Arsip untuk Kategori 'Cerita Rakyat'

06
Jun
10

jembatan maaf

Ada sebuah kisah tentang jambatan maaf yang mengharukan. Entah siapa penulisnya, tidak diketahui. Tetapi kisah ini bisa menjadi contoh untuk menyelesaikan persoalan. Bukan hanya persalan keluarga, namun juga persoalan negara, dan dunia. Perlu dibangun jembatan agar pihak-pihak yang bertikai bisa saling memaafkan. Namun tentu saja butuh niat baik dari pihak-pihak yang bertikai, dan juga berpikir positif. Kalau si adik dalam cerita ini tidak berpikir positif, mereka akan tetap bermusuhan. Seandainya si adik berpikir seperti ini, “Wah, si kakak membangun jembatan untuk menguasai tanahku.” Pasti hasilnya berbeda kan. Semoga semakin banyak jembatan yang dibangun, semakin banyak orang yang melintasi jembatan itu, untuk menyelesaikan masalah dan menghargai perbedaan.

Alkisah di sebuah desa kecil, hiduplah dua orang kakak beradik. Entah mengapa, suatu kali keduanya terlibat dalam suatu pertengkaran serius. Baru pertama kali ini mereka bertengkar sampai sedemikian hebat.

Sebelumnya, selama 40 tahun mereka hidup rukun berdampingan. Mereka saling meminjamkan peralatan pertanian dan bahu-membahu untuk berdagang, tanpa mengalami hambatan. Namun, kerja sama yang akrab kini telah retak.

Hal ini disebabkan oleh kesalahpahaman yang sepele, yang kemudian berkembang menjadi perbedaan pendapat yang besar. AKhirnya, meledak dalam bentuk caci maki.

Beberapa minggu sudah berlalu, dan mereka saling tidak bertegur sapa. Suatu pagi, seseorang tiba-tiba mengetuk pintu rumah sang kakak. Di depan pintu berdiri seorang pria dengan membawa sebuah kotak perkakas tukang kayu dan berkata, “Maaf Tuan, sebenarnya aku sedang mencari pekerjaan, mungkin Tuan berkenan memberi beberapa pekerjaan untuk kuselesaikan.”

“Oh iya!” jawab sang kakak, “Aku punya pekerjaan untukmu. Coba lihat ladang pertanian di seberang sungai sana. Itu adalah rumah tetanggaku, ah sebetulnya ia adalah adikku. Minggu lalu ia mengeruk bendungan dengan buldoser, lalu mengalirkan airnya ke tengah padang rumput itu. Padang rumput tersebut menjadi aliran sungai yang memisahkan tanah kami. Hmmm, barangkali ia melakukan itu untuk mengejekku, tetapi aku akan membalasnya lebih setimpal. Di situ ada gundukan kayu. Aku ingin kau membuat pagar setinggi 10 meter untukku, sehingga aku tidak perlu lagi melihat rumahnya. Pokoknya aku ingin melupakannya.”

Kata tukang kayu itu, “Aku mengerti. Tetapi belikan aku paku dan peralatan, dan aku akan mengerjakan sesuatu yang bisa membuat Tuan senang.”

Kemudian, sang Kakak pergi ke kota untuk berbelanja berbagai kebutuhan untuk si tukang kayu tersebut. Setelah selesai berbelanja, sang kakak meninggalkan tukang kayu itu bekerja sendirian.

Sepanjang hari tukang kayu itu bekerja keras, mengukur, menggergaji, dan memaku. Di sore hari, ketika sang kakak kembali, tukang kayu itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya.

Ia terbelalak melihat hasil pekerjaan tukang kayu itu. Ternyata, sama sekali tidak ada pagar kayu sebagaimana yang dimintanya. Yang ada hanyalah sebuah jembatan yang melintasi sungai, yang menghubungkan tanahnya dengan ladang pertanian adiknya. Jembatan itu begitu indah dengan undak-undakan yang tertata rapi.

Dari seberang sana, terlihat sang adik bergegas berjalan menaiki jembatan itu dengan kedua tangannya terbuka lebar, dan berkata, “Kakakku, kau sungguh baik hati mau membuatkan jembatan ini. Maafkanlah sikap dan ucapanku yang telah menyakiti hatimu.”

Dua bersaudara itu pun bertemu di tengah-tengah jembatan, lalu saling berjabat tangan dan berpelukan.

Melihat itu, si tukang kayu membenahi perkakasnya dan bersiap-siap untuk pergi.

