Arsip untuk Kategori 'Bale-bale'

16
Mei
10

belajar toleran dari paman profesor

Bale-bale di Kampung Harmoni lebih ramai dari biasanya. Sore ini, sambil menyeruput teh, kopi, dan mengunyah pisang rebus, warga Kampung Harmoni mendengarkan pengalaman menarik dari seorang kawan yang datang bertandang. Ceritanya inspiratif dan membangkitkan harapan lagi akan Indonesia yang plural dan multikultural. Inilah pengalaman pribadi Rahadian Suadi saat menengahi pertengkaran di kelasnya yang bersumber pada masalah agama. Semoga memberi inspirasi juga untuk kawan-kawan. Terima kasih kepada mas Rahadian yang sudah mengizinkan tulisannya untuk di-posting di sini.

Keterkejutan saya akhirnya menjadi hal serius yang terus saya pikirkan hingga SMA. Kejadian itu saya alami ketika duduk di bangku SMP Negeri, dimana lebih banyak teman yang mempunyai latar belakang berbeda, baik dari suku, ras, maupun agama. Belum satu minggu saya merasakan jadi anak SMP dan kebetulan menjadi ketua murid di kelas tersebut, harus menghadapi dan menengahi konflik antara dua teman yang berselisih paham mengenai agamanya masing-masing adalah yang terbaik. Sebagai anak umur 13 tahun dengan derajat kematangan rasio dan rasa yang masih sangat labil, membuat saya sedikit “lelah” karena harus menyelesaikan konflik sebelum kasus itu naik ke tingkat guru BP. Satu lagi masalah bagi saya adalah, kedua anak yang berselisih tadi lumayan ditakuti teman-temannya karena mereka berdua cukup sangar dan bertampang perang! Jauh dengan tampang saya yang pada saat itu masih culun (mudah-mudahan sekarang tidak terlalu culun…he…he…he…)

Akhirnya saya menghampiri kedua anak tersebut dan ikut dalam perdebatan mereka. Saya perhatikan, ternyata yang mereka permasalahkan adalah masalah keTuhanan,

“Waduh! Beurat euy!” kata saya dalam hati.

Mana pengetahuan agama saya juga barangkali tak sehebat mereka… dan lucunya, untuk ukuran anak-anak kecil seumur mereka sudah berdebat ayat! Waduh lagi… Untung saya punya ayat andalan yang bisa saya lontarkan ke mereka ketika mereka menampakkan ketidaksukaannya atas kehadiran saya dalam forum mereka. Sehingga saya kelihatan tidak bodoh-bodoh amat. Perseteruan pun semakin meruncing, dan berkembang menjadi lebih rumit. Pasalnya, kedua anak itu saling minta dukungan teman-temannya dan konflik meluas menjadi dua kubu! Waduh lagi untuk yang ketiga kalinya…

Karena ribut tak terelakkan dan guru kelas sebelah mulai ngintip-ngintip lewat pintu kelas karena terganggu, akhirnya saya ambil keputusan… gebrak meja… dan serentak anak-anak yang ribut itu diam mendadak. Malah saya bingung ketika mereka diam, dan semua mata tertuju ke saya. Entah berapa detik saya merasa blank namun entah kekuatan dari mana membawa alam pikiran saya mundur beberapa tahun silam.

Suasana SD Prof. Dr. Moestopo yang terletak di Jalan Dago Bandung, membuka memori ekspres saya. Suasana kelas yang tenang dan udara Bandung di era 70-an masih terasa sejuk… Pak Moestopo, pemilik sekolah, kerap dipanggil “paman profesor” oleh anak-anak murid sekolahnya.

“Slaaamat pagi paman professsooooooor…!!!” demikian lengkingan suara anak-anak yang menyambut kedatangannya di setiap kelas, seperti sedang inspeksi pasukan.

Bisa dimengerti karena Pak Moestopo ini adalah purnawirawan berbintang, yang namanya sering dikaitkan dengan jasanya dalam peristiwa 10 Nopember di Surabaya. Hampir pada setiap hari besar keagamaan yang ada di Indonesia selalu menjadi perhatiannya.

