Arsip untuk Kategori 'Lumbung'

06
Jun
10

jembatan maaf

Ada sebuah kisah tentang jambatan maaf yang mengharukan. Entah siapa penulisnya, tidak diketahui. Tetapi kisah ini bisa menjadi contoh untuk menyelesaikan persoalan. Bukan hanya persalan keluarga, namun juga persoalan negara, dan dunia. Perlu dibangun jembatan agar pihak-pihak yang bertikai bisa saling memaafkan. Namun tentu saja butuh niat baik dari pihak-pihak yang bertikai, dan juga berpikir positif. Kalau si adik dalam cerita ini tidak berpikir positif, mereka akan tetap bermusuhan. Seandainya si adik berpikir seperti ini, “Wah, si kakak membangun jembatan untuk menguasai tanahku.” Pasti hasilnya berbeda kan. Semoga semakin banyak jembatan yang dibangun, semakin banyak orang yang melintasi jembatan itu, untuk menyelesaikan masalah dan menghargai perbedaan.

Alkisah di sebuah desa kecil, hiduplah dua orang kakak beradik. Entah mengapa, suatu kali keduanya terlibat dalam suatu pertengkaran serius. Baru pertama kali ini mereka bertengkar sampai sedemikian hebat.

Sebelumnya, selama 40 tahun mereka hidup rukun berdampingan. Mereka saling meminjamkan peralatan pertanian dan bahu-membahu untuk berdagang, tanpa mengalami hambatan. Namun, kerja sama yang akrab kini telah retak.

Hal ini disebabkan oleh kesalahpahaman yang sepele, yang kemudian berkembang menjadi perbedaan pendapat yang besar. AKhirnya, meledak dalam bentuk caci maki.

Beberapa minggu sudah berlalu, dan mereka saling tidak bertegur sapa. Suatu pagi, seseorang tiba-tiba mengetuk pintu rumah sang kakak. Di depan pintu berdiri seorang pria dengan membawa sebuah kotak perkakas tukang kayu dan berkata, “Maaf Tuan, sebenarnya aku sedang mencari pekerjaan, mungkin Tuan berkenan memberi beberapa pekerjaan untuk kuselesaikan.”

“Oh iya!” jawab sang kakak, “Aku punya pekerjaan untukmu. Coba lihat ladang pertanian di seberang sungai sana. Itu adalah rumah tetanggaku, ah sebetulnya ia adalah adikku. Minggu lalu ia mengeruk bendungan dengan buldoser, lalu mengalirkan airnya ke tengah padang rumput itu. Padang rumput tersebut menjadi aliran sungai yang memisahkan tanah kami. Hmmm, barangkali ia melakukan itu untuk mengejekku, tetapi aku akan membalasnya lebih setimpal. Di situ ada gundukan kayu. Aku ingin kau membuat pagar setinggi 10 meter untukku, sehingga aku tidak perlu lagi melihat rumahnya. Pokoknya aku ingin melupakannya.”

Kata tukang kayu itu, “Aku mengerti. Tetapi belikan aku paku dan peralatan, dan aku akan mengerjakan sesuatu yang bisa membuat Tuan senang.”

Kemudian, sang Kakak pergi ke kota untuk berbelanja berbagai kebutuhan untuk si tukang kayu tersebut. Setelah selesai berbelanja, sang kakak meninggalkan tukang kayu itu bekerja sendirian.

Sepanjang hari tukang kayu itu bekerja keras, mengukur, menggergaji, dan memaku. Di sore hari, ketika sang kakak kembali, tukang kayu itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya.

Ia terbelalak melihat hasil pekerjaan tukang kayu itu. Ternyata, sama sekali tidak ada pagar kayu sebagaimana yang dimintanya. Yang ada hanyalah sebuah jembatan yang melintasi sungai, yang menghubungkan tanahnya dengan ladang pertanian adiknya. Jembatan itu begitu indah dengan undak-undakan yang tertata rapi.

Dari seberang sana, terlihat sang adik bergegas berjalan menaiki jembatan itu dengan kedua tangannya terbuka lebar, dan berkata, “Kakakku, kau sungguh baik hati mau membuatkan jembatan ini. Maafkanlah sikap dan ucapanku yang telah menyakiti hatimu.”

Dua bersaudara itu pun bertemu di tengah-tengah jembatan, lalu saling berjabat tangan dan berpelukan.

Melihat itu, si tukang kayu membenahi perkakasnya dan bersiap-siap untuk pergi.

“Hai jangan pergi dulu. Tinggalah beberapa hari lagi. Kami mempunyai banyak pekerjaan untukmu,” pinta sang kakak.

“Sesungguhnya, aku ingin sekali tinggal di sini, kata si tukang kayu, tetapi masih banyak jembatan lain yang harus kuselesaikan.”

05
Mei
10

burung hantu dan burung ruak-ruak

Di Mentawai, terdapat dongeng yang biasa diceritakan orangtua kepada anak-anaknya menjelang tidur. Dongeng yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan, budi pekerti, untuk membantu anak-anak berelasi dengan keluarga, lingkungan, dan masyarakat mereka. Inilah salah satunya, cerita tentang burung hantu dan burung ruak-ruak, yang mengajarkan pada kita untuk menghormati perbedaan, bukannya saling mengejek dan mendendam karena perbedaan itu.

Di hutan Bat Kokok, hiduplah dua ekor burung di pohon beringin. Si Kemut, burung hantu, dan Si Turugou’gou’, seekor burung ruak-ruak. Hutan Bat Kokok adalah pemukiman pertama orang-orang Desa Katurei.

