Bale-bale di Kampung Harmoni lebih ramai dari biasanya. Sore ini, sambil menyeruput teh, kopi, dan mengunyah pisang rebus, warga Kampung Harmoni mendengarkan pengalaman menarik dari seorang kawan yang datang bertandang. Ceritanya inspiratif dan membangkitkan harapan lagi akan Indonesia yang plural dan multikultural. Inilah pengalaman pribadi Rahadian Suadi saat menengahi pertengkaran di kelasnya yang bersumber pada masalah agama. Semoga memberi inspirasi juga untuk kawan-kawan. Terima kasih kepada mas Rahadian yang sudah mengizinkan tulisannya untuk di-posting di sini.
Keterkejutan saya akhirnya menjadi hal serius yang terus saya pikirkan hingga SMA. Kejadian itu saya alami ketika duduk di bangku SMP Negeri, dimana lebih banyak teman yang mempunyai latar belakang berbeda, baik dari suku, ras, maupun agama. Belum satu minggu saya merasakan jadi anak SMP dan kebetulan menjadi ketua murid di kelas tersebut, harus menghadapi dan menengahi konflik antara dua teman yang berselisih paham mengenai agamanya masing-masing adalah yang terbaik. Sebagai anak umur 13 tahun dengan derajat kematangan rasio dan rasa yang masih sangat labil, membuat saya sedikit “lelah” karena harus menyelesaikan konflik sebelum kasus itu naik ke tingkat guru BP. Satu lagi masalah bagi saya adalah, kedua anak yang berselisih tadi lumayan ditakuti teman-temannya karena mereka berdua cukup sangar dan bertampang perang! Jauh dengan tampang saya yang pada saat itu masih culun (mudah-mudahan sekarang tidak terlalu culun…he…he…he…)
Akhirnya saya menghampiri kedua anak tersebut dan ikut dalam perdebatan mereka. Saya perhatikan, ternyata yang mereka permasalahkan adalah masalah keTuhanan,
“Waduh! Beurat euy!” kata saya dalam hati.
Mana pengetahuan agama saya juga barangkali tak sehebat mereka… dan lucunya, untuk ukuran anak-anak kecil seumur mereka sudah berdebat ayat! Waduh lagi… Untung saya punya ayat andalan yang bisa saya lontarkan ke mereka ketika mereka menampakkan ketidaksukaannya atas kehadiran saya dalam forum mereka. Sehingga saya kelihatan tidak bodoh-bodoh amat. Perseteruan pun semakin meruncing, dan berkembang menjadi lebih rumit. Pasalnya, kedua anak itu saling minta dukungan teman-temannya dan konflik meluas menjadi dua kubu! Waduh lagi untuk yang ketiga kalinya…
Karena ribut tak terelakkan dan guru kelas sebelah mulai ngintip-ngintip lewat pintu kelas karena terganggu, akhirnya saya ambil keputusan… gebrak meja… dan serentak anak-anak yang ribut itu diam mendadak. Malah saya bingung ketika mereka diam, dan semua mata tertuju ke saya. Entah berapa detik saya merasa blank namun entah kekuatan dari mana membawa alam pikiran saya mundur beberapa tahun silam.
Suasana SD Prof. Dr. Moestopo yang terletak di Jalan Dago Bandung, membuka memori ekspres saya. Suasana kelas yang tenang dan udara Bandung di era 70-an masih terasa sejuk… Pak Moestopo, pemilik sekolah, kerap dipanggil “paman profesor” oleh anak-anak murid sekolahnya.
“Slaaamat pagi paman professsooooooor…!!!” demikian lengkingan suara anak-anak yang menyambut kedatangannya di setiap kelas, seperti sedang inspeksi pasukan.
Bisa dimengerti karena Pak Moestopo ini adalah purnawirawan berbintang, yang namanya sering dikaitkan dengan jasanya dalam peristiwa 10 Nopember di Surabaya. Hampir pada setiap hari besar keagamaan yang ada di Indonesia selalu menjadi perhatiannya.