Perlu diketahui, bahwa TK-SD Moestopo ini mempunyai rumah-rumah ibadat kecil, sehingga anak-anak bisa beraktifitas dalam setiap acara keagamaan di dalamnya. Pak Moestopo selalu melibatkan anak-anak murid untuk saling berinteraksi dan membantu pada persiapan acara agama yang akan digelar di rumah-rumah ibadat mini tersebut. Secara simultan pula, para guru selalu mengingatkan pada setiap murid agar membantu teman-temannya yang berbeda agama jika berada dalam kesulitan, ataupun hanya untuk meringankan segala permasalahan mereka. Dengan simulasi-simulasi yang sangat toleran, rupanya begitu membekas pada anak-anak didik, sehingga dalam lingkungan sehari-hari pelajaran tersebut sangat membekas, dan hasilnya anak-anak didik tidak mempermasalahkan perbedaan diantara mereka dalam hal hubungan kemanusiaan. Satu hal yang saya ingat, bahwa dalam sistem pendidikannya, agama tidak pernah diarahkan untuk menjadi masalah dalam ruang publik, namun mutu pelajaran terus diintensifikasi sebagai konsumsi bagi ruang privat.

Beberapa detik saya dikembalikan kepada kenyataan, bahwa saya sedang berada di tengah-tengah konflik antar dua kubu yang berseberangan. Mereka terus menatap saya yang belum juga berbicara sepatah kata pun… Barangkali mesin diesel di otak saya sudah mulai panas, dan proses penghantaran menuju memori sudah mulai bekerja…he…he…he… soalnya waktu itu belum ada processor core 2 duo… Saya angkat bicara dan saya katakan ke mereka bahwa percuma saja mereka berdebat. Reaksi lebih keras dari kubu yang seiman dengan saya. Mereka bilang kalau saya tidak membela agama yang saya anut. Walah! Gimana ini, malah balik nyerang! Akhirnya saya cerita sedikit dengan tenang, mereka dengarkan juga. Intinya saya coba bawa mereka masing-masing berempati kalau mereka ada di posisi masing-masing. Semua merasa paling baik dan paling benar kan? Akhirnya saya perjelas, kenapa mereka percuma berdebat padahal semua merasa agamanya paling baik dan paling benar… karena agama adalah milik kita yang pribadi, tidak ada paksaan, tidak ada tekanan untuk memeluknya. Saya lempar ke mereka.

“Betul nggak?” Tanya saya dengan tegas.

Dengan kompak mereka jawab, “Betuuuul…!!!”

Saya lanjutkan lagi, agar mereka tidak melanjutkan debat kusirnya, saya tutup dengan kata-kata petuah sok tua…

“Udahlah, kenapa musti diributin lagi? Betul agama yang kita anut ini pasti yang terbaik untuk kita, jadi bukan untuk didebatin kan? Kalian debat juga belum tentu dapet pahala. Mending bantu temen yang susah tanpa mikirin agama, suku, atau rasnya. Jamin deh pasti dapet pahala!”

Dengan sok tahu dan sok bijaknya saya yakinkan mereka. Eeeh… mereka diam seperti sedang berpikir. Beberapa detik kemudian bel bunyi. Wuih… saved by the bell!! Sama sekali tidak ada kata yang terucap dari mereka sambil mengemasi barang-barangnya untuk pulang.

Keesokan harinya suasana di kelas tenang, kalaupun ribut yaaa… biasa… anak-anak puber cari perhatian lawan jenis, jadi berisik banget! Tapi sudah tidak ada lagi yang memperdebatkan agama.

Selang beberapa tahun kemudian, kasus ini terjadi lagi waktu di SMA. Problemnya lebih kompleks dan bawa-bawa suku segala! Celakanya lagi, saya jadi Ketua Murid lagi! Ya ampyuuun… kok kebagian ngurusin konflik begini lagi ya? Tapi dengan bertambahnya umur, barangkali saya masih bisa lebih bijak dibandingkan ketika di SMP. Yang mengharukan buat saya waktu itu, kedua teman yang berdebat itu akhirnya menjadi teman dekat dan saling berusaha mengenal agama masing-masing. Pertemanan mereka menjadi panjang dan mereka saling tolong-menolong hingga lulus SMA. Sekarang mereka menjadi orang berprestasi. Yang satu menjadi peneliti, yang satu menjadi ahli geologi. Barangkali pengalaman saya menengahi konflik sensitif itu bukan hal besar. Namun mempunyai kesan yang begitu mendalam. Apalagi tanah air kita ini begitu rawan konflik yang semestinya tidak perlu. Nggak penting lah… Itu semua karena pelajaran yang Paman Profesor berikan kepada kami, anak-anak didiknya. Semoga Allah menerima amal ibadahmu… Amin

06
Mei
10

kalung oranye

Pagi ini, begitu masuk ke ruangan kantor, seorang teman memperhatikan saya dan berucap, “Wah kok kalungnya oranye, kan bajunya merah.” Sambil senyum-senyum saya menjawab, “Gak harus begitu kan. Bukannya kalung oranye ini bikin manis penampilanku he he he.” Teman-teman lain lalu nimbrung dan berkomentar tentang padu padan warna. Ah serunya diskusi pagi ini.