Kedua burung ini biasa bertengger di dahan pohon beringin yang bernama Si Sokut. Mereka memiliki perbedaan yang mencolok, baik bentuk badan maupun cara dan waktu mereka mencari makan. Si Turugou’gou’ ‘ mencari makan di siang hari, sedangkan Si Kemut, burung hantu, justru mencari makan di malam hari.

Pada suatu sore, ketika Si Turugou’gou baru pulang dari mencari makanan, ia melihat  Si Kemut sedang tidur dengan nyenyak. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, Si Turugou’gou’ bernyanyi mengejek:

Si Kemut…Kemut si mata cekung
Ada orang pura-pura menari
Ada orang tidur siang bolong
Kalau malam keluyuran
Dasar memang burung hantu

Si Turugou’gou’ cepat-cepat terbang ke pohon lain setelah mengejek Si Kemut. Si Kemut terbangun dan kesal dengan ejekan itu. Dilemparnya ranting pohon ke arah Si Turugou’gou’, tetapi tidak kena. Si Kemut bertambah kesal. Namun ia tidak mengejar Si Tutugou’gou’, ia pun melanjutkan tidurnya di sore itu.

Ketika malam telah tiba, saat Si Turugou’gou’ sudah tidur, Si Kemut pergi mencari makan. Itulah kehidupan burung hantu. Mereka tidur di siang hari dan berburu tikus atau binatang malam lainnya di waktu malam.

Sebelum fajar menyingsing dan suara monyet di hutan berbunyi, pulanglah Si Kemut ke rumahnya di pohon beringin Si Sokut. Dilihatnya Si Turugou’gou’ nasih tertidur lelap. Pikir Si Kemut, inilah saatnya untuk membalas dendam. Maka dia pun bernyanyi keras-keras:

Turugou’gou’ si ruak
Si betis kurus ada orang dia lari
Si Ruak-ruak sok pandai menari
Kakinya kotor sekali

Nyanyian ejekan Si Kemut membangunkan si Turugou’gou’. Dia marah sekali. Sambil mengantuk Si Turugou’gou’ menyanyikan lagu ejekan untuk Si Kemut. Si Kemut pun membalas menyanyikan ejekan lagi. Mereka terus saling mengejek, hingga burung-burung lain yang tinggal di dahan dan ranting Si Sokut menjadi terganggu.

Akhirnya Si Kemut dan Si Turugou’gou’ bertengkar. Mereka ribut sekali. Melihat kedua burung itu bertengkar sambil menuding dan menepuk dada, Si Sokut yang tadinya diam saja pun mulai berbicara:

“Sahabat-sahabatku, jangan bertengkar. Jangan membeda-bedakan, apalagi menghina kawan.”

Mendengar suara Si Sokut, kedua burung itu berhenti bertengkar. Mereka memahami nasihat Si Sokut dan merasakan kebenaran di dalamnya. Mereka pun meminta maaf satu sama lain. Akhirnya, Si Kemut dan Si Turugo’gou’ kembali hidup tentram dan damai bersama Si Sokut, pohon beringin, meskipun mereka memiliki perbedaan.

09
Okt
09

legenda batu panjang

Batu panjang, nama sebuah dusun di Desa Sungai Jernih, Kecamatan Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi. Ternyata ada legenda yang menarik tentang asal-usul nama dusun tersebut. Kisahnya tentang seorang anak perempuan yang tidak diberi makanan oleh keluarganya. Pelajaran bagi kita bahwa diskriminasi hanya akan menyisakan kesedihan.

Pada zaman dahulu kala, ada seorang putri kecil yang tidak diperhatikan oleh keluarganya.Tiap malam putri kecil itu kecewa karena permintaannya tak pernah dikabulkan. Sampai suatu malam ia minta sepotong ikan yang dibawa oleh kakeknya dari hasil memancing yang sudah dimasak untuk makan malam keluarga. Putri kecil minta ikan itu ke kakek, namun kakek bilang minta ke nenek. Minta ke nenek, nenek bilang minta ke ayahmu. Minta ke ayah, ayah bilang minta ke ibumu. Minta ke ibu, ibu bilang minta ke abangmu. Minta ke abang, abang bilang minta ke kakakmu.

Si putri kecil lalu menangis tersedu di atas batu di depan rumahnya sambil memandang bulan purnama dalam keadaan sangat lapar. Lalu ia menyanyikan sebuah lagu. Setiap selesai menyanyikan sebait lagu, batu yang ia duduki bertambah tinggi, terus meninggi dan makin tinggi, dan ia terus menyanyi:

Tinggi … tinggilah engkau batu, biar kakekku senang biar nenekku senang.

Tinggi… tinggilah engkau batu biar ayahku senang biar ibuku senang,

Tinggi… tinggilah engkau batu biar abangku senang biar kakakku senang.

Putri kecil menyanyi sampai tengah malam, dan tanpa disadarinya ketinggian batu itu telah mencapai bulan purnama yang bersinar cerah. Putri kecil lalu menginjakkan kakinya ke bulan purnama, kemudian menendang batu tersebut hingga roboh memanjang di bukit. Maka batu itu dinamakan batu panjang. Ketika mengetahui putri kecil telah berada di bulan, terpisah jauh dan tidak akan pernah bertemu lagi, keluarga putri kecil menangis sedih dan menyesal karena tidak memberikan sepotong ikan kepadanya malam itu.

Putri kecil mendapatkan kebahagiannya di bulan dan tersenyum manis dalam kedamaian. Menurut penduduk Kerinci di masa lalu, bila memandang bulan purnama, akan tampak seorang putri yang sedang tersenyum ke bumi dengan cahayanya yang indah.

