Di Mentawai, terdapat dongeng yang biasa diceritakan orangtua kepada anak-anaknya menjelang tidur. Dongeng yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan, budi pekerti, untuk membantu anak-anak berelasi dengan keluarga, lingkungan, dan masyarakat mereka. Inilah salah satunya, cerita tentang burung hantu dan burung ruak-ruak, yang mengajarkan pada kita untuk menghormati perbedaan, bukannya saling mengejek dan mendendam karena perbedaan itu.
Di hutan Bat Kokok, hiduplah dua ekor burung di pohon beringin. Si Kemut, burung hantu, dan Si Turugou’gou’, seekor burung ruak-ruak. Hutan Bat Kokok adalah pemukiman pertama orang-orang Desa Katurei.
Kedua burung ini biasa bertengger di dahan pohon beringin yang bernama Si Sokut. Mereka memiliki perbedaan yang mencolok, baik bentuk badan maupun cara dan waktu mereka mencari makan. Si Turugou’gou’ ‘ mencari makan di siang hari, sedangkan Si Kemut, burung hantu, justru mencari makan di malam hari.
Pada suatu sore, ketika Si Turugou’gou baru pulang dari mencari makanan, ia melihat Si Kemut sedang tidur dengan nyenyak. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, Si Turugou’gou’ bernyanyi mengejek:
Si Kemut…Kemut si mata cekung
Ada orang pura-pura menari
Ada orang tidur siang bolong
Kalau malam keluyuran
Dasar memang burung hantu
Si Turugou’gou’ cepat-cepat terbang ke pohon lain setelah mengejek Si Kemut. Si Kemut terbangun dan kesal dengan ejekan itu. Dilemparnya ranting pohon ke arah Si Turugou’gou’, tetapi tidak kena. Si Kemut bertambah kesal. Namun ia tidak mengejar Si Tutugou’gou’, ia pun melanjutkan tidurnya di sore itu.
Ketika malam telah tiba, saat Si Turugou’gou’ sudah tidur, Si Kemut pergi mencari makan. Itulah kehidupan burung hantu. Mereka tidur di siang hari dan berburu tikus atau binatang malam lainnya di waktu malam.
Sebelum fajar menyingsing dan suara monyet di hutan berbunyi, pulanglah Si Kemut ke rumahnya di pohon beringin Si Sokut. Dilihatnya Si Turugou’gou’ nasih tertidur lelap. Pikir Si Kemut, inilah saatnya untuk membalas dendam. Maka dia pun bernyanyi keras-keras:
Turugou’gou’ si ruak
Si betis kurus ada orang dia lari
Si Ruak-ruak sok pandai menari
Kakinya kotor sekali
Nyanyian ejekan Si Kemut membangunkan si Turugou’gou’. Dia marah sekali. Sambil mengantuk Si Turugou’gou’ menyanyikan lagu ejekan untuk Si Kemut. Si Kemut pun membalas menyanyikan ejekan lagi. Mereka terus saling mengejek, hingga burung-burung lain yang tinggal di dahan dan ranting Si Sokut menjadi terganggu.
Akhirnya Si Kemut dan Si Turugou’gou’ bertengkar. Mereka ribut sekali. Melihat kedua burung itu bertengkar sambil menuding dan menepuk dada, Si Sokut yang tadinya diam saja pun mulai berbicara:
“Sahabat-sahabatku, jangan bertengkar. Jangan membeda-bedakan, apalagi menghina kawan.”
Mendengar suara Si Sokut, kedua burung itu berhenti bertengkar. Mereka memahami nasihat Si Sokut dan merasakan kebenaran di dalamnya. Mereka pun meminta maaf satu sama lain. Akhirnya, Si Kemut dan Si Turugo’gou’ kembali hidup tentram dan damai bersama Si Sokut, pohon beringin, meskipun mereka memiliki perbedaan.
Esok hari kalo anaku sudah bangun,cerita ini akan menjadi salah satu materi untuknya,menemani dan akupun berharap semoga,bukan cuma aku yang menceritakan kisah yang penuh dengan mahna kehidupan,,,,bila kita mengkajinya lebih dalam tentunya