Seorang teman yang sedang mempersiapkan buku merangkai bunga menceritakan pengalamannya, “Dulu ya, aku menganggap aneh paduan warna merah dan oranye. Gak banget deh. Tapi waktu aku lihat rangkaian bunga yang pake warna oranye dan merah, wah kok eksotis ya.”

Teman yang lain, penggemar fashion, menambahkan, “Warna di dunia fashion itu menunjukkan keragaman lho. Bukan cuma karena memang ada banyak warna, tapi interpretasi dari warna-warna itu.”

“Wah seru nih,” celetuk seorang teman.

“Iya,” lanjutnya. “Misalnya Coco Chanel. Dia membuat gaun-gaun warna hitam karena menurut dia, warna hitam itu lambang keanggunan. Dan karena hitam untuk baju pria itu menunjukkan jiwa konservatif dan kekuatan mereka, Chanel pun membuat gaun-gaun hitam bergaya agar wanita bisa sejajar dengan pria. Lain lagi pemikiran Yves Saint Laurent. Tahun 1960-an, dia membuat gaun dengan paduan banyak warna untuk menunjukkan begitu beragamnya pemikiran manusia. Nah, yang unik juga interpretasi warna merah. Kalau di negara Barat, merah suka dikaitkan dengan warna skandal. Makanya di film-film, perempuan yang terlibat skandal, apalagi skandal besar, biasanya pakai baju merah he he he… Padahal di Timur, kayak di negeri Cina, merah itu lambang perayaan. Waktu Imlek, kita banyak lihat hiasan-hiasan warna merah kan.”

Masalah warna saja, ada begitu banyak interpretasi ya, dan karena itu warna menjadi menarik. Setiap manusia bebas menginterpretasikan sesuatu, karena kebenaran itu bukan hanya milik seseorang atau satu kelompok saja. Menghargai pemikiran yang berbeda, itu yang terpenting. Dan juga, terbuka dengan pemikiran orang lain. Rangkaian bunga merah dan oranye, misalnya. Kalau teman saya tidak terbuka menerima ide orang lain, dia tidak akan menerima dan menghargai indahnya rangkaian bunga merah-oranye itu.

“Jadi biarkanlah Tata dengan kalung oranyenya,” celetuk seorang teman. Ha ha ha ha… Ini juga interpretasi lain lagi. Buat saya, oranye itu membuat hati gembira. Saya bisa memakai kalung ini dengan baju macam-macam warna, yang penting hasilnya membuat saya ceria. Yuk mari….

04
Mei
10

pura langgar: harmoni hindu-islam

Toleransi antaragama di Indonesia sebenarnya sudah berakar sejak berabad yang lalu. Para pemeluk agama yang berbeda saling menghormati satu sama lain, bahkan hidup berdampingan secara damai. Salah satu jejak yang membuktikan hal ini adalah Pura Langgar, di Desa Bunutin, Kabupaten Bangli, Bali.

Sebenarnya, pura ini bernama Pura Dalem Jawa, namun lebih dikenal dengan nama Pura Langgar. Seperti kita ketahui, pura adalah tempat ibadah umat Hindu, dan langgar (masjid kecil) adalah tempat ibadah umat Islam. Nah, kenapa dua tempat ibadah ini dijadikan nama pura?

Pura ini berdiri karena ada ikatan sejarah Kerajaan Bunutin dengan Kerajaan Blambangan di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Saat itu Raja Bunutin, Ida I Dewa Mas Blambangan, yang masih keturunan Raja Blambangan itu, jatuh sakit selama sekitar lima tahun. Lalu adiknya, Ida I Dewa Mas Bunutin, melakukan semadi. Di dalam semadinya itu ia mendapat perintah dari para leluhur untuk mendirikan pura dimana di dalamnya terdapat langgar. Maka dibangunlah pura itu, dan Mas Blambangan pun sehat kembali, sehingga ia dapat menjadikan Blambangan sebagai kerajaan yang makmur.