31
Jul
09

katak kecil dan ular kecil

Alkisah, ada seekor katak kecil yang sedang melompat-lompat di dekat semak-semak di tepi hutan, ketika dia melihat ada seekor makhluk panjang menjalar di dekatnya. Bentuknya panjang, kulitnya licin dan berwarna belang-belang.

“Hai, apa kabar?” katak kecil menyapa, “Apa yang sedang kamu kerjakan di situ?”

“Oh.. aku hanya menghangatkan tubuhku di bawah sinar matahari,” jawab makhluk itu. “Nama saya Ular Kecil, kamu siapa,” tanya makhluk yang ternyata adalah ular kecil.

“Nama saya Katak Kecil. Maukah kamu bermain dengan saya?”

Akhirnya Katak Kecil dan Ular Kecil bermain bersama di dekat semak-semak itu.

“Lihat apa yang bisa kulakukan,” kata Katak Kecil, “Aku bisa mengajarimu kalau kamu mau.” Kemudian dia mengajarkan kepada Ular Kecil bagaimana cara melompat.

“Aku juga bisa mengajarimu menjalar pakai perut,” kata Ular Kecil.

Mereka saling mengajari bagaimana mereka berjalan, sampai akhirnya perut mereka lapar dan mereka memutuskan untuk pulang.

“Besok ketemu lagi ya?” kata Katak Kecil.

“Iya, aku tunggu di sini,” jawab Ular Kecil.

Sesampainya di rumah, Katak Kecil mencoba mempraktikkan apa yang diajarkan oleh kawan barunya, Ular Kecil. Induk Katak terkejut dan bertanya, “Hai, siapa yang mengajarkan cara berjalan seperti itu?”

“Ular Kecil yang mengajariku, kami tadi bermain bersama di dekat semak-semak sana itu,” jawab Katak Kecil.

“Apa? Tidakkah kau tahu anakku, bahwa keluarga ular itu jahat. Mereka mempunyai racun di taringnya. jangan sampai Ibu melihat kamu bermain dengan mereka lagi, dan juga jangan pernah berjalan seperti itu lagi. Itu tidak baik,” Ibu Katak agak marah.

Sementara itu di rumah Ular, Ular Kecil juga mencoba cara berjalan seperti yang diajarkan oleh Katak Kecil. Ibu Ular terkejut dan bertanya, “Siapa yang mengajari kamu cara berjalan seperti itu?”

“Katak Kecil Bu, tadi kami main bersama di dekat semak-semak di sebelah sana itu.”

“Apa? Tidakkah kamu tahu bahwa keluarga Ular itu sudah sejak lama bermusuhan dengan keluarga Katak? Lain kali kalau kamu ketemu dengan mereka, tangkap dan makan saja. Dan jangan melompat-lompat seperti itu lagi. Ibu tak mau melihatnya.”

Keesokan harinya, Katak Kecil datang lagi ke tempat dimana dia bermain bersama Ular Kecil kemarin, namun dia hanya diam dan memandang dari kejauhan. Ular Kecil juga demikian, dia ingat pesan Ibunya, “Begitu dekat dia, tangkap dan makan.” Tapi sebenarnya dia ingin bermain seperti kemarin lagi.

“Katak Kecil, aku tidak bisa bermain seperti kemarin lagi,” dia berteriak kepada Katak Kecil.

“Aku juga tidak bisa,” sahut Katak Kecil dari kejauhan.

Akhirnya mereka berbalik dan menghilang di balik semak. Sejak itu mereka tidak pernah main bersama lagi. Tapi dalam ingatan mereka, bermain bersama waktu itu sangatlah menyenangkan.

04
Jul
09

burung tempua dan burung puyuh

Inilah fabel dari Riau yang bercerita tentang dua ekor burung yang belajar menghargai perbedaan. Burung Tempua dan Burung Puyuh yang awalnya bersahabat, berdebat tentang sarang yang paling baik. Masing-masing menganggap sarangnya yang paling baik. Namun pada akhirnya mereka menyadari bahwa setiap makhluk memiliki perbedaan yang harus dihargai.

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seekor burung Tempua (Manyar) dan burung Puyuh di daratan Tanah Melayu. Keduanya sangat akrab dan bersahabat sejak lama. Mereka saling menolong dan menyayangi. Pada siang hari, mereka sehilir semudik mencari makan bersama-sama. Suka-duka mereka jalani bersama. Kalau hujan sama berteduh, dan kalau panas sama bernaung. Namun, pada malam hari, mereka selalu berpisah. Mereka tidur di sarangnya masing-masing.

Suatu hari, Tempua dan Puyuh berselisih pendapat tentang sarang yang baik menurut mereka. Pertama-tama Tempua menceritakan sarangnya yang aman dan nyaman kepada Puyuh. “Aku memiliki sarang yang indah. Sarangku terbuat dari helaian alan-alang dan rumput kering. Helaian itu dijalin dengan rapi, sehingga aku tidak akan basah saat hujan, dan tidak kepanasan di kala terik. Aku menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk membuatnya,” kata Tempua menjelaskan pada Puyuh.

Setelah Tempua menceritakan kondisi sarangnya panjang lebar, sekarang giliran Puyuh menceritakan sarangnya yang praktis. “Aku memiliki sarang yang lebih praktis. Aku tidak perlu menghabiskan waktu untuk membuat sarang. Cukup dengan mencari batang pohon yang tumbang dan berlindung di bawahnya. Besok, aku akan pindah bersarang di tempat lain, agar musuh tidak tahu keberadaanku pada malam hari,” cerita Puyuh tak mau kalah.