“Hai jangan pergi dulu. Tinggalah beberapa hari lagi. Kami mempunyai banyak pekerjaan untukmu,” pinta sang kakak.

“Sesungguhnya, aku ingin sekali tinggal di sini, kata si tukang kayu, tetapi masih banyak jembatan lain yang harus kuselesaikan.”

05
Mei
10

burung hantu dan burung ruak-ruak

Di Mentawai, terdapat dongeng yang biasa diceritakan orangtua kepada anak-anaknya menjelang tidur. Dongeng yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan, budi pekerti, untuk membantu anak-anak berelasi dengan keluarga, lingkungan, dan masyarakat mereka. Inilah salah satunya, cerita tentang burung hantu dan burung ruak-ruak, yang mengajarkan pada kita untuk menghormati perbedaan, bukannya saling mengejek dan mendendam karena perbedaan itu.

Di hutan Bat Kokok, hiduplah dua ekor burung di pohon beringin. Si Kemut, burung hantu, dan Si Turugou’gou’, seekor burung ruak-ruak. Hutan Bat Kokok adalah pemukiman pertama orang-orang Desa Katurei.

Kedua burung ini biasa bertengger di dahan pohon beringin yang bernama Si Sokut. Mereka memiliki perbedaan yang mencolok, baik bentuk badan maupun cara dan waktu mereka mencari makan. Si Turugou’gou’ ‘ mencari makan di siang hari, sedangkan Si Kemut, burung hantu, justru mencari makan di malam hari.

Pada suatu sore, ketika Si Turugou’gou baru pulang dari mencari makanan, ia melihat  Si Kemut sedang tidur dengan nyenyak. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, Si Turugou’gou’ bernyanyi mengejek:

Si Kemut…Kemut si mata cekung
Ada orang pura-pura menari
Ada orang tidur siang bolong
Kalau malam keluyuran
Dasar memang burung hantu

Si Turugou’gou’ cepat-cepat terbang ke pohon lain setelah mengejek Si Kemut. Si Kemut terbangun dan kesal dengan ejekan itu. Dilemparnya ranting pohon ke arah Si Turugou’gou’, tetapi tidak kena. Si Kemut bertambah kesal. Namun ia tidak mengejar Si Tutugou’gou’, ia pun melanjutkan tidurnya di sore itu.

Ketika malam telah tiba, saat Si Turugou’gou’ sudah tidur, Si Kemut pergi mencari makan. Itulah kehidupan burung hantu. Mereka tidur di siang hari dan berburu tikus atau binatang malam lainnya di waktu malam.

Sebelum fajar menyingsing dan suara monyet di hutan berbunyi, pulanglah Si Kemut ke rumahnya di pohon beringin Si Sokut. Dilihatnya Si Turugou’gou’ nasih tertidur lelap. Pikir Si Kemut, inilah saatnya untuk membalas dendam. Maka dia pun bernyanyi keras-keras:

Turugou’gou’ si ruak
Si betis kurus ada orang dia lari
Si Ruak-ruak sok pandai menari
Kakinya kotor sekali

Nyanyian ejekan Si Kemut membangunkan si Turugou’gou’. Dia marah sekali. Sambil mengantuk Si Turugou’gou’ menyanyikan lagu ejekan untuk Si Kemut. Si Kemut pun membalas menyanyikan ejekan lagi. Mereka terus saling mengejek, hingga burung-burung lain yang tinggal di dahan dan ranting Si Sokut menjadi terganggu.

Akhirnya Si Kemut dan Si Turugou’gou’ bertengkar. Mereka ribut sekali. Melihat kedua burung itu bertengkar sambil menuding dan menepuk dada, Si Sokut yang tadinya diam saja pun mulai berbicara:

“Sahabat-sahabatku, jangan bertengkar. Jangan membeda-bedakan, apalagi menghina kawan.”

Mendengar suara Si Sokut, kedua burung itu berhenti bertengkar. Mereka memahami nasihat Si Sokut dan merasakan kebenaran di dalamnya. Mereka pun meminta maaf satu sama lain. Akhirnya, Si Kemut dan Si Turugo’gou’ kembali hidup tentram dan damai bersama Si Sokut, pohon beringin, meskipun mereka memiliki perbedaan.

09
Okt
09

legenda batu panjang

Batu panjang, nama sebuah dusun di Desa Sungai Jernih, Kecamatan Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi. Ternyata ada legenda yang menarik tentang asal-usul nama dusun tersebut. Kisahnya tentang seorang anak perempuan yang tidak diberi makanan oleh keluarganya. Pelajaran bagi kita bahwa diskriminasi hanya akan menyisakan kesedihan.