Bangunan pura ini memang unik. Di tempat utama, yaitu di tempat tertinggi di pura tersebut (utamaning mandala), terdapat bangunan segi empat. Lalu memiliki dua undakan, empat pintu, dan atapnya juga bertingkat dua. Konon, dua tingkat atap dan dua undakan itu melambangkan syariat dan tarekat dalam Islam.

Aturan sesaji di pura ini pun berbeda. Sesajen tidak boleh menggunakan daging babi, karena daging babi diharamkan oleh umat Islam. Karena itu diganti dengan daging ayam atau itik. Umat Hindu di pura ini juga mengenal kurban, seperti kurban yang dilakukan umat Muslim di hari raya Idul Adha. Namun kurban yang dilakukan umat Hindu ini dilakukan pada bulan Februari, sebelum hari raya Nyepi.

Pura Langgar memang menjadi tempat ibadah umat Hindu. Namun banyak pula umat Islam yang berziarah ke sini. Tidak hanya umat Islam di Bali, banyak pula dari daerah lain. Karena itu, di sebelah pura disediakan tempat khusus untuk shalat.

Inilah tempat ibadah yang menjadi simbol perdamaian. Dan semoga akar perdamaian ini terus berakar sehingga rakyat tidak mudah diprovokasi untuk saling membenci dan pada akhirnya memunculkan pertikaian demi kepentingan pihak-pihak tertentu.

25
Jan
10

Kelas Kecil Pluralisme (1)

Usai Lebaran tahun lalu, seorang kawan menceritakan pengalamannya bergumul dengan pluralisme di blognya kusekolah.wordpress.com. Terima kasih mas Aripin, semoga tulisan ini menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Saya sangat berhasrat mengelola sekolah dengan siswa yang beragam agamanya. Tanpa terasa Semesta Hati, nama sekolah itu, telah lebih satu tahun menjadi tempat berkumpul sekitar 25 anak, di antaranya siswa dengan orangtua beragama Katolik dan Kristen. Seperti pertanyaan Dika kelas VIII, “Kapan aku dapat memutuskan agama yang menjadi pilihanku?” ketika ia menemukan klaim kebenaran pada setiap agama, saya lebih senang mengkaitkan agama seorang anak yang belum dewasa sebagai agama orangtuanya.

Hari Minggu kemarin, dari sore sampai selepas Isha, yang  beragama Katolik, Dika sekeluarga, komplit menjadi tamu terhormat di rumahku. Mereka mengucapkan selamat Idul Fitri dan membawa sekian oleh-oleh. Eh, si ibunya malah dengan jelas mengucapkan, “Minal aidin wal faidzin. mohon maaf lahir dan batin”. Ini oleh-oleh yang membuatku terhenyak.

Terus-terang kusampaikan bahwa saya belum bisa seperti mereka. Jangankan berinisiatif berkunjung, sepertinya, misalnya saja  diundang ikut dalam suka cita Natal sekalipun, saya belum pernah mampu menghadirinya. Pada pernyataan “undangan suka cita Natal” saya belum bisa memisahkan antara memenuhi undangan yang dapat saya penuhi dengan mengunjungi rumahnya, bercerita tentang anak-anak, tentang sekolah, tentang pekerjaan masing-masing, atau seperti kemarin itu, tentang pergaulan anak-anak, persahabatan anaknya dengan anakku; selalu terikat pada hatiku bahwa yang lebih utama pada pernyataan itu bukan perihal undangannya melainkan perihal Natal-nya. Terasa betul bagaimana aku dibesarkan dengan serta-merta menyodorkan seribu telunjuk yang mengingatkanku bahwa memenuhi undangan perayaan tersebut sama dengan membenarkan Yang Dirayakan. Musyrik deh.

Kegalauan itu persis terkait bagaimana kudibesarkan. Saya kan sudah menunjukkan seharusnya bisa memisahkan antara memenuhi undangan sebagai kewajiban sosial dengan tak memenuhinya karena undangannya berkaitan dengan Tuhan yang berbeda, dengan ritual yang lain. Namun lain pikiran, lain hati yang bergelora dengan penolakan berdasar pandangan teologis. Ada kekhawatiran. Ah, muncul arogansi. Terkuak kelemahan diri (dalam  kompetisi sosial dan kultural) sehingga membabi-buta mencari pengutamaan diri dengan dalih teologis. Eh, kok jadi ke mana-mana.