Perdebatan mereka terus berlangsung. Setiap ada kesempatan di sela-sela mencari makan, mereka kembali berdebat tentang sarang. Karena perdebatan tidak ada habisnya, mereka kemudian sepakat untuk mencoba sarang masing-masing.

Pada malam pertama, Puyuh mencoba sarang Tempua. Karena tidak bisa terbang tinggi seperti Tempua, makan dengan susah payah Puyuh memanjat pohon tempat sarang Tempua tergantung. Sesampai di sarang Tempua, Puyuh terkagum-kagum melihat sarang Tempua. “Amboi….nyaman sekali sarangmu, Kawan! Kering dan bersih, juga rapi,” kata Puyuh kagum. “Aku yakin, kamu pasti akan tidur pulas,” sahut Tempua dengan bangganya.

Tak terasa malam telah larut. Puyuh merasa haus dan meminta minum pada Tempua. “Maaf, Kawan. Aku haus nih! Tapi, tidak mungkin aku turun mencari air dalam keadaan gelap gulita begini,” keluh Puyuh pada Tempua. Tempua hanya terdiam mendengar keluhan Puyuh. Merasa keluhannya tidak dihiraukan oleh Tempua, terpaksa Puyuh menahan rasa hausnya. Karena kelelahan seharian mencari makan, maka Puyuh pun akhirnya tertidur juga.

Tengah malam saat Puyuh dan Tempua tidur pulas, tiba-tiba angin bertiup sangat kencang. Pohon tempat arang Tempua bergoyang hebat, seakan-akan mau tumbang. Sarang Tempua pun terayun ke sana kemari. Puyuh menangis ketakutan. Ia juga muntah-muntah karena terombang-ambing bagaikan perahu di tengah laut dihempas oleh gelombang besar. Melihat kawannya ketakutan dan muntah-muntah, Tempua berusaha menenangkan hati Puyuh. “Tenanglah, Puyuh. Kita tidak akan jatuh. Sebentar lagi anginnya berhenti,” sahut Tempua menghibur Puyuh. Tak lama kemudian angin berhenti, mereka pun tidur kembali.

Keesokan harinya, mereka bangun pagi-pagi sekali. Sebelum keluar dari sarang, Puyuh berkata, “Kawan, aku tidak mau lagi tidur di sarangmu. Aku takut jatuh. Lagipula aku tidak bisa menahan haus.” Tempua diam saja. Ia memaklumi alasan Puyuh. Ia menyadari bahwa Puyuh tidak terbiasa tidur di tempat yang tinggi. Mereka kemudian mencari makan seperti biasanya. Mereka juga bermain bersama.

Setelah hari mulai gelap, Puyuh mengajak Tempua mencari pohon yang tumbang untuk dijadikan tempat bermalam. Setelah mencari ke sana kemari, akhirnya Puyuh menemukan sebuah pohon yang menurutnya cocok untuk tidur di bawahnya. Di dekat tempat itu mengalir parit yang dapat diambil airnya bila merasa haus. Suasana semakin gelap. Tempua pun mulai bingung. Dari tadi ia memerhatikan di sekitar tempat itu, ia tidak melihat sarang kawannya. Karena penasaran, Tempua pun bertanya kepada Puyuh, “Puyuh, dimana kita akan tidur malam ini?” Puyuh menjawab, “Di sini. Kita akan berlindung di bawah pohon ini,” jawab Puyuh sambil menunjuk tempat itu. Tempua semakin bingung, karena tempat yang ditunjuk Puyuh itu tidak terlihat ada sarang. “Di sini?” tanya Tempua dengan bingung. “Iya, di sini. Kita tidur di bawah pohon ini,” jawab Puyuh menegaskan. Tempua merasa tidak nyaman, tetapi ia harus mengikuti apa yang dilakukan oleh Puyuh untuk menghargainya.

Beberapa saat kemudian, Puyuh sudah tertidur pulas. Tetapi Tempua masih gelisah dan tidak bisa tidur. Ia hanya mondar-mandir di samping Puyuh. Namun karena kelelahan seharian mencari makan, Tempua pun tertidur. Baru saja ia memejamkan matanya, tiba-tiba hujan turun disertai petir yang menyambar-nyambar. Hujan itu membasahi tanah tempat Puyuh dan Tempua tidur. Keduanya pun terbangun. Tempua yang sudah basah kuyup itu mulai kedinginan. “Puyuh, aku kedinginan,” kata Tempua yang mulai menggigil. “Tidak apa-apa, kalau hujan reda tentu kamu tidak akan kedinginan lagi. Ayo tidur, besok kita harus bangun pagi-pagi mencari makan,” hibur Puyuh. Tak lama kemudian, hujan pun reda. Tempua kembali tidur di samping Puyuh yang sudah tidur pulas.

Keesokan harinya, Tempua mengeluh pada Puyuh bahwa ia tidak mau tidur lagi di sarang Puyuh. Demikian sebaliknya, Puyuh pun mengeluh. Ia berjanji tidak akan tidur lagi di sarang Tempua. Masing-masing merasa tidak cocok dengan sarang kawannya. Mereka kemudian memahami bahwa setiap makhluk mempunyai kesukaan dan kebiasaan yang tidak bisa dipaksakan. Walaupun berbeda, namun mereka tetap saling menghargai, karena mereka menganggap bahwa perbedaan itu adalah hal yang wajar. Keduanya juga tetap bersahabat. Setiap hari mencari makan bersama-sama dan saling tolong-menolong.

