yang sering menimbulkan konflik. Pandangan selintas hanya menangkap sesuatu di permukaan. Sesuatu yang terlihat dan terdengar. Tanpa mengerti makna dan latar belakangnya. Karena itu perlu dialog agar sesuatu yang tampak di permukaan itu dapat dipahami sesuai makna yang sebenarnya. Lalu, kebenaran akan muncul dalam wajahnya yang asli. Kebenaran menjadi milik bersama, bukan milik sekelompok atau segilintir orang. Bukankah sikap arogan merupakan awal munculnya tirani?