Ada waktu sekitar 2 bulan untuk berpikir dan merenung tentang diri; diri yang tak lama lagi akan menerima undangan untuk berkumpul menikmati hidangan dan perbincangan di suatu hari, saat teman-teman Katolik dan Kristen, menyebutnya Hari Natal. Semoga kumau yang kutahu jadi bagian pengalaman hidupku.

30
Des
09

Gus Dur: Menegaskan Pluralisme di Indonesia

Beruntungnya kita, rakyat Indonesia, pada suatu masa pernah memiliki presiden seperti Abdurrahman Wahid. Sikap tegasnya terhadap pluralisme membuat kita belajar memahami bahwa rakyat Indonesia memang pluralis dan juga belajar menghargai perbedaan.

Jasa Gus Dur yang tak terlupakan adalah keputusannya mencabut PP No 14 Tahun 1967 yang berisi larangan atau pembekuan kegiatan-kegiatan warga Tionghoa. Ketika PP tersebut masih berlaku, peribadatan umat Konghucu dan aktivitas-aktivitasnya harus dipendam. Umat harus sembunyi-sembunyi untuk berdoa di kelenteng.

Setelah lengser dari jabatan presiden, ia tetap tegas memperjuangkan prinsip-prinsip pluralitas. Saat Ahmadyah ditolak dimana-mana, Gus Dur mengatakan bahwa umat Ahmadyah harus dilindungi. “Jika Indonesia tidak lagi melindungi kebebasan beragama, maka negara kita ibarat memiliki UUD 1945 tetapi tidak mempunyai gigi dan negara kita tidak mempunyai dasar sama sekali.”

Mengapa banyak orang yang menolak pluralisme? Menurut Gus Dur, ini akibat ketidaktahuan mereka atas sejarah lahirnya bangsa Indonesia. Tradisi menghargai perbedaan sudah ada sejak jaman kerajaan-kerajaan Sriwijaya hingga ke Jawa sebelum bangsa Indonesia berdiri. Bahkan pada masa Kerajaan Majapahit, muncul semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu. Prinsip yang dipopulerkan oleh Mpu tantular ini tetap digunakan oleh bangsa Indonesia sampai sekarang.

Lalu bagaimana menghadapi masalah pluralisme ini? Gus Dur memiliki solusinya, yaitu bangsa Indonesia harus membangun batasan bersama. Batasan itu  adalah sikap menghargai pluralisme, termasuk saat membahas Undang-undang Dasar negara. Karena batasan ini tidak pernah dibicarakan maka terus muncul konflik antar kelompok, yaitu antara kelompok yang menganggap dirinya paling benar dengan kelompok yang menganggap bahwa Indonesia merupakan kesatuan dari sejumlah pandangan yang berbeda. Namun bagaimanapun sulitnya, perbedaan itu tetap harus didialogkan agar setiap orang belajar bertenggang rasa.

Terima kasih Gus atas pemikiran-pemikiran yang menyuarakan perdamaian di tengah-tengah situasi dimana perbedaan selalu dijadikan alasan perpecahan. Semoga pada suatu masa Indonesia bisa memiliki sikap menghargai perbedaan dan perbedaan tidak lagi dijadikan alat politik untuk memecah belah.

Pergilah dalam damai, Gus. Biarkan kami tetap berjuang untuk perdamaian.


Foto: caktips.wordpress.com

19
Des
09

memelihara konflik agama

Beberapa hari yang lalu, seorang teman menulis di status facebook-nya tentang kekecewaannya kenapa akhir-akhir ini banyak grup di facebook yang menyebarkan kebencian antaragama. Dan dua hari yang lalu, kita mendengar ada sekelompok massa merusak sebuah gereja yang sedang dibangun di Bekasi. Hal-hal semacam ini terus mewarnai kehidupan kita sehari-hari di negeri tercinta kita. Perbedaan agama terus-menerus menjadi alat untuk mengadu domba dan memicu kerusuhan.

Tampaknya kita perlu terus belajar dari negeri-negeri lain yang berhasil meminimalisir konflik agama. Salah satunya adalah Mesir. Di negeri Mesir, konflik agama jarang  terjadi. Para tokoh agama Islam Mesir memperbolehkan kaum Muslim menyampaikan ucapan selamat Natal dan mengikuti perayaan Natal. Mereka juga menghadiri undangan perayaan Natal  umat Kristen. Begitu pula sebaliknya. Para tokoh agama Kristen di Mesir juga mengucapkan selamat dan mengikuti perayaan hari besar keagamaan umat Muslim.