Teks cerita diambil dari ceritarakyatnusantara.com

07
Mei
09

bunga putih di sungai kuning

bunga-putihLea Kaufmann, seorang gadis berambut hitam dan bermata sipit yang diadopsi oleh pasangan Jerman. Lea sering merasa tidak nyaman dengan fisiknya yang berbeda dengan teman-teman Jermannya. Paduan keluarga kecil ini juga sering membuat orang yang berpapasan dengan mereka selalu menatap mereka. Dan ini membuat Lea merasa terasing.

Apalagi saat muncul tulisan di koran sekolah tentang undang-undang satu keluarga satu anak di Cina yang keluar pada tahun 1979. Diberitakan bahwa setelah undang-undang tersebut diberlakukan, ada sekitar 60.000 bayi perempuan meninggal setiap tahunnya, dibunuh. Undang-undang ini muncul karena Cina tidak mampu lagi memberi makanan untuk rakyatnya yang berjumlah lebih dari 1 milyar jiwa. Lalu kenapa anak perempuan yang dikorbankan para orangtua? Karena anak laki-laki dianggap lebih berharga daripada anak perempuan. Anak laki-laki yang akan meneruskan tradisi keluarga, sedangkan anak perempuan setelah menikah akan pergi dari rumah, mengikuti suaminya.

Berita ini membuat heboh dan menjadi perbincangan setiap anak di sekolah. Anak-anak tidak setuju dengan undang-undang tersebut dan menganggap orang Cina biadab dengan melakukan pembunuhan itu. Kemarahan mereka, mereka tumpahkan pada Lea, yang memang lahir di Cina. Mereka memandang Lea dengan sinis, dan bahkan mengatakan, “Hai sipit. Biadab sekali orang-orang bangsamu itu!” Ada lagi yang berkata, “Kau beruntung karena ibumu tidak menceburkanmu ke sungai.”

Lea semakin merasa terpojok. Ia merasa tidak menjadi bagian dari apapun. Ia merasa berbeda.

Lalu Lea terdorong untuk mengetahui asal-usulnya. Dan ternyata memang orangtuanya menyimpan rahasia tentang dirinya. Rasa ingin tahu membuat ia menggeledah ruang kerja ayahnya sampai jawabannya ia temukan di dalam buku harian ayahnya. Dan bukan jawaban yang menyenangkan yang ditemukannya, yang akan membuatnya melompat kegirangan. Karena pada kenyataannya, ibu kandungnya menaruhnya di dalam kantong plastik dan memberikannya pada ibu angkatnya di sebuah pasar, di X’ian, Cina. Sebagai seorang anak remaja, Lea pun shock.

Mereka bertiga lalu pergi ke Cina untuk menelusuri jejak ibu Lea. Usaha mereka tidak sia-sia, walaupun tidak mudah. Apakah Lea memaafkan ibunya yang telah memberikannya pada orang lain? Yang telah menceburkan kakak perempuannya ke sungai beberapa saat setelah lahir?

Pada akhirnya kemarahan Lea menguap di air terjun di Sungai Kuning, tempat pembuangan bayi pada masa itu, saat berdiri bersisian dengan ibunya. Kemarahannya hilang di kelokan sungai bersama bunga-bunga putih yang mereka taburkan.

Siapa Carolin Philipps?

Buku yang menarik ini ditulis olah seseorang yang menarik pula. Carolin Philipps seorang guru Bahasa Inggris di Katolische Schule Neugraben Hamburg. Selain mengajar, ia rajin menulis buku. Inspirasinya ia temukan dengan berpetualang. Ia terjun dalam hidup anak jalanan dan menelusuri saluran pembuangan bawah tanah tempat hidup mereka di kota Bucharest, Rumania. Hasilnya adalah sebuah buku yang berjudul Mimpi Selalu Indah yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Ia juga pernah bergabung dengan imigran gelap di perbatasan Meksiko-Amerika, dan ia juga menyelami dunia pekerja anak di Vietnam.

Buku-bukunya selalu berbicara tentang menghargai perbedaan, kepedulian terhadap sesama, dan rasa syukur atas kehidupan. Tokoh-tokohnya selalu mereka yang dianggap berbeda di lingkungan sekitarnya. Tahun 2000 Carolin memperoleh penghargaan Honourable Mentions The UNESCO Award for Peace and Tolerance untuk karyanya, Milchkaffee und Streuselkuchen atau Coffee with Milk and Raisin Rolls.

Carolin menikah dengan pemuda asal Vietnam. Dia bertemu suaminya ketika menempuh studi Sejarah dan Bahasa Inggris di Universitaet Hamburg. Keluarga multikultural ini dianggap aneh saat berjalan bersama. Mereka seringkali mendengar komentar yang menyakitkan, Dan Carolin ingin mengubah hal ini.

Carolin melakukannya melalui buku. Ia ingin mengajarkan kepada anak-anak muda tentang toleransi terhadap perbedaan, perdamaian, empati kemanusiaan, dan persamaan hak.

25
Mar
09

cangkir ketiga

threecups

“… kami minum tiga cangkir teh saat membicarakan bisnis; pada cangkir pertama engkau masih orang asing; cangkir kedua, engkau teman, dan pada cangkir ketiga, engkau bergabung dengan keluarga kami. Sebuah keluarga yang siap untuk berbuat apa pun–bahkan untuk mati.” Haji Ali, Kepala Desa Korphe, Pegunungan Karakoram, Pakistan

Cangkir ketiga mengubah hidup Greg Mortenson. Dari orang asing yang tersesat dalam pendakian puncak K2, puncak gunung tertinggi kedua sedunia di Himalaya, menjadi teman, dan akhirnya menjadi saudara. Mortenson memang gagal mencapai puncak K2, namun ia mendapatkan hal yang jauh lebih berharga. Dengan bantuan David Oliver Relin yang menuliskan pengalamannya dalam Three Cups of Tea, kisah tak kenal lelahnya menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Perbedaan budaya tidak menghalangi persahabatan Mortenson dengan Haji Ali, tetua desa Korphe yang terisolir, bahkan di peta pun desa ini tak tertera. Mortenson yang kelelahan dirawat dengan penuh perhatian oleh keluarga Haji Ali.