Pada zaman dahulu kala, ada seorang putri kecil yang tidak diperhatikan oleh keluarganya.Tiap malam putri kecil itu kecewa karena permintaannya tak pernah dikabulkan. Sampai suatu malam ia minta sepotong ikan yang dibawa oleh kakeknya dari hasil memancing yang sudah dimasak untuk makan malam keluarga. Putri kecil minta ikan itu ke kakek, namun kakek bilang minta ke nenek. Minta ke nenek, nenek bilang minta ke ayahmu. Minta ke ayah, ayah bilang minta ke ibumu. Minta ke ibu, ibu bilang minta ke abangmu. Minta ke abang, abang bilang minta ke kakakmu.

Si putri kecil lalu menangis tersedu di atas batu di depan rumahnya sambil memandang bulan purnama dalam keadaan sangat lapar. Lalu ia menyanyikan sebuah lagu. Setiap selesai menyanyikan sebait lagu, batu yang ia duduki bertambah tinggi, terus meninggi dan makin tinggi, dan ia terus menyanyi:

Tinggi … tinggilah engkau batu, biar kakekku senang biar nenekku senang.

Tinggi… tinggilah engkau batu biar ayahku senang biar ibuku senang,

Tinggi… tinggilah engkau batu biar abangku senang biar kakakku senang.

Putri kecil menyanyi sampai tengah malam, dan tanpa disadarinya ketinggian batu itu telah mencapai bulan purnama yang bersinar cerah. Putri kecil lalu menginjakkan kakinya ke bulan purnama, kemudian menendang batu tersebut hingga roboh memanjang di bukit. Maka batu itu dinamakan batu panjang. Ketika mengetahui putri kecil telah berada di bulan, terpisah jauh dan tidak akan pernah bertemu lagi, keluarga putri kecil menangis sedih dan menyesal karena tidak memberikan sepotong ikan kepadanya malam itu.

Putri kecil mendapatkan kebahagiannya di bulan dan tersenyum manis dalam kedamaian. Menurut penduduk Kerinci di masa lalu, bila memandang bulan purnama, akan tampak seorang putri yang sedang tersenyum ke bumi dengan cahayanya yang indah.

31
Jul
09

katak kecil dan ular kecil

Alkisah, ada seekor katak kecil yang sedang melompat-lompat di dekat semak-semak di tepi hutan, ketika dia melihat ada seekor makhluk panjang menjalar di dekatnya. Bentuknya panjang, kulitnya licin dan berwarna belang-belang.

“Hai, apa kabar?” katak kecil menyapa, “Apa yang sedang kamu kerjakan di situ?”

“Oh.. aku hanya menghangatkan tubuhku di bawah sinar matahari,” jawab makhluk itu. “Nama saya Ular Kecil, kamu siapa,” tanya makhluk yang ternyata adalah ular kecil.

“Nama saya Katak Kecil. Maukah kamu bermain dengan saya?”

Akhirnya Katak Kecil dan Ular Kecil bermain bersama di dekat semak-semak itu.

“Lihat apa yang bisa kulakukan,” kata Katak Kecil, “Aku bisa mengajarimu kalau kamu mau.” Kemudian dia mengajarkan kepada Ular Kecil bagaimana cara melompat.

“Aku juga bisa mengajarimu menjalar pakai perut,” kata Ular Kecil.

Mereka saling mengajari bagaimana mereka berjalan, sampai akhirnya perut mereka lapar dan mereka memutuskan untuk pulang.

“Besok ketemu lagi ya?” kata Katak Kecil.

“Iya, aku tunggu di sini,” jawab Ular Kecil.

Sesampainya di rumah, Katak Kecil mencoba mempraktikkan apa yang diajarkan oleh kawan barunya, Ular Kecil. Induk Katak terkejut dan bertanya, “Hai, siapa yang mengajarkan cara berjalan seperti itu?”

“Ular Kecil yang mengajariku, kami tadi bermain bersama di dekat semak-semak sana itu,” jawab Katak Kecil.

“Apa? Tidakkah kau tahu anakku, bahwa keluarga ular itu jahat. Mereka mempunyai racun di taringnya. jangan sampai Ibu melihat kamu bermain dengan mereka lagi, dan juga jangan pernah berjalan seperti itu lagi. Itu tidak baik,” Ibu Katak agak marah.

