Arsip untuk Februari, 2010

14
Feb
10

sepak bola: ujung tombak peredam konflik nigeria

Victor Obinna dkk (picasaweb.google.com)

Nigeria, sebuah negara di Afrika, tak pernah sepi dari konflik. Di Delta Niger, kelompok militan menyerang ladang minyak terbesar di negeri itu, karena perusahaan minyak tidak memberi keuntungan bagi rakyat, dan justru dikuasai orang asing. Konflik agama, dengan jumlah korban yang banyak, juga sudah biasa terjadi di negeri ini.

Jos, sebuah kota di Nigeria tengah, memiliki potensi konflik agama yang tinggi. Jos terletak di perbatasan Nigeria utara yang mayoritas beragama Islam dan Nigeria selatan yang mayoritas beragama Kristen. Bulan lalu, terjadi kerusuhan lagi di Jos yang menewaskan sekitar 150 orang dan membuat sekitar 3.000 orang mengungsi. Penyebabnya tidak jelas, karena pihak Islam dan Kristen sama-sama memiliki alasan. Pihak Kristen mengatakan anak-anak muda Islam menyerang gereja lebih dulu. Pihak Islam menuduh orang-orang Kristen menyerang mereka saat sedang membangun rumah yang hancur dalam kerusuhan agama dua tahun lalu. Namun ada pula yang mengatakan kerusuhan ini akibat saling ejek antarsuporter sepak bola kedua belah pihak. Sulit bukan menentukan alasan konflik yang sebenarnya?

Di kota inilah Victor Obinna, gelandang sayap tim nasional Nigeria, lahir dan menghabiskan masa remajanya. Menurut Obinna, uoaya untuk meredam konflik sudah dilakukan, dan sepak bola menjadi ujung tombaknya. Di klub-klub sepak bola lokal, sekarang keluar peraturan untuk mencampur pemain Kristen dan Islam agar mereka belajar untuk membaur, agar tidak ada lagi suporter Islam dan suporter Kristen.

Di tim nasional sendiri, Tim Elang Super, masalah perbedaan agama tidak muncul. Para pemain sepak bola yang beragama Islam seperti Ayilla Yussuf dan Yusuf Mohamed, bermain dan berlatih membangun kerja sama dengan para pemain Kristen, seperti Obinna dan John Obi Mikel.

Sepak bola memang menjadi ujung tombak peredam konflik. Pada tahun 1967, Pele, bintang sepak bola Brazil, menjadi alasan gencatan senjata selama dua hari di Nigeria. Saat itu sedang terjadi perang saudara ketika Pele berkunjung ke sana. Pihak-pihak yang bertikai memutuskan untuk melakukan gencatan senjata selama Pele mengunjungi negara mereka.

Nah, apakah Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan akan bisa mengakurkan kedua pihak yang bertikai? Harapan itu selalu ada. Mantan kiper Nigeria, Peter Rufai, berharap agar ulama Kristen dan Islam berdoa bersama demi suksesnya tim nasional Nigeria. Semoga harapan ini dapat terwujud.

03
Feb
10

perdamaian ala ulama filipina

Di tengah-tengah konflik, selalu ada celah untuk berdamai. Dan selalu ada upaya untuk perdamaian. Karena sebenarnya rakyat tidak suka konflik. Rakyat ingin hidup tenang dan harmoni bersama orang lain.

Itulah juga yang terjadi di Filipina. Mereka menjadi penggerak perdamaian, baik di antara kelompok Islam sendiri maupun antara Islam dan agama lain. Banyak hal menarik yang mereka lakukan.

Sebuah madrasah di kota Marawi, mempunyai program-program perdamaian dan dialog antaragama. Mereka melakukan pelatihan perdamaian untuk siswa dan masyarakat umum. Selain itu juga mereka mengisi program perdamaian di televisi lokal. Untuk dialog antaragama, mereka membentuk kelompok dialog bersama pemimpin agama Katolik.

Sementara itu, Asosiasi Perempuan Pengusaha Muslim Sulu melakukan pemberantasan buta huruf dan pelatihan kewirausahaan. Lulusannya lalu disalurkan bekerja di lembaga-lembaga advokasi perdamaian, dan didorong untuk melakukan bisnis untuk memerangi kemiskinan dan buta huruf.

Gerakan para ulama ini diharapkan dapat menjadi angin segar bagi permusuhan yang masih terjadi di Filipina. Kekerasan banyak mewarnai kehidupan di Filipina, terutama di wilayah Mindanao. Beberapa waktu lalu kita dikejutkan dengan penembakan 57 orang anggota klan Mangudadatu, termasuk wartawan dan warga yang sedang lewat, oleh tentara bayaran klan Ampatuan. Keberadaan tentara bayaran ini sudah berlangsung sejak lama. Dulu mereka dibayar untuk memerangi kelompok separatis. Sekarang mereka bekerja untuk klan-klan politik.

Tidak heran jika Dr. Al-Khaof A. Jukarwain, Presiden Lembaga Islam Sulu, mengatakan bahwa konflik yang terjadi bukan berasal dari rakyat. Militer dan politikuslah yang memicu konflik. Mereka yang melakukan jual-beli senjata agar mendapat keuntungan dengan mengorbankan rakyat.

Kesadaran inilah yang membuat mereka bersatu menyuarakan perdamaian. Karena itu, pada konferensi Majelis Nasional Ulama se-Filipina, mereka tidak menyertakan politikus dari partai politik. Mereka melibatkan berbagai komunitas penduduk asli Filipina yang datang dengan pakaian tradisional masing-masing. Mulai dari perempuan yang mengenakan burqa hingga yang berkebaya dan bersarung selutut. Semua bersatu, untuk perdamaian.




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.