Peran para tokoh agama memang besar dalam mencegah konflik agama. Mengapa di Indonesia para tokoh agama kurang berperan? Padahal konflik agama tergolong tinggi di sini. Menurut Hasibullah Satrawi, aktivis Moderate Muslim Society, dalam tulisannya di harian Kompas, hal ini disebabkan masih banyak tokoh agama yang terlibat dalam kehidupan politik. Kalaupun tidak, sikap mereka terhadap agama lain dimanfaatkan oleh para politikus. Para tokoh agama sendiri juga tidak memberi contoh kepada umat dengan memberikan selamat atau menghadiri perayaan keagamaan umat agama lain.

Fenomena lain adalah masalah kemiskinan. Hidup didera kemiskinan terus-menerus menyebabkan banyak orang menerima tawaran untuk melakukan sesuatu dengan imbalan uang. Mereka bahkan tidak mengerti untuk apa sebenarnya mereka malakukan hal itu, kecuali demi mendapatkan sejumlah uang. Orang-orang miskin jualah yang pada akhirnya dikorbankan. Mereka lah yang ditangkap dan masuk bui. Sementara para provokator yang tak bertanggung jawab terus bergerilya memengaruhi orang miskin lainnya.

Dibutuhkan gerakan nasional untuk menyadarkan banyak orang tentang pentingnya perdamaian. Dibutuhkan persatuan tokoh agama, tidak hanya di tingkat elite namun juga di akar rumput. Dibutuhkan niat bersama untuk mewujudkannya.

Selamat Tahun Baru Hijriah untuk kaum Muslim, dan Selamat Natal untuk umat Kristiani.

19
Nov
09

gerakan perdamaian baku bae

Masyarakat Indonesia sejatinya adalah masyarakat yang menghargai orang lain dan senang hidup damai. Hal ini tampak dari respon masyarakat dalam menghadapi konflik yang terjadi di antara mereka. Nilai-nilai budaya dihidupkan dan dimaknai lagi untuk mengatasi konflik.

Baku bae adalah salah satu contoh nilai budaya yang digunakan untuk mendamaikan kelompok Islam dan Kristen dalam pertikaian di Ambon yang terjadi pada tahun 1999. Baku bae, artinya saling berbaikan, dijadikan sebuah gerakan oleh rakyat.

Gerakan ini diawali oleh beberapa aktivis LSM baik dari kalangan Islam maupun Kristen. Mereka membentuk panitia bersama untuk menyelesaikan konflik. Kegiatan pertama yang mereka lakukan adalah memfasilitasi pertemuan formal dua belas tokoh kelompok Muslim dan Kristen Maluku di Jakarta. Pertemuan ini bukan tanpa pertikaian. Tetap terjadi saling menyalahkan di antara kedua kelompok tersebut. Namun, justru karena mereka dapat mengungkapkan apa yang mereka rasakan justru pada akhirnya mereka saling memahami pendirian masing-masing kelompok, dan bahkan menghasilkan naskah yang disebut “Suara Hati Korban Kerusuhan Maluku”.

Pertemuan pertama dilanjutkan dengan pertemuan kedua di Bali yang diikuti 40 tokoh dari kedua kelompok. Disusul pertemuan ketiga di Yogyakarta melibatkan 80 orang yang terdiri dari para korban, pemuka agama, tokoh adat, para kapitan perang, dan tokoh-tokoh intelektual. Di sinilah muncul kesepakatan untuk membuka tempat-tempat umum yang bersifat netral seperti tempat-tempat kegiatan ekonomi, pendidikan, dan pelayanan kesehatan. Baku Bae menetapkan dua tempat netral di Nania dengan melibatkan komunitas Baguala-Passo (Kristen) dan komunitas jazirah Leihitu (Muslim) dan di Pule dengan melibatkan masyarakat kota di sekitar Pohon Puleh, Ambon. Setelah hal ini disepakati, mereka membentuk tim investigasi independen untuk menemukan akar masalah konflik Maluku.