Perlu diketahui, bahwa TK-SD Moestopo ini mempunyai rumah-rumah ibadat kecil, sehingga anak-anak bisa beraktifitas dalam setiap acara keagamaan di dalamnya. Pak Moestopo selalu melibatkan anak-anak murid untuk saling berinteraksi dan membantu pada persiapan acara agama yang akan digelar di rumah-rumah ibadat mini tersebut. Secara simultan pula, para guru selalu mengingatkan pada setiap murid agar membantu teman-temannya yang berbeda agama jika berada dalam kesulitan, ataupun hanya untuk meringankan segala permasalahan mereka. Dengan simulasi-simulasi yang sangat toleran, rupanya begitu membekas pada anak-anak didik, sehingga dalam lingkungan sehari-hari pelajaran tersebut sangat membekas, dan hasilnya anak-anak didik tidak mempermasalahkan perbedaan diantara mereka dalam hal hubungan kemanusiaan. Satu hal yang saya ingat, bahwa dalam sistem pendidikannya, agama tidak pernah diarahkan untuk menjadi masalah dalam ruang publik, namun mutu pelajaran terus diintensifikasi sebagai konsumsi bagi ruang privat.
Beberapa detik saya dikembalikan kepada kenyataan, bahwa saya sedang berada di tengah-tengah konflik antar dua kubu yang berseberangan. Mereka terus menatap saya yang belum juga berbicara sepatah kata pun… Barangkali mesin diesel di otak saya sudah mulai panas, dan proses penghantaran menuju memori sudah mulai bekerja…he…he…he… soalnya waktu itu belum ada processor core 2 duo… Saya angkat bicara dan saya katakan ke mereka bahwa percuma saja mereka berdebat. Reaksi lebih keras dari kubu yang seiman dengan saya. Mereka bilang kalau saya tidak membela agama yang saya anut. Walah! Gimana ini, malah balik nyerang! Akhirnya saya cerita sedikit dengan tenang, mereka dengarkan juga. Intinya saya coba bawa mereka masing-masing berempati kalau mereka ada di posisi masing-masing. Semua merasa paling baik dan paling benar kan? Akhirnya saya perjelas, kenapa mereka percuma berdebat padahal semua merasa agamanya paling baik dan paling benar… karena agama adalah milik kita yang pribadi, tidak ada paksaan, tidak ada tekanan untuk memeluknya. Saya lempar ke mereka.
“Betul nggak?” Tanya saya dengan tegas.
Dengan kompak mereka jawab, “Betuuuul…!!!”
Saya lanjutkan lagi, agar mereka tidak melanjutkan debat kusirnya, saya tutup dengan kata-kata petuah sok tua…
“Udahlah, kenapa musti diributin lagi? Betul agama yang kita anut ini pasti yang terbaik untuk kita, jadi bukan untuk didebatin kan? Kalian debat juga belum tentu dapet pahala. Mending bantu temen yang susah tanpa mikirin agama, suku, atau rasnya. Jamin deh pasti dapet pahala!”
Dengan sok tahu dan sok bijaknya saya yakinkan mereka. Eeeh… mereka diam seperti sedang berpikir. Beberapa detik kemudian bel bunyi. Wuih… saved by the bell!! Sama sekali tidak ada kata yang terucap dari mereka sambil mengemasi barang-barangnya untuk pulang.
Keesokan harinya suasana di kelas tenang, kalaupun ribut yaaa… biasa… anak-anak puber cari perhatian lawan jenis, jadi berisik banget! Tapi sudah tidak ada lagi yang memperdebatkan agama.
Selang beberapa tahun kemudian, kasus ini terjadi lagi waktu di SMA. Problemnya lebih kompleks dan bawa-bawa suku segala! Celakanya lagi, saya jadi Ketua Murid lagi! Ya ampyuuun… kok kebagian ngurusin konflik begini lagi ya? Tapi dengan bertambahnya umur, barangkali saya masih bisa lebih bijak dibandingkan ketika di SMP. Yang mengharukan buat saya waktu itu, kedua teman yang berdebat itu akhirnya menjadi teman dekat dan saling berusaha mengenal agama masing-masing. Pertemanan mereka menjadi panjang dan mereka saling tolong-menolong hingga lulus SMA. Sekarang mereka menjadi orang berprestasi. Yang satu menjadi peneliti, yang satu menjadi ahli geologi. Barangkali pengalaman saya menengahi konflik sensitif itu bukan hal besar. Namun mempunyai kesan yang begitu mendalam. Apalagi tanah air kita ini begitu rawan konflik yang semestinya tidak perlu. Nggak penting lah… Itu semua karena pelajaran yang Paman Profesor berikan kepada kami, anak-anak didiknya. Semoga Allah menerima amal ibadahmu… Amin