Toleransi antaragama di Indonesia sebenarnya sudah berakar sejak berabad yang lalu. Para pemeluk agama yang berbeda saling menghormati satu sama lain, bahkan hidup berdampingan secara damai. Salah satu jejak yang membuktikan hal ini adalah Pura Langgar, di Desa Bunutin, Kabupaten Bangli, Bali.
Sebenarnya, pura ini bernama Pura Dalem Jawa, namun lebih dikenal dengan nama Pura Langgar. Seperti kita ketahui, pura adalah tempat ibadah umat Hindu, dan langgar (masjid kecil) adalah tempat ibadah umat Islam. Nah, kenapa dua tempat ibadah ini dijadikan nama pura?
Pura ini berdiri karena ada ikatan sejarah Kerajaan Bunutin dengan Kerajaan Blambangan di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Saat itu Raja Bunutin, Ida I Dewa Mas Blambangan, yang masih keturunan Raja Blambangan itu, jatuh sakit selama sekitar lima tahun. Lalu adiknya, Ida I Dewa Mas Bunutin, melakukan semadi. Di dalam semadinya itu ia mendapat perintah dari para leluhur untuk mendirikan pura dimana di dalamnya terdapat langgar. Maka dibangunlah pura itu, dan Mas Blambangan pun sehat kembali, sehingga ia dapat menjadikan Blambangan sebagai kerajaan yang makmur.
Bangunan pura ini memang unik. Di tempat utama, yaitu di tempat tertinggi di pura tersebut (utamaning mandala), terdapat bangunan segi empat. Lalu memiliki dua undakan, empat pintu, dan atapnya juga bertingkat dua. Konon, dua tingkat atap dan dua undakan itu melambangkan syariat dan tarekat dalam Islam.
Aturan sesaji di pura ini pun berbeda. Sesajen tidak boleh menggunakan daging babi, karena daging babi diharamkan oleh umat Islam. Karena itu diganti dengan daging ayam atau itik. Umat Hindu di pura ini juga mengenal kurban, seperti kurban yang dilakukan umat Muslim di hari raya Idul Adha. Namun kurban yang dilakukan umat Hindu ini dilakukan pada bulan Februari, sebelum hari raya Nyepi.
Pura Langgar memang menjadi tempat ibadah umat Hindu. Namun banyak pula umat Islam yang berziarah ke sini. Tidak hanya umat Islam di Bali, banyak pula dari daerah lain. Karena itu, di sebelah pura disediakan tempat khusus untuk shalat.
Inilah tempat ibadah yang menjadi simbol perdamaian. Dan semoga akar perdamaian ini terus berakar sehingga rakyat tidak mudah diprovokasi untuk saling membenci dan pada akhirnya memunculkan pertikaian demi kepentingan pihak-pihak tertentu.
0 Tanggapan ke “pura langgar: harmoni hindu-islam”