Setelah kondisi fisik Mortenson pulih kembali, Haji Ali mengajaknya ke suatu tempat. Di sana, di ketinggian, di atas salju putih, sekitar 82 orang anak (78 anak laki-laki dan 4 anak perempuan) berlutut. Mereka sedang belajar, dan salju lah yang menjadi bangunan sekolah mereka. Desa mereka tidak memiliki sekolah, guru pun datang hanya tiga kali seminggu. Ia tercekat, dan berjanji pada Haji Ali akan membangun sekolah di Korphe.

Bayangan ini tidak pernah lepas dari benak Mortenson hingga ia kembali ke Montana, Amerika Serikat. Uang hasil kerjanya tidak cukup untuk membangun sekolah yang memerlukan biaya US$12.000 itu. Ia lalu membuat surat permohonan bantuan sebanyak 580 lembar. Setahun kemudian, ia membawa dua belas ribu dollar di ranselnya, menuju Pakistan. Ia membeli bahan-bahan bangunan yang dibutuhkan dan akan membawanya ke Korphe. Namun, satu hal yang terlewatkan oleh Mortenson. Korphe dihubungkan dengan sebuah jembatan gantung dengan desa terdekat. Tidak mungkin mengangkut bahan bangunan melalui jembatan itu. Ah, tentu saja!

Mortenson terpaksa kembali lagi ke Amerika, mengumpulkan uang lagi, kali ini untuk membangun jembatan. Pada tahun 1996, sekolah Korphe akhirnya berdiri dan anak-anak dapat bersekolah tanpa harus menahankan dinginnya salju.

Misi seorang lelaki untuk menegakkan perdamaian… Mendirikan sekolah, satu demi satu.

Mortenson terus mendirikan sekolah di Pakistan dan Afganistan. Dalam menjalankan misinya, banyak persaudaraan yang terjalin. Usahanya bukannya tak ada hambatan. Ia ditentang beberapa ulama, bahkan ada yang mengeluarkan fatwa menentang usahanya. Namun ia tidak surut. Saudara-saudaranya di Korphe dan sekitarnya berjuang bersamanya agar anak-anak, terutama anak perempuan, mendapatkan pendidikan yang layak.

Di sekolah-sekolah yang dibangun Mortenson, anak-anak diajar oleh para guru lokal yang diberi pelatihan oleh para ahli pendidikan. Satu syarat yang harus dipenuhi setiap sekolah, tidak mengajarkan fundamentalisme.

Lalu, apa yang membuat Mortenson bekerja dengan sepenuh hati di Pakistan? Ini yang ia katakan, “Ketika aku menatap mata anak-anak di Pakistan dan Afganistan, aku melihat mata anak-anakku sendiri yang penuh ketakjuban – dan berharap bahwa kita semua melakukan bagian masing-masing guna mewariskan perdamaian pada mereka, dan bukannya lingkaran tanpa akhir dari kekerasan, perang, terorisme, rasisme, eksploitasi, dan prasangka yang masih belum berhasil kita taklukkan.”

Mortenson, seorang kafir, memiliki banyak saudara di negeri Muslim. Ia menekankan bahwa orang-orang Muslim di Pakistan dan Afganistan, tidak seburuk yang sering diceritakan. Mereka juga bersaudara dengan semua orang, lintas ras, lintas agama, di tengah kecamuk perang dan prasangka-prasangka yang tak berguna. Tim kerjanya terdiri dari penganut Sunni, Syiah, dan Islamiliyah. Karena pada dasarnya setiap Kitab Suci memiliki esensi yang sama, perdamaian.

Mari kita nikmati manisnya cangkir ketiga di sepanjang perjalanan hidup kita masing-masing.

07
Mar
09

Ayo, Bergandengan Tangan!

ayo-gandengan2Anak-anak Berbicara tentang Toleransi

“Hai Frank, temanku Janaki berasal dari negara yang berdekatan dengan India, yaitu Sri Lanka. Ia mengatakan bahwa di negaranya, orang yang berbicara satu bahasa tidak menyukai orang-orang yang berbicara bahasa lain. Menurutku, hal ini sangat tidak masuk akal. Mengapa orang-orang harus bertengkar mengenai hal seperti itu?” 

Itulah salah satu pertanyaan yang dikirimkan oleh Brittany untuk Frank B. Wize, tokoh dalam buku ini. Diceritakan bahwa ia seorang penulis kolom untuk anak-anak dan ia menerima banyak surat dari anak-anak. Ada banyak pertanyaan dari anak-anak seputar toleransi.

Ada Abigail, anak yang kesal karena harus sekamar dengan adiknya yang tidak pernah bisa rapi. Atau Lizzie yang tidak mengerti mengapa beberapa anak di kelasnya lambat sekali mengerti pelajaran sehingga guru di sekolahnya harus menjelaskan berkali-kali. Dan ada Matthew yang bertanya kenapa temannya sangat sempurna, selalu berprestasi di sekolah.