Penyelesaian masalah seperti yang dilakukan masyarakat Ambon dapat dicontoh oleh masyarakat lain. Bukan hanya untuk menyelesaikan konflik saat konflik terlanjur terjadi, namun juga untuk mencegah konflik. Sudah saatnya nilai-nilai budaya yang arif bijaksana perlu digali lagi, diingat lagi, dan diterapkan lagi agar konflik-konflik berdarah tidak terulang. Para provokator konflik akan terus muncul namun kekuatan rakyat lah yang dapat meredam mereka.

29
Okt
09

sumpah setia itu

SumpahPemuda7Kemarin, delapan puluh satu tahun yang lalu, sejumlah pemuda berkumpul di Jalan Kramat 106 Jakarta Pusat. Mereka menghadiri Konggres Pemuda II. Siapakah mereka? Ternyata wakil dari berbagai organisasi pemuda yang ada pada saat itu. Ada wakil Jong Java, Jong Ambon, Jong, Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPI, dan lain-lain. Ada pula wakil dari pemuda Tionghoa. Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie menjadi pengamat, dan Kwee Thiam Hong yang menjadi wakil Jong Sumatranen Bond.

Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda II berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggotakan pelajar dari seluruh indonesia. Kongres dilaksanakan selama dua hari. Di hari pertama, 27 Oktober 1928, Moehammad Yamin berbicara tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurut Yamin, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.

Di hari kedua, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, sependapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis. Pada sesi berikutnya, Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Di akhir kongres, mengumandanglah lagu “Indonesia Raya” karya Wage Rudolf Soepratman. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Setelah itu, kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia yang kemudian kita kenal dengan Sumpah Pemuda:

“PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.

KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.

KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.”

Ikrar Sumpah Pemuda ini memberi inspirasi bagi para pemuda keturuan Arab di Indonesia, sehingga mereka kemudian mengadakan kongres di Semarang, enam tahun kemudian. Kongres ini mengumandangkan Sumpah pemuda keturunan Arab yang bertekad untuk menjadi bagian dari bangsa Indonesia dan ikut berjuang dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Kemerdekaan Indonesia disemangati dan diperjuangkan oleh para pemuda Indonesia yang bersatu di tengah perbedaan etnis, agama, budaya, bahasa, dan lainnya. Saya setuju dengan pendapat Moehammad Yamin, selain beberapa faktor lain, faktor kemauan juga menentukan persatuan Indonesia.

Kemauan, kata yang tampak sederhana, biasa kita gunakan dalam percakapan sehari-hari. Namun bermakna dalam. Semua memang berawal dari kemauan. Kalau ada kemauan, pasti ada jalan.

Kenangan tahun 1928 bukanlah hanya kenangan manis, namun perlu kemauan untuk mengingatnya dan menerapkannya kembali di dalam kehidupan rakyat Indonesia masa kini.



08
Okt
09

pecah belah korban gempa

Beberapa hari terakhir, di tengah hiruk-pikuk evakuasi dan distribusi bantuan untuk korban gempa di Padang, muncul isu yang membuat gelisah. Beredar sms yang menyatakan bahwa telah terjadi diskriminasi penanganan korban gempa. Etnis Tionghoa dikatakan tidak diberi bantuan, bahkan harus membeli barang-barang bantuan. Setelah mencoba bertanya ke beberapa teman, ternyata di tengah kota Padang pun memang banyak orang yang belum mendapat bantuan, tidak hanya etnis Tionghoa.

Isu-isu semacam ini dapat mengakibatkan konflik di tengah masyarakat. Padahal kunci masalahnya adalah sistem pendistribusian dan evakuasi yang jauh dari maksimal. Tidak adanya sistem penanggulangan bencana yang jelas membuat begitu banyak orang yang tidak tertangani. Pihak TNI mengatakan mereka menyediakan helikopter sejak hari pertama gempa, namun tidak banyak dimanfaatkan. Padahal pihak pemerintah mengatakan distribusi bantuan sulit dilakukan karena kesulitan transportasi. Bukankan helikopter pak TNI dapat membantu mendistribusikannya?

Seandianya isu-isu ini benar, tampaknya pemerintah memiliki banyak pekerjaan rumah. Bukan hanya membuat sistem penanggulangan bencana yang dapat diandalkan, namun juga melatih sumber daya manusia yang menangani bencana agar mereka dapat bekerja maksimal.