Sementara itu di rumah Ular, Ular Kecil juga mencoba cara berjalan seperti yang diajarkan oleh Katak Kecil. Ibu Ular terkejut dan bertanya, “Siapa yang mengajari kamu cara berjalan seperti itu?”

“Katak Kecil Bu, tadi kami main bersama di dekat semak-semak di sebelah sana itu.”

“Apa? Tidakkah kamu tahu bahwa keluarga Ular itu sudah sejak lama bermusuhan dengan keluarga Katak? Lain kali kalau kamu ketemu dengan mereka, tangkap dan makan saja. Dan jangan melompat-lompat seperti itu lagi. Ibu tak mau melihatnya.”

Keesokan harinya, Katak Kecil datang lagi ke tempat dimana dia bermain bersama Ular Kecil kemarin, namun dia hanya diam dan memandang dari kejauhan. Ular Kecil juga demikian, dia ingat pesan Ibunya, “Begitu dekat dia, tangkap dan makan.” Tapi sebenarnya dia ingin bermain seperti kemarin lagi.

“Katak Kecil, aku tidak bisa bermain seperti kemarin lagi,” dia berteriak kepada Katak Kecil.

“Aku juga tidak bisa,” sahut Katak Kecil dari kejauhan.

Akhirnya mereka berbalik dan menghilang di balik semak. Sejak itu mereka tidak pernah main bersama lagi. Tapi dalam ingatan mereka, bermain bersama waktu itu sangatlah menyenangkan.

04
Jul
09

burung tempua dan burung puyuh

Inilah fabel dari Riau yang bercerita tentang dua ekor burung yang belajar menghargai perbedaan. Burung Tempua dan Burung Puyuh yang awalnya bersahabat, berdebat tentang sarang yang paling baik. Masing-masing menganggap sarangnya yang paling baik. Namun pada akhirnya mereka menyadari bahwa setiap makhluk memiliki perbedaan yang harus dihargai.

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seekor burung Tempua (Manyar) dan burung Puyuh di daratan Tanah Melayu. Keduanya sangat akrab dan bersahabat sejak lama. Mereka saling menolong dan menyayangi. Pada siang hari, mereka sehilir semudik mencari makan bersama-sama. Suka-duka mereka jalani bersama. Kalau hujan sama berteduh, dan kalau panas sama bernaung. Namun, pada malam hari, mereka selalu berpisah. Mereka tidur di sarangnya masing-masing.

Suatu hari, Tempua dan Puyuh berselisih pendapat tentang sarang yang baik menurut mereka. Pertama-tama Tempua menceritakan sarangnya yang aman dan nyaman kepada Puyuh. “Aku memiliki sarang yang indah. Sarangku terbuat dari helaian alan-alang dan rumput kering. Helaian itu dijalin dengan rapi, sehingga aku tidak akan basah saat hujan, dan tidak kepanasan di kala terik. Aku menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk membuatnya,” kata Tempua menjelaskan pada Puyuh.

Setelah Tempua menceritakan kondisi sarangnya panjang lebar, sekarang giliran Puyuh menceritakan sarangnya yang praktis. “Aku memiliki sarang yang lebih praktis. Aku tidak perlu menghabiskan waktu untuk membuat sarang. Cukup dengan mencari batang pohon yang tumbang dan berlindung di bawahnya. Besok, aku akan pindah bersarang di tempat lain, agar musuh tidak tahu keberadaanku pada malam hari,” cerita Puyuh tak mau kalah.

Perdebatan mereka terus berlangsung. Setiap ada kesempatan di sela-sela mencari makan, mereka kembali berdebat tentang sarang. Karena perdebatan tidak ada habisnya, mereka kemudian sepakat untuk mencoba sarang masing-masing.

Pada malam pertama, Puyuh mencoba sarang Tempua. Karena tidak bisa terbang tinggi seperti Tempua, makan dengan susah payah Puyuh memanjat pohon tempat sarang Tempua tergantung. Sesampai di sarang Tempua, Puyuh terkagum-kagum melihat sarang Tempua. “Amboi….nyaman sekali sarangmu, Kawan! Kering dan bersih, juga rapi,” kata Puyuh kagum. “Aku yakin, kamu pasti akan tidur pulas,” sahut Tempua dengan bangganya.

Tak terasa malam telah larut. Puyuh merasa haus dan meminta minum pada Tempua. “Maaf, Kawan. Aku haus nih! Tapi, tidak mungkin aku turun mencari air dalam keadaan gelap gulita begini,” keluh Puyuh pada Tempua. Tempua hanya terdiam mendengar keluhan Puyuh. Merasa keluhannya tidak dihiraukan oleh Tempua, terpaksa Puyuh menahan rasa hausnya. Karena kelelahan seharian mencari makan, maka Puyuh pun akhirnya tertidur juga.