Frank menjawab dengan kata-kata yang mudah dimengerti anak-anak. Seperti jawabannya untuk Brittany:

“… Ayahku mengatakan pertengkaran seperti ini telah berlangsung di beberapa negara selama beribu-ribu tahun. Menyedihkan, bukan? Aku sangat ingin melakukan sesuatu untuk menyelesaikannya. Apakah kamu merasakan hal yang sama? Menurut ayahku, kuncinya adalah toleransi… Mungkin kita tidak bisa mengubah dunia, Brittany. Namun, jika kita masing-masing mencoba untuk lebih bertoleransi terhadap perbedaan yang ada, kita bisa membuat hidup menjadi lebih baik sedikit demi sedikit.”

Dan di akhir buku, diceritakan kisah tentang Sadako Sasaki, seorang anak perempuan Jepang yang menderita kanker pada usia 11 tahun akibat radiasi bom Hiroshima. Pada saat bom jatuh di Hiroshima, ia berumur 2 tahun. Menurut kepercayaan orang Jepang, jika kamu membuat 1000 bangau kertas, permintaanmu akan dikabulkan. Sadako ingin sembuh, jadi ia membuat 1000 bangau dari kertas. Tetapi ia tidak sembuh juga. Kondisi ini tidak membuat Sadako marah, ia justru berdoa untuk perdamaian. Dan pada umur 12 tahun, ia meninggal dunia. Kisah Sadako menyentuh hati banyak orang di Jepang, sehingga anak-anak di seluruh Jepang mengumpulkan uang untuk membangun monumen di Taman Perdamaian Hiroshima untuk menghormati Sadako. Di monumen itu ditulis: Ini adalah tangisan kami, ini adalah doa kami, perdamaian di seluruh dunia.

01
Mar
09

Sahabat Sejati dalam Piama

piama1Jiwa petualang telah membawa seorang anak lelaki kecil menemukan sahabat sejatinya di balik pagar kawat di Out-With. Selama lebih dari setahun mereka bersahabat, mengobrol setiap hari selama hampir dua jam, dengan dibatasi pagar kawat yang tinggi.

Apakah arti seorang sahabat? Apakah seseorang yang selalu ada jika kita butuhkan? Apakah seseorang yang selalu mau mendengarkan cerita kita dan kita mau mendengarkan ceritanya? Apakah seseorang yang ada dalam susah dan senang? Bahkan ketika menghadapi maut sekalipun? Itulah yang terjadi di antara dua anak lelaki kecil yang diceritakan oleh John Boyne dengan menarik sekali.

Satu orang anak lelaki komandan kamp konsentrasi di Auschwitz, dan satunya lagi salah satu dari ribuan anak lelaki Yahudi yang tinggal di kamp tersebut. Keduanya lahir pada tanggal, bulan, dan tahun yang sama. Sejak berkenalan, mereka telah bersahabat. Uniknya, mereka bertemu setiap hari, kecuali ketika bumi diguyur hujan tentu saja, mengobrol, dan hanya mengobrol. Mereka berada di dua dunia yang berbeda, dibatasi kawat yang tinggi. Bruno, seorang anak Jerman dan Shmuel, anak Polandia dalam balutan piama garis-garis biru dan putih.

John Boyne, seorang penulis kelahiran Dublin, Polandia, menulis novel keempatnya ini pada tahun 2006. Novel yang diterjemahkan dalam 30 bahasa ini membuatnya menyabet penghargaan Irish Book Award: People Choice Award Book of the Year, Irish Book Award: Children’s Book of the Year, dan CBI Bisto Children’s Book of the Year. Novelnya yang pertama, The Thief of Time, muncul tahun 2000, diikuti dengan The Congress of Rough Riders (2001), Crippen (2004), Next of Kin (2006), dan sekarang ia sedang menulis novel keenamnya.

Oleh penerbit Indonesia, The Boy in the Striped Pyjamas diberi label novel dewasa. Mungkin karena buku ini tidak memberikan latar belakang tentang Auschwitz. Jadi hanya orang yang telah mengetahui sejarah Auschwitz saja yang dapat memahami buku ini. Tentu saja anak-anak akan dapat memahaminya, dengan bimbingan orangtua. Novel ini telah diadaptasi menjadi skenario film oleh Miramax. Pengambilan gambar film yang rencananya akan dirilis tahun ini dilakukan di Budapest yang disutradarai oleh Mark Herman, serta produser David Heyman. Mari kita berharap filmnya nanti akan semenarik bukunya.

Rencana kepindahan keluarga Bruno dari Berlin ke Out-With dimulai sejak The Fury (pelesetan dari The Führer, sebutan untuk Adolf Hitler) makan malam di rumah mereka, bersama kekasihnya yang cantik, Eva. Itulah lambang kenaikan pangkat ayah Bruno yang lalu ditugaskan menjadi komandan kamp konsentrasi Auschwitz, di bagian selatan Polandia, di tenggara Katowice. Kamp konsentrasi Nazi terbesar, dimana 144 juta jiwa orang Yahudi dan keturunannya melayang antara tahun 1941-1945. Wajarlah bila Boyne di akhir bukunya berharap kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi.

Pindah ke Out-With artinya Bruno harus meninggalkan semua keasyikannya menjelajahi rumahnya di Berlin yang berlantai lima dan memiliki banyak ruangan, merosot di pegangan tangga, kasih sayang kakek dan neneknya, serta teman-teman dekatnya.