Selain itu juga menangani masalah diskriminasi di Indonesia. Perbedaan etnis dan agama sebenarnya masih menjadi api dalam sekam yang sewaktu-waktu dapat berkobar kembali jika ada pihak-pihak yang menginginkannya. Sudah waktunya pemerintah serius melakukan langkah-langkah untuk memimalisir kemungkinan ini. Memberikan kebebasan kepada setiap warganegara untuk beragama dan menganut kepercayaannya masing-masing, mencabut perda-perda diskriminatif di banyak daerah. Dan tentu saja, memperhatikan hak hidup setiap etnis di Indonesia.

Marilah saat ini kita membantu para korban bencana di Padang, Pariaman, Jambi, Bengkulu, Tasikmalaya dan sekitarnya tanpa memandang ras, etnis, dan agama. Kita berikan saja ketulusan hati untuk mengiringi keprihatinan kita atas begitu banyaknya korban akibat bencana ini.

Dan… mari kita bersatu, menolak diskriminasi dan politik pecah belah.

12
Sep
09

selintas pandang

Setiap bulan puasa bertahun-tahun yang lalu, saat masih kuliah, saya tidak pernah makan siang sendirian. Selalu ada seorang teman yang menemani saya makan, walaupun dia sedang puasa. Saya selalu katakan tidak perlu ditemani tidak apa-apa, tetapi dia bilang tidak merasa terganggu dengan aksi makan saya, dan dia butuh tempat yang tenang untuk membaca. Yah di bulan puasa kantin memang menjadi sepi, justru perpustakaan yang ramai. Begitulah. Dan saya juga dengan senang hati menemani teman-teman saya buka puasa. Bahkan seringkali harus rela antri menunggu kursi kosong. Aktivitas ini berjalan begitu saja, tanpa beban.

Inilah memori yang muncul di kepala saya ketika membaca artikel tentang Desa Ngepeh di Jombang yang ditulis harian Kompas. Sebuah desa yang plural, dengan penduduk beragama Islam, Kristen Protestan, Katolik, dan Hindu. Mereka telah terbiasa gotong-royong dalam segala hal, tanpa memikirkan masalah agama, apalagi bertikai. Di hari raya Idul Fitri, seusai sholat Ied, penduduk desa mengunjungi kerabatnya yang lebih tua, biarpun kerabat ini beragama lain. Dalam mengurus warga yang meninggal pun, semua penduduk desa, apapun agamanya, ikut terlibat. Bunyi kentongan yang menjadi tandanya. Jika kentongan telah dipukul, semua orang keluar rumah untuk mengetahui ada apa gerangan dan apa yang dapat mereka lakukan. Semua itu berjalan begitu saja, dari hari ke hari, entah sejak kapan. Dan penduduk desa bertekad untuk tetap melestarikan kebersamaan mereka, tak mau dipicu konflik perbedaan agama. Karena itu mereka membentuk Paguyuban Budi Luhur pada tahun 1998.

Banyak orang di negeri kita yang telah hidup dalam harmoni setiap hari. Rasanya harmoni telah menjadi udara yang mereka hirup dalam setiap nafas mereka. Karena memang akar harmoni telah tertanam di bumi ini sejak dulu. Pada masa kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14, Mpu Tantular memiliki gagasan untuk menjembatani aliran-aliran agama yang ada yaitu Hindu Siwa dan Buddha Mahayana. Ia mememunculkan rumusan bhineka tunggal ika yang dianggap sebagai rumus keagamaan yang baru. Di dalam Kakawin Sutasoma, Mpu Tantular menulis:

Konon dikatakan bahwa Wujud Buddha dan Siwa itu berbeda. Mereka memang berbeda. Namun, bagaimana kita bisa mengenali perbedaannya dalam selintas pandang. Karena kebenaran yang diajarkan Buddha dan Siwa itu sesungguhnya satu jua. Mereka memang berbeda-beda. Namun, pada hakikatnya sama. Karena tidah ada kebenaran yang mendua. (CXXXIX.5)

Mengenali perbedaan hanya dari selintas pandang inilah yang sering menimbulkan konflik. Pandangan selintas hanya menangkap sesuatu di permukaan. Sesuatu yang terlihat dan terdengar. Tanpa mengerti makna dan latar belakangnya. Karena itu perlu dialog agar sesuatu yang tampak di permukaan itu dapat dipahami sesuai makna yang sebenarnya. Lalu, kebenaran akan muncul dalam wajahnya yang asli. Kebenaran menjadi milik bersama, bukan milik sekelompok atau segilintir orang. Bukankah sikap arogan merupakan awal munculnya tirani?




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.