Tengah malam saat Puyuh dan Tempua tidur pulas, tiba-tiba angin bertiup sangat kencang. Pohon tempat arang Tempua bergoyang hebat, seakan-akan mau tumbang. Sarang Tempua pun terayun ke sana kemari. Puyuh menangis ketakutan. Ia juga muntah-muntah karena terombang-ambing bagaikan perahu di tengah laut dihempas oleh gelombang besar. Melihat kawannya ketakutan dan muntah-muntah, Tempua berusaha menenangkan hati Puyuh. “Tenanglah, Puyuh. Kita tidak akan jatuh. Sebentar lagi anginnya berhenti,” sahut Tempua menghibur Puyuh. Tak lama kemudian angin berhenti, mereka pun tidur kembali.

Keesokan harinya, mereka bangun pagi-pagi sekali. Sebelum keluar dari sarang, Puyuh berkata, “Kawan, aku tidak mau lagi tidur di sarangmu. Aku takut jatuh. Lagipula aku tidak bisa menahan haus.” Tempua diam saja. Ia memaklumi alasan Puyuh. Ia menyadari bahwa Puyuh tidak terbiasa tidur di tempat yang tinggi. Mereka kemudian mencari makan seperti biasanya. Mereka juga bermain bersama.

Setelah hari mulai gelap, Puyuh mengajak Tempua mencari pohon yang tumbang untuk dijadikan tempat bermalam. Setelah mencari ke sana kemari, akhirnya Puyuh menemukan sebuah pohon yang menurutnya cocok untuk tidur di bawahnya. Di dekat tempat itu mengalir parit yang dapat diambil airnya bila merasa haus. Suasana semakin gelap. Tempua pun mulai bingung. Dari tadi ia memerhatikan di sekitar tempat itu, ia tidak melihat sarang kawannya. Karena penasaran, Tempua pun bertanya kepada Puyuh, “Puyuh, dimana kita akan tidur malam ini?” Puyuh menjawab, “Di sini. Kita akan berlindung di bawah pohon ini,” jawab Puyuh sambil menunjuk tempat itu. Tempua semakin bingung, karena tempat yang ditunjuk Puyuh itu tidak terlihat ada sarang. “Di sini?” tanya Tempua dengan bingung. “Iya, di sini. Kita tidur di bawah pohon ini,” jawab Puyuh menegaskan. Tempua merasa tidak nyaman, tetapi ia harus mengikuti apa yang dilakukan oleh Puyuh untuk menghargainya.

Beberapa saat kemudian, Puyuh sudah tertidur pulas. Tetapi Tempua masih gelisah dan tidak bisa tidur. Ia hanya mondar-mandir di samping Puyuh. Namun karena kelelahan seharian mencari makan, Tempua pun tertidur. Baru saja ia memejamkan matanya, tiba-tiba hujan turun disertai petir yang menyambar-nyambar. Hujan itu membasahi tanah tempat Puyuh dan Tempua tidur. Keduanya pun terbangun. Tempua yang sudah basah kuyup itu mulai kedinginan. “Puyuh, aku kedinginan,” kata Tempua yang mulai menggigil. “Tidak apa-apa, kalau hujan reda tentu kamu tidak akan kedinginan lagi. Ayo tidur, besok kita harus bangun pagi-pagi mencari makan,” hibur Puyuh. Tak lama kemudian, hujan pun reda. Tempua kembali tidur di samping Puyuh yang sudah tidur pulas.

Keesokan harinya, Tempua mengeluh pada Puyuh bahwa ia tidak mau tidur lagi di sarang Puyuh. Demikian sebaliknya, Puyuh pun mengeluh. Ia berjanji tidak akan tidur lagi di sarang Tempua. Masing-masing merasa tidak cocok dengan sarang kawannya. Mereka kemudian memahami bahwa setiap makhluk mempunyai kesukaan dan kebiasaan yang tidak bisa dipaksakan. Walaupun berbeda, namun mereka tetap saling menghargai, karena mereka menganggap bahwa perbedaan itu adalah hal yang wajar. Keduanya juga tetap bersahabat. Setiap hari mencari makan bersama-sama dan saling tolong-menolong.

Teks cerita diambil dari ceritarakyatnusantara.com




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.