John Boyne menuliskan novel ini dari pikiran anak-anak. Dan pikiran mereka memang sulit mengerti pemikiran orang dewasa yang seringkali kejam. Buat mereka, orang baik adalah orang yang selalu berbuat kebaikan kepada orang lain, sehingga mereka tidak mengerti mengapa perbuatan menolong orang lain justru harus dirahasiakan. Ibunya meminta agar perbuatan baik Pavel -seorang dokter asal Polandia yang dipekerjakan menjadi pelayan di rumahnya- menolong mengobati lukanya akibat jatuh dari ayunan harus dirahasiakan dari siapapun, terutama ayahnya. Jika ditanya, katakan ibunyalah yang mengobati lukanya. Si anak lelaki pun berpikir ibu ingin dipuji atas sesuatu yang tidak dilakukannya.

Kesederhanaan pikiran anak-anak seperti ini juga muncul dengan menyebut Auschwitz menjadi Out-With. Nama yang diyakini Gretel, kakak perempuan Bruno, juga dipercayai Bruno memang begitulah nama tempat itu, yang artinya muak. Namun dia terus bertanya, “Muak dengan apa?”

Bruno juga tidak mengerti mengapa dua kalangan yang tidak akur, orang Yahudi dan orang Seberang (istilah yang digunakan Gretel untuk mereka yang berada di luar pagar) berbicara baik-baik saja, bukannya menghalangi orang Yahudi untuk dekat-dekat dengan orang Seberang.

Ketidakmengertiannya juga selalu muncul kala mengobrol dengan sahabatnya. Bruno selalu terheran-heran dengan cerita sahabatnya. Ia tidak memiliki seorang teman pun di luar pagar, sementara Shmuel juga tidak mempunyai teman padahal di dalam pagar ada begitu banyak anak. Namun mereka tidak dapat bermain. Padahal Bruno membayangkan kehidupan di dalam pagar seperti kehidupan di Berlin. Ada deretan toko-toko, cafe, kios buah dan sayuran. Suasana yang sangat dikenalnya selama ini. Namun di akhir cerita ia terkejut karena kehidupan di dalam pagar ternyata sangat berbeda. Ia tidak dapat memahami tentang apa semua ini, termasuk ketika ia harus ikut dalam barisan yang digiring ke sebuah ruangan yang ketika pintunya ditutup terdengar suara nyaring logam berdentang. Ruangan yang menurutnya akan melindungi mereka dari hujan dan mencegah orang agar tidak masuk angin. Itulah menariknya pemikiran anak-anak.

Bahkan di saat terakhirnya pun, anak memaknainya dengan pemikiran yang positif. Bruno tidak takut dengan apa yang dialaminya, karena ia mempunyai seorang sahabat, sahabat sejati yang terus ia genggam tangannya, dan tidak ada satu orang pun yang bisa membuatnya melepas genggaman itu. Genggaman sahabat sejati dalam piama.

Pagar seperti ini ada di seluruh dunia. Semoga kita tidak pernah terpaksa dihadapkan pada pagar ini dalam hidup kita.

19
Feb
09

To Kill A Mockingbird

To Kill The Mockingbird

To Kill A Mockingbird

Novel Klasik tentang Kasih Sayang dan Prasangka

Kisah tentang masa kecil Jem dan Scout di Alabama. Kedua anak ini digambarkan sebagai anak-anak yang ceria, berjiwa petualang, dan membela keadilan.

Kehidupan keluarga Atticus Finch mulai terusik ketika Atticus memutuskan untuk membela Tom Robinson yang dituduh memerkosa seorang wanita kulit putih, Mayella Ewell. Tetapi Atticus yakin, tuduhan terhadap Tom Robinson itu tidak benar. Jem dan Scout sering diejek teman-temannya sebagai “pencinta Negro”. Namun Jem dan Scout tetap membela ayahnya.

Walaupun tidak ada bukti bahwa Tom memerkosa, namun juri, yang terdiri dari orang kulit putih, menyatakan Tom bersalah dan dijatuhi hukuman mati. Atticus naik banding, namun sayang Tom ditembak mati dengan alasan akan melarikan diri dari penjara.

Harper Lee mengupas tentang rasialisme dan prasangka-prasangka yang terlibat di dalamnya dengan cara yang memikat. Tidak heran jika novel ini memenangi hadiah Pulitzer pada tahun 1961. Ia menulis novel ini berdasarkan pengamatannya di dalam keluarga dan tetangga di sekitarnya. Dan juga kejadian-kejadian diskriminasi rasial yang terjadi di dekat tempat kelahirannya pada tahun 1936 ketika ia berumur 10 tahun, yang tetap tertanam di dalam ingatannya.

Kenapa buku ini berjudul To Kill A Mockingbird? Burung Mockingbird adalah burung yang tidak pernah bersarang di atap rumah, dan tidak pernah mengambil hasil ladang para petani. Burung ini tidak pernah merugikan orang, justru selalu bernyanyi merdu untuk menghibur orang. Membunuh burung ini artinya membunuh makhluk yang tidak berdosa. Sama dengan tindakan diskriminasi terhadap orang kulit hitam (atau diskriminasi di bidang lain juga). Mereka tidak bersalah karena warna kulitnya dan tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain. Diskriminasi telah membunuh mereka, baik fisik maupun psikis.

Di beberapa negara, buku ini digunakan dalam pelajaran di sekolah, untuk mengajarkan tentang toleransi. Novel yang dirilis pada tahun 1960 ini masih tetap relevan untuk kondisi saat ini karena rasialisme dan ketidakadilan ternyata masih tetap ada di berbagai tempat di bumi ini. Saat ini, Amerika Serikat telah memiliki seorang presiden berkulit hitam, walaupun masih terjadi diskriminasi di sana-